اَلْحَمْدُ للهِ اَلْحَمْدُ للهِ اَلَّذِي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَا شَرِيْكَ لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اَللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمّدٍ وَعَلى ألِه وَأصْحَابِه وَالتَّابِعينَ بِإحْسَانِ إلَى يَوْمِ الدِّين،
أَمَّا بَعْدُ: فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالى فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Hadirin jama’ah shalat Jumat yang dimuliakan Allah.
Banyak orang memahami Ramadan hanyalah bulan ritual. Ramadhan hanya diisi aktivitas ritual seperti puasa, tarawih, tadarus, dan sedekah. Akan tetapi jika kita menyelami sejarah peradaban Islam dan merenungi makna bulan ini secara mendalam, maka Ramadhan bukan hanya sekedar bulan ritual, tetapi bulan energi spiritual untuk meraih kemenangan dan melakukan transformasi sosial.
Ramadan adalah Bulan Kemenangan
Dalam sejarah Islam banyak peristiwa besar yang mengubah sejarah dunia terjadi di bulan Ramadhan.
Perang Badar terjadi pada 17 Ramadan tahun 2 Hijriah. Kaum Muslimin hanya berjumlah sekitar 313 orang, menghadapi pasukan Quraisy yang tiga kali lipat lebih besar. Secara logika militer tentu mustahil kaum muslimin menang, akan tetapi bekat kesabaran dan keimanan yang tinggi kepada Allah dan rasulnya mereka memenangkan perang tersebut.
Allah melukiskan kemenangan yang menentukan dakwah Islam di masa berikutnya tersebut dalam firman-Nya:
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّٰهُ بِبَدْرٍ وَّاَنْتُمْ اَذِلَّةٌۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Artinya: “Dan sungguh Allah telah menolong kamu dalam (Perang) Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah.” (Ali Imran: 123)
Peristiwa monumental berikutnya yang mengubah arah sejarah adalah Fathu Makkah, pembebasan Kota Mekkah.
Sebuah kemenangan besar kaum Muslimin tanpa pertumpahan darah. Peristiwa ini terjadi pada 20 Ramadhan tahun 8 Hijriah.
Fathu Mekkah merupakan puncak daripada perjuangan kaum Muslimin fase awal dimana setelah itu berbondong-bondong manusia masuk Islam karena pertolongan dari Allah SWT.
اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ وَرَاَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِيْ دِيْنِ اللّٰهِ اَفْوَاجًاۙ
Artinya: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.” (An Nashr: 1-2)
Pertempuran besar yang mengubah arah sejarah berikutnya pasca wafatnya Rasulullah saw adalah pertempuran Qadisiyah antara Pasukan Islam dengan pasukan Sassaniah dari Imperium Persia. Terfjadi pada Bulan Ramadhan tahun 14 H/636 M di masa Khalifah Umar bin Khattab. Panglima besar pasukan Islam dijabat oleh Sa’ad bin Abi Waqqas.
Kemenangan besar pasukan Muslimin ini menandai runtuhnya imperium besar Persia, serta membuka jalan penyebaran Islam ke kawasan Asia Tengah dan Transoxania. Dari sana kemudian Islam terus menyebar hingga ke China, Asia Selatan (India dan anak benua India) hingga sampai ke Nusantara.
Penaklukan Andalusia pada tahun juga terjadi di bulan Ramadhan tahun 92 H. /711 M
Pasukan Islam yang dipimpin oleh Jenderal Thariq bin Ziyad dari Bani Umayah II di Maroko menyeberangi Selat Gibraltar mengalahkan Raja Roderick dari Visigoth. Pembebasan Andalusia membuka jalan bagi peradaban Islam di Spanyol selama hampir 8 abad. Bahkan nama Gibraltar sendiri berasal dari Jabal Tariq (Gunung Thariq).
Sejarah juga mencatat Pembebasan Baitul Maqdis (Yerusalem) pada 583 H/1187 M, sebuah kemenangan besar pasukan muslimin atas Tentara Salib dalam Perang Hittin juga terjadi menjelang bulan Ramadhan.
Selanjutnya pada bulan Ramadhan, pasukan Muslimin yang dipimpin Sultan Shalahuddin Al Ayubi dari Dinasti Ayyubiyah di Mesir membebaskan kota-kota penting lainnya dan mengakhiri dominasi Tentara Salib selama hampir 90 tahun di Yerusalem.
Peristiwa besar selanjutnya adalah Perang Ain Jalut yang terjadi pada tanggal 25 Ramadhan 658 H / 3 September 1260.
Pertempuran bersejarah ini berlangsung di Lembah Yizreel, Galilea, Palestina, di mana pasukan Mamluk Mesir yang dipimpin oleh Sultan Saifuddin Qutuz berhasil mengalahkan pasukan Mongol untuk pertama kalinya secara permanen.
Pertempuran ini menandai berakhirnya ekspansi Mongol ke arah barat (Mesir) dan menyelamatkan peradaban Islam di wilayah tersebut.
