الْحَمْدُ للهِ اَلْحَمْدُ للهِ اَلَّذِي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَا شَرِيْكَ لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اَللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلى ألِه وَأصْحَابِه وَالتَّابِعينَ بِإحْسَانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ
Salah satu dosa besar yang sangat keras diperingatkan dalam Islam adalah kezaliman. Zhalim adalah tindakan melampaui batas, merampas hak orang lain, dan menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.
Para ulama menjelaskan bahwa kezaliman adalah ketika seseorang bertindak tidak adil dan tidak proporsional terhadap hak-hak yang seharusnya dijaga. Karena itu Allah SWT sangat keras memperingatkan manusia agar tidak melakukan kezaliman.
Dalam sebuah hadis qudsi Rasulullah saw bersabda:
يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا
Artinya: “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan betapa besar dosa kezaliman. Bahkan Allah SWT yang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak menyatakan bahwa Dia mengharamkan kezaliman atas diri-Nya, artinya Allah tidak pernah berbuat zalim kepada hamba-hamba-Nya.
Jika Allah yang Maha Kuasa saja tidak berbuat zalim, maka manusia yang lemah tentu lebih tidak pantas lagi melakukan kezaliman terhadap sesama.
Jamaah Shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Para ulama menjelaskan bahwa kezaliman ada dua bentuk besar.
Pertama, zhalim terhadap diri sendiri. Kezaliman terbesar terhadap diri sendiri adalah kesyirikan dan kemaksiatan kepada Allah. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِه وَهُوَ يَعِظُه يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِۗ اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
Artinya: “Dan Ketika Luqman berakat kepada anaknya, wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.” (QS Luqman: 13)
Setiap dosa pada hakikatnya adalah bentuk kezaliman manusia terhadap dirinya sendiri, karena dosa itu merusak kehidupan dunia dan akhiratnya.
Allah SWT berfirman:
وَمَا ظَلَمُوْنَا وَلٰكِنْ كَانُوْٓا اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ
Artinya: “Mereka tidak menzalimi Kami, tetapi mereka menzalimi diri mereka sendiri.” (QS Al Baqarah: 57)
Ayat ini menjelaskan bahwa ketika manusia bermaksiat kepada Allah, pada hakikatnya mereka tidak merugikan Allah sedikit pun. Yang mereka rusak adalah diri mereka sendiri, masa depan mereka, dan kehidupan mereka di akhirat kelak.
Kedua, zhalim terhadap orang atau kelompok lain. Kezaliman ini terjadi ketika pihak yang kuat menindas pihak yang lemah, seperti: penguasa menindas rakyat, orang kaya menindas orang miskin, kelompok kuat menindas kelompok lemah, negara kuat menindas negara yang lebih lemah.
Rasulullah saw mengingatkan tentang bahaya kezaliman ini. Beliau bersabda:
اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
Artinya: “Takutlah kalian terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada penghalang antara doa itu dengan Allah.” (HR. Bukhari-Muslim)
Hadis ini tidak menyebut secara spesifik pihak yang dizhalimi itu muslim atau bukan, akan tetapi maknanya umum, baik muslim maupun non muslim. Ketika orang yang terzhalimi itu berdoa maka doanya diijabah oleh Allah SWT. Inilah yang membuat kezaliman sangat berbahaya, karena doa orang yang terzalimi bisa menjadi sebab kehancuran bagi pelaku kezaliman itu sendiri.
Bahkan dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya: “Jauhilah kezaliman, karena kezaliman itu akan menjadi kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Muslim)
Artinya kezaliman tidak hanya membawa kerusakan di dunia, tetapi juga menjadi sebab kehinaan dan azab yang berat di akhirat.
Jamaah Shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Islam tidak membenarkan permusuhan dan peperangan kecuali untuk menghentikan kezaliman.
Dalam hal ini Allah SWT berfirman:
وَقٰتِلُوْهُمْ حَتّٰى لَا تَكُوْنَ فِتْنَةٌ وَّيَكُوْنَ الدِّيْنُ لِلّٰهِۗ فَاِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ اِلَّا عَلَى الظّٰلِمِيْنَ
Artinya: “Perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah dan agama (ketaatan) hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti (melakukan fitnah), tidak ada (lagi) permusuhan, kecuali terhadap orang-orang zalim.” (QS Al Baqarah: 193)
Ayat ini menegaskan bahwa jihad dalam arti peperangan adalah semata-mata untuk menghilangkan kezaliman dan melindungi orang-orang yang tertindas. Selain alasan ini maka tidak dibenarkan melancarkan peperangan dan permusuhan kepada pihak lain. Karena itu, tugas kaum beriman adalah menegakkan keadilan dan menolak kezaliman.
