اَلْحَمْدُ للهِ اَلْحَمْدُ للهِ اَلَّذِي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَا شَرِيْكَ لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اَللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلى ألِه وَأصْحَابِه وَالتَّابِعينَ بِإحْسَانِ إلَى يَوْمِ الدِّين،
أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالى فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hadirin jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah
Islam tidak hanya mengenal dimensi ritual, syariat, atau eksoterik yang berbicara tentang sah dan tidaknya suatu ibadah. Islam lebih jauh mengajarkan dimensi batin, hakikat, atau esoterik, yaitu persoalan diterima atau tidaknya ibadah di sisi Allah. Dimensi inilah yang sering dilupakan manusia.
Banyak orang hanya mengejar aspek lahiriah, tetapi melupakan aspek batiniah. Pokoknya yang penting ibadahnya sah: shalatnya sah, puasanya sah, zakatnya sah, tetapi tidak memandang apakah seluruh rangkaian ibadahnya diterima atau tidak di sisi Allah SWT.
Akibatnya agama menjadi kering dari penghayatan. Ia tidak menjelma menjadi nilai-nilai, dan tidak mampu mengubah perilaku manusia.
Muncul istilah yang sering kita dengar: STMJ (Shalat Terus Maksiat Jalan). Ia mampu menahan lapar dan haus, tetapi tidak mampu menahan godaan harta haram, kebohongan, atau kezaliman.
Dalam hal puasa, Rasulullah saw menggambarkan orang-orang seperti ini sebagai hanya mendapatkan lapar dan haus, tanpa mendapatkan nilai dari puasanya. Artinya, puasanya tidak berdampak pada perubahan perilaku dan batiniah. Rasulullah saw bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan haus.”
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi mencapai takwa, yaitu kondisi batin yang hidup, sadar akan Allah, dan tercermin dalam perilaku.
Secara bahasa, takwa berarti menjaga diri dari sesuatu yang membahayakan, baik di dunia maupun di akhirat. Secara syariat, takwa adalah mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Artinya, takwa adalah kesadaran batin yang mendorong seseorang menjaga diri dari segala yang dimurkai Allah, baik dalam aspek lahir maupun batin.
Menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin, kalbu adalah pusat perbuatan manusia. Jika kalbunya bersih, maka bersih pula seluruh perilakunya. Ia mengibaratkan kalbu sebagai raja, sementara pancaindra dan anggota tubuh adalah bala tentaranya. Akal adalah perdana menterinya (wazir), sedangkan nafsu adalah musuhnya.
Kalbu yang bertakwa adalah kalbu yang mengikuti nasihat wazirnya, yaitu akal yang jernih. Sementara kalbu yang penuh dosa akan mengikuti bujukan hawa nafsunya.
Dari sini kemudian bisa diambil Kesimpulan bahwa sasaran dari puasa adalah adalah tazkiyatun nafs, membersihkan hati karena takwa takkan bisa dicapai kecuali dengan harti yang bersih, bersih dari riya, dengki, kesombongan; dan menumbuhkan sifat jujur, sabar, dan kasih sayang.
Karena itu para sufi mengklasifikasi puasa menjadi tiga tingkatan:
Pertama, puasa orang awam, yaitu puasa yang hanya menahan makan, minum, dan syhawat;
Kedua, puasa orang khusus, yaitu tidak hanya sekedar menahan lapar, haus, dan syahwat, tapi menahan seluruh anggota tubuh dari maksiat;
Ketiga, puasa khusus dari yang khusus yaitu puasa hati dari segala sesuatu selain Allah.
Puasa dalam pandangan para ahli tasawuf bukan berarti harus mengasingkan diri, meninggalkan pekerjaan, atau menjauh dari aktivitas dunia.
Dalam manaqib Imam Abu al-Hasan asy-Syadzili diceritakan:
Suatu hari seorang murid datang kepada Imam Syadzili. Murid itu berkata: “Wahai tuanku, aku ingin mendekat kepada Allah. Aku ingin berpuasa terus-menerus dan meninggalkan pekerjaan dunia.”
Sang guru menatap muridnya dengan penuh kasih, lalu berkata: “Jika engkau meninggalkan pekerjaanmu, lalu siapa yang memberi makan keluargamu? Jika engkau melemahkan tubuhmu, lalu bagaimana engkau beribadah dengan kuat?”
Kemudian beliau berkata:
ليس المقصود إماتة الأبدان، وإنما المقصود حياة القلوب
Artinya: “Yang dimaksud bukan mematikan jasad, tetapi menghidupkan hati.”
Beliau melanjutkan nasihatnya: “Bekerjalah, makanlah secukupnya, bergaullah dengan manusia, dan puasalah dengan hati yang hadir kepada Allah. Itulah jalan para wali.”
Nasihat Imam Syadzili ini menunjukkan bahwa puasa bukanlah penghalang untuk tetap produktif. Justru puasa harus menjadi energi spiritual yang memperbaiki akhlak, meningkatkan kejujuran, memperkuat amanah, dan menjadikan kita pribadi yang lebih bermanfaat bagi orang lain.
Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah
Marilah kita jadikan ibadah puasa bukan sekadar sah secara hukum, tetapi juga diterima di sisi Allah. Jangan sampai kita hanya mendapatkan lapar dan haus, tanpa mendapatkan rahmat, ampunan, dan perubahan diri.
Semoga puasa yang kita jalani benar-benar mengantarkan kita menjadi hamba-hamba yang bertakwa, yang tidak hanya baik dalam ibadah, tetapi juga mulia dalam akhlak.
اللهم اجعل صيامنا صيام المقبولين، وقيامنا قيام المرحومين، ولا تجعلنا من المحرومين.
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah puasa kami puasa orang-orang yang Engkau terima, jadikan qiyam kami qiyam orang-orang yang Engkau rahmati, dan jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang merugi”
بَارَكَ اللَّهُ لِىْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَاِيَّاكُمْ تِلاَ وَتَه اِنَّه هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ،
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرْ
KM. Imaduddin, M.Hum., Wakil Rais Syuriah PCNU Jakarta Utara
Naskah khutbah Jumat dalam bentuk PDF dapat di download dengan Klik tautan disini.

