Pengepungan Konstatinopel yang terjadi pada 1453 M oleh Sultan Muhammad Al Fatih dari Utsmaniyah (Ottoman) juga terjadi pada bulan Ramadhan. Konstantinopel adalah ibukota Kekasisaran Bizantiyum (Romawi Timur) yang telah berdiri selama seribu tahun. Kota ini sangat sulit ditaklukkan karena memiliki tembok pertahanan berlapis-lapis yang amat kuat.
Rasulullah saw telah mengisyaratkan pembebasan Konstantinople dalam sebuah hadisnya:
لَتُفْتَحَنَّ الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ، فَلَنِعْمَ الأَمِيرُ أَمِيرُهَا، وَلَنِعْمَ الْجَيْشُ ذَلِكَ الْجَيْشُ
Artinya: “Sungguh, Konstantinopel pasti akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan itu.” (HR. Ahmad, Hakim, dan Al Bazzar)
Beberapa penguasa Islam sejak masa Khulafaurrasyidin mencoba membuktikan hadis ini, namun pada akhirnya selalu gagal. Di masa Khalifah Usman pernah dilakukan ekspedisi yang dipimpin oleh Sahabat Abu Ayyub Al Nashari, namun gagal.
Begitu juga pada masa Bani Umayah, Abbasiyah, Mamluk, hingga Ayyubiyah selalu berakhir dengan kegagalan. Akhirnya pada tahun 1453 M seorang Sultan Muda berusia 21 tahun yang shaleh dari Ottoman bernama Muhammad atau Mehmed II berhasil menaklukkan Kontstantinopel dan mengakhiri Kekaisaran Romawi Bizatiyum yang telah berdiri seribu tahun.
Nama Konstantinopel (berasal dari Konstantin, Kaisar Romawi yang membangun kota ini) ia ganti menjadi Islambul (Kota Islam), kemudian pada masa Kemal At Taturk diganti lagi menjadi Istanbul.
Hadirin jama’ah shalat Jumat yang dimuliakan Allah..
Dari narasi sejarah di atas maka dipahami bahwa puasa tidak membuat pasukan kaum Muslimin menjadi lemah. Secara fisik puasa memang melemahkan tubuh. Kita menahan lapar, haus, dan keinginan. Tetapi justru di situlah letak rahasianya: ketika jasmani dan hawa nafsu dikendalikan, maka ruhani menjadi kuat. Inilah maksud dari tujuan puasa, yakni membentuk pribadi yang takwa.
Takwa bukan sekadar rasa takut kepada Allah, tetapi kesadaran penuh bahwa Allah selalu mengawasi. Kesadaran inilah yang melahirkan integritas. Seseorang yang mampu menahan diri dari makan dan minum yang halal karena Allah, seharusnya lebih mampu menahan diri dari yang haram.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menjelaskan bahwa dominasi syahwat merupakan penghalang cahaya hati. Ia menyatakan bahwa jiwa manusia memiliki kecenderungan untuk tunduk pada dorongan biologis, dan puasa berfungsi melemahkan dominasi tersebut agar hati lebih peka terhadap cahaya ilahi.
Yang menarik, energi Ramadhan tidak berhenti pada level pribadi. Ia meluas menjadi energi sosial. Di bulan ini, solidaritas meningkat. Orang yang biasa cuek menjadi peduli. Sedekah bertambah. Zakat ditunaikan. Masjid hidup. Empati tumbuh karena semua merasakan lapar yang sama. Inilah transformasi penting, ialah energi spiritual berubah menjadi kekuatan sosial.
Perubahan sosial selalu dimulai dari perubahan batin. Ramadhan adalah laboratorium perubahan batin itu.
Hadirin jama’ah shalat Jumat yang dimuliakan Allah.
Mengakhiri khutbah ini, ada pertanyaan untuk Kita. Setiap Ramadhan datang membawa energi yang sama. Tetapi hasilnya berbeda-beda, tergantung bagaimana kita menyambutnya.
- Apakah Ramadan hanya mengubah jadwal makan kita?
- Ataukah ia benar-benar mengubah karakter kita?
- Apakah setelah Ramadan kita kembali pada kebiasaan lama?
- Ataukah kita keluar sebagai pribadi yang lebih jujur, lebih sabar, dan lebih peduli?
Ramadan adalah momentum. Ia seperti arus listrik besar yang mengalir sebulan penuh. Jika kita menyambungkannya ke hati dan kehidupan kita, ia akan menghidupkan perubahan. Jika tidak, ia akan berlalu tanpa menyisakan apapun. Ramadhan selalu membawa energi kemenangan, tetapi kemenangan itu hanya diraih oleh mereka yang benar-benar ingin berubah.
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ
Artinya: “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka..” (Ar Ra’d: 11)
بَارَكَ اللَّهُ لِىْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَاِيَّاكُمْ تِلاَ وَتَه اِنَّه هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللّٰهِ ! إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
KM. Imaduddin, M.Hum., Wakil Rais Syuriah PCNU Jakarta Utara
Naskah khutbah Jumat dalam bentuk PDF dapat di download dengan Klik tautan disini.

