Hal ini juga didukung oleh ayat yang lain:
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاۤءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا مِنْ هٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ اَهْلُهَاۚ وَاجْعَلْ لَّنَا مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّاۚ وَاجْعَلْ لَّنَا مِنْ لَّدُنْكَ نَصِيْرًا
Artinya: “Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah dari (kalangan) laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berdoa, “Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.” (QS An-Nisa: 75)
Ayat ini menggambarkan bahwa salah satu tujuan utama jihad dalam Islam adalah membela kaum tertindas dan menghentikan kezaliman.
Jika kita melihat kondisi dunia saat ini, fenomena kezaliman tidak hanya terjadi dalam skala individu atau masyarakat, tetapi juga dalam tatanan politik global. Saat ini kita menyaksikan: negara kuat menindas negara yang lemah, intervensi militer tanpa legitimasi internasional, penyerangan terhadap negara berdaulat, serta standar ganda dalam hukum internasional.
Sepanjang sejarah hingga hari ini, negara-negara kuat menggunakan kekuatan militer dan ekonomi untuk memaksakan kepentingan geopolitiknya kepada negara-negara yang lemah.
Terlebih saat ini seluruh mata dunia melihat penindasan Israel terhadap rakyat Palestina. Serta sedang terjadi tindakan sewenang-wenang dan jelas-jelas melanggar hukum internasional oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap negara Iran yang berdaulat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam politik internasional sering kali hukum tidak ditegakkan secara adil. Negara yang kuat bisa bertindak semena-mena, sementara negara yang lemah sering tidak memiliki kekuatan untuk membela dirinya.
Namun seorang mukmin meyakini bahwa sejarah manusia tidak berjalan tanpa hukum. Allah memiliki sunnatullah dalam sejarah peradaban manusia.
Jika kita melihat perjalanan sejarah manusia, kita akan menemukan satu hukum yang selalu berulang: kezaliman tidak pernah bertahan selamanya. Allah SWT memiliki sunnatullah dalam sejarah, yaitu pergiliran kekuasaan dan peradaban.
Allah SWT berfirman:
وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَۤاءَۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ
Artinya: “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS. Ali Imran: 140)
Ayat ini mengajarkan bahwa tidak ada kekuasaan yang abadi, tidak ada kekuasaan dan kejayaan yang kekal, dan tidak ada kekuatan yang bisa bertahan jika dipenuhi kezaliman.
Sebagaimana kita saksikan sepanjang sejarah manusia betapa banyaknya penguasa-penguasa dan kerajaan-kerajaan zhalim yang dibinasakan oleh Allah SWT, bahkan ada yang tidak tersisa sedikit pun hingga hari ini.
Fir’aun dengan segala kekuasaannya akhirnya ditenggelamkan. Kaum ‘Ad dan Tsamud yang sangat kuat peradabannya akhirnya dihancurkan.
Begitu pula banyak imperium besar dalam sejarah yang runtuh ketika kezaliman merajalela di dalamnya.
Hal ini sesuai dengan firman Allah pada ayat yang lain:
وَكَذٰلِكَ اَخْذُ رَبِّكَ اِذَآ اَخَذَ الْقُرٰى وَهِيَ ظَالِمَةٌۗ اِنَّ اَخْذَه اَلِيْمٌ شَدِيْدٌ
Artinya: “Demikianlah siksaan Tuhanmu apabila Dia mengazab (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya siksaan-Nya sangat pedih lagi sangat berat.” (QS Huud: 102)
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah SWT.
Alhasil sampai di sini khotib ingin menyampaikan bahwa kezaliman tidak akan pernah abadi. Allah tidak akan membiarkan kezaliman merajalela di muka bumi. Ingatlah betapa banyak penguasa dan kerajaan adidaya ditumbangkan oleh Allah SWT akibat kezaliman mereka, tak terkecuali juga para penguasa muslim.
Karena itu seorang mukmin tidak boleh putus asa melihat kezaliman yang terjadi di dunia. Walaupun kezaliman tampak kuat hari ini, tetapi sejarah mengajarkan bahwa kekuatan yang dibangun di atas kezaliman pada akhirnya akan runtuh.
Saat ini yang paling mungkin kita lakukan adalah mendoakan kaum Muslimin yang dizalimi di mana saja mereka berada kiranya Allah memberikan kekuatan, kemenangan, dan kesabaran dalam menghadapi para tiran dan penguasa yang zalim.
Semoga Allah menolong orang-orang yang tertindas, mengangkat penderitaan mereka, dan menegakkan keadilan di muka bumi ini.
اللهم انصر المستضعفين من المسلمين في كل مكان
اللهم عليك بالظالمين فإنهم لا يعجزونك
اللهم أرنا في الظالمين عجائب قدرتك
بَارَكَ اللَّهُ لِىْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَاِيَّاكُمْ تِلاَ وَتَه اِنَّه هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ
الْحَمْدُ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَر.ِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ
KM. Imaduddin, M.Hum., Wakil Rais Syuriah PCNU Jakarta Utara

























