أَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ الزَّكَاةَ رُكْنًا لِلْإِسْلَامِ رَكِينًا، لِيَكُونَ الْمُزَكِّي مُحْسِنًا لِأَخِيهِ وَمُعِينًا، وَمُؤَازٍرًا لَهُ فِي حَيَاتِهِ وَضَمِينًا. فَيَتَبَادَلُونَ بَيْنَهُمُ الْحُبَّ الصَّمِيمَ، وَيَتَشَارَكُونَ بِالنَّفْعِ الْعَمِيمِ، وَيَسِيرُونَ مَعًا عَلَى الطَّرِيقِ الْقَوِيمِ.
أَشْهَدُ أَن لَّا إِلهَ إِلَّا الله، أَسْبَغَ نِعَمَهُ عَلَيكَ، وَأَمَرَكَ أَنْ تَمُدَّ بِالْخَيْرِ يَدَيكَ، فَقَالَ تَعَالَى: وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللهُ إِلَيكَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَصَفِيُّهُ وَخَلِيلُهُ وَأَنَّ بِالْوَحْيِ كُلَّ مَا يَقُولُهُ.
صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ خَيرِ صَحْبٍ وَآلٍ, وَسَلّمَ عَلَيْهِمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَاأَيُّهَا النَّاس، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاه، حَيْثُ قَالَ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيم.
Zumratal mu`minîn rahimakumullâh
Di antara hikmah dari kehendak absolut Allah SWT adalah Ia jadikan manusia berbeda-beda dalam berbagai hal, termasuk di antaranya adalah berbeda-beda di dalam pencapaian ekonominya. Ada yang Allah lebihkan, sebagian yang lain Allah kurangi. Ada yang kuat, dan sebagian yang lain lemah. Yang kuat secara ekonomi dapat memberikan manfaat untuk yang lemah. Sementara yang lemah dapat menerima manfaat dari yang kuat. Dengan demikian, keterikatan antara keduanya dapat terus berjalan, sehingga fenomena saling tolong menolong dapat terus lestari. Allah ciptakan keduanya untuk hidup berdampingan, dalam bingkai kolaborasi dan jalinan kohesi.
Di satu sisi Baginda Rasulullah Saw. bersabda:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ وَأَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٍ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دِينًا، أَوْ تُطْرَدُ عَنْهُ جُوعًا، وَلِأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ لِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ -يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ- شَهْرًا، وَمَنْ كَفَّ غَضَبَهُ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ كَظَمَ غَيْظَهُ، وَلَوْ شَاءَ أَنْ يُمْضِيَهُ أَمْضَاهُ، مَلَأَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَلْبَهُ أَمْنًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ مَشَى مَعَ أَخِيهِ فِي حَاجَةٍ حَتَّى أَثْبَتَهَا لَهُ أَثْبَتَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَدَمَهُ عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تَزِلُّ فِيهِ الْأَقْدَامُ (الطبراني ,المعجم الأوسط)
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa ada seorang laki-laki yang mendatangi Rasulullah Saw. Ia berkata: Wahai Rasulullah, manusia apa yang paling dicintai oleh Allah? Dan amal apa yang paling dicintai oleh Allah ‘Azza wa Jalla? Rasulullah Saw. menjawab: Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, sedangkan amal yang paling dicintai oleh Allah adalah kebahagiaan yang engkau diberikan kepada diri seorang muslim atau engkau menghilangkan kesulitannya atau engkau melunasi hutangnya atau membebaskannya dari kelaparan. Dan sesungguhnya (jika) aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi satu hajat/keperluan hal itu lebih aku sukai daripada aku beri’tikaf di masjid ini -yaitu Masjid Madinah (Nabawi)- selama sebulan. Dan barangsiapa yang meninggalkan amarahnya, niscaya Allah akan tutup aurat (aib atau kesalahan)-nya. Barangsiapa yang menahan amarahnya padahal ia mampu melampiaskannya, niscaya Allah ‘Azza wa Jalla akan memenuhi hatinya dengan rasa aman pada hari kiamat. Barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk menunaikan satu keperluan hingga keperluan itu dapat ia tunaikan untuk (saudara)-nya itu, niscaya Allah ‘Azza wa Jalla akan mengokohkan kakinya di atas Shirath pada hari dimana banyak kaki yang tergelincir darinya (HR. At-Thabraniy di dalam al-Mu’jam al-Ausath).
Di sisi lain, Baginda Nabi Saw. juga bersabda:
عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ: رَأَى سَعْدٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ لَهُ فَضْلًا عَلَى مَنْ دُونَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ (رواه البخاري)
Dari Mush’ab bin Sa’ad berkata: Sa’ad ra. menyangka dirinya memiliki kelebihan melebihi sahabat-sahabat lainnya (orang-orang yang miskin dan lemah. Lalu Nabi Saw. bersabda: Bukankah kalian ditolong dan diberi rezeki semata-mata karena orang-orang lemah diantara kalian?! (HR. Al-Bukhari)
Ma’âsyiral muslimîn akramakumullâh
Di antara instrumen ibadah sosial yang merupakan salah satu dari pondasi (rukun) Islam adalah zakat, baik zakat fitrah, zakat harta ataupun zakat profesi. Yang perlu disadari oleh orang-orang yang wajib menunaikan zakat, bahwa zakat yang ia tunaikan itu bukan bentuk kebaikan hatinya kepada orang lain, tapi ia tunaikan zakat tersebut karena memang di dalam sebagian harta yang ia miliki pada hakikatnya ada yang bukan hak miliknya, tapi justru milik para pihak yang berhak menerima zakat. Allah SWT berfirman:
وَالَّذِيْنَ فِيْۤ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُوْمٌ. لِّلسَّآئِلِ وَالْمَحْرُوْمِ
Dan orang-orang yang di dalam hartanya ada hak bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan yang tidak meminta. (QS. Al-Ma’arij: 24-25)
Jamaah shalat Jum’at yang berbahagia
Di dalam penggalan Surah At-Taubah ayat 103 Allah SWT berfirman:
خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا…
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, yang dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka….
As-Syeikh Sayyid Sabiq dalam Fiqh as-Sunnahnya, jilid 1 halaman 277, berkata bahwa arti membersihkan dan mensucikan mereka di dalam ayat tersebut adalah membersihkan diri dari dosa serta noda dan mensucikan jiwa dari kekikiran, kerakusan serta ketamakan, sehingga kemudian dapat mencapai derajat ikhlas, sebagai mana yang ditambahkan oleh al-Imam Abu Ja’far Muhammad ibnu Jarir at-Thabariy di dalam karya tafsirnya, Jâmi’ul Bayân fî Ta`wîli Âyil Qur`ân, jilid 11 halaman 22.
Hal ini penting untuk kita bahas, kerena banyak di antara kita yang salah dalam memahami ayat di atas, khususnya dua kata yaitu “membersihkan” dan “mensucikan”. Misalnya, saya akan merasa tenang-tenang saja untuk melakukan korupsi, manipulasi, gratifikasi, mark up, atau jenis tipu daya lainnya untuk mendapatkan uang atau harta secara haram, toh harta haram yang saya dapatkan itu dapat dibersihkan sehingga menjadi halal dengan cara membayar zakat atau shadaqah dari sebagian kecil harta haram tersebut.
Contoh di atas adalah sebuah kesalahpahaman yang fatal di dalam memahami ayat tersebut. Mungkin terjadi akibat dari ketidaktahuan, atau boleh jadi justru sebagai semacam exuse atau alasan pembenaran yang dilandasi hawa nafsu setan.
Rasulullah Saw. bersabda:
لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ. (رواه مسلم والترمذي وابن ماجه)
Dari Ibni Umar ra., ia berkata: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Tidak akan diterima shalat tanpa bersuci, juga tidak akan diterima shadaqah (zakat) yang berasal dari harta hasil manipulasi (HR. Muslim, at-Tirmidzi, Ibnu Majah)
Lebih tegas lagi, Nabi Saw. bersabda:
وَلَا يَكْسِبُ عَبْدٌ مَالًا مِنْ حَرَامٍ، فَيُنْفِقَ مِنْهُ فَيُبَارَكَ لَهُ فِيهِ، وَلَا يَتَصَدَّقُ بِهِ فَيُقْبَلَ مِنْهُ، وَلَا يَتْرُكُ خَلْفَ ظَهْرِهِ إِلَّا كَانَ زَادَهُ إِلَى النَّارِ، إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَمْحُو السَّيِّئَ بِالسَّيِّئِ، وَلَكِنْ يَمْحُو السَّيِّئَ بِالْحَسَنِ، إِنَّ الْخَبِيثَ لَا يَمْحُو الْخَبِيثَ (رواه أحمد)
Dari Ibnu Mas’ud ra., Nabi Saw. bersabda: Jika seorang hamba memperoleh harta dari jalan yang haram kemudian ia menafkahkannya, maka ia tidak akan diberkahi, jika ia sedekahkan harta itu, maka tidak akan diterima sedekahnya (oleh Allah), jika ia simpan harta itu maka hanya akan menjadi bekalnya menuju ke neraka. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak menghapus yang buruk (dosa) dengan menggunakan yang buruk (harta yang haram). Namun Allah menghapus yang buruk (dosa) dengan yang baik (harta yang halal). Sesungguhnya yang kotor tidak dapat menghapus (membersihkan) yang kotor. (HR. Ahmad)
Jamaah Jum’at yang mulia
Shadaqah, infaq, zakat, haji atau ibadah lainnya yang kita harapkan dapat mensucikan diri kita harus berasal dari harta yang halal. Mungkinkah kita berwudhu dengan air comberan yang kotor, bau lagi menjijikan?!
Demikianlah, semoga puasa Ramadhan dan segala amal ibadah yang kita jalani dapat menjadikan kita termasuk minal â’idîn, termasuk orang-orang yang dapat kembali kepada fitrah kesuciannya), sehingga Idul Fitri nanti dapat kita rayakan bukan sekadar dengan pakaian baru, tapi jauh lebih esensial dari itu, yaitu dengan kesadaran baru untuk menjauhkan diri dari segala yang dilarang oleh Allah SWT, amin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيم. وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيم. وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ, إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيم. أَقُولُ قَوْلِي هذَا, وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُؤْمِنِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ, فَاسْتَغْفِرُوه…إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيم.
أَلْحَمْدُ للهِ ذِى الْعَظَمَةِ وَالْجَلَال, أَلَّذِى قَدَّرَ الْأَعْمَارَ وَحَدَّدَ الآجَال, وَأَمَرَنَا بِالْعِبَادَةِ وَصَالِحِ الْأَعْمَال. أَشْهَدُ اَن لَّا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَه, جَعَلَ الدُّنْيَا مَزْرَعَةً لِلْآخِرَة, وَمَكْسَبَ زَادٍ لِلْحَيَاةِ الْفَاخِرَة, لِلْخَلَاصِ مِنَ الْأَهْوَالِ الْقَاهِرَة. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه, أَلَّذِى حَذَّرَنَا مِنَ الدُّنْيَا دَارِ الدّوَاهِى, وِمَكَانِ الْمَعَاصِى وَالْمَلَاهِى. صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ الْكِرَام, وَأَصْحَابِهِ هُدَاةِ الْأَنَامَ, وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
أَيُّهاَ النَّاس, إِتَّقوُا اللهَ حَقَّ تَقْوَاه, وَرَاقِبُوهُ مُرَاقَبَةَ مَنْ يَعْلَمُ أَنَّهُ يَرَاه.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي مُحْكَمِ تَنْزِيلِه: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. صَدَقَ اللهُ الْعَظَيم.
أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد, كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيم وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيم, فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيد.
أَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَات, وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَات, أَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات, إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَات, يِا قَاضِيَ الْحَاجَات.
رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَ هَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَة, وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَار.
عِبَادَ الله, إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَان, وَإِيتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَ الْبَغي,يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُون.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ, وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم, وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ, وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر. وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُون. أَقِمِ الصَّلَاة.
KH. A. Muzaini Aziz, Lc., MA., Penulis adalah Ketua Bidang Pendidikan, Kaderisasi dan Riset PP LADISNU (Pengurus Pusat Lajnah Dakwah Islam Nusantara) Jakarta dan Ketua Yayasan Al-Mu’in, Kota Tangerang.
Naskah Khutbah Jumat dalam bentuk PDF dapat di download dengan Klik tautan disini

























