PALU | LIPUTAN9NEWS
Dampak konflik antara Iran melawan AS–Israel semakin hari semakin meresahkan. Perundingan yang tak kunjung mencapai kesepakatan justru menambah ketegangan di antara kedua belah pihak. Perang ini jelas merugikan banyak sektor, dan salah satu dampak yang kini kita rasakan adalah krisis energi.
Pemerintah tentu telah melakukan berbagai upaya untuk menangani kondisi ini. Masyarakat terus diimbau agar tetap tenang dan tidak panik. Namun, realitanya imbauan tersebut sulit meredam keresahan, terutama di tengah kenaikan harga BBM dan gas elpiji nonsubsidi, serta naiknya harga bahan baku plastik yang turut mengganggu pelaku UMKM. Alih-alih mereda, berbagai permasalahan ini justru menambah kekhawatiran di tengah masyarakat.
Padahal, dengan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia seharusnya memiliki banyak alternatif untuk menghadapi dampak krisis energi saat ini. Kita memiliki ilmuwan, lahan, dan sumber daya alam yang cukup untuk mempersiapkan ketersediaan energi, bahkan menuju kemandirian energi di masa depan tanpa bergantung pada impor bahan mentah dari luar.
Melihat kenaikan harga BBM nonsubsidi, energi biofuel atau bahan bakar nabati dapat menjadi salah satu solusi yang relevan untuk menunjang kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Secara umum, terdapat tiga jenis utama biofuel.
Pertama, biodiesel, yaitu bahan bakar yang terbuat dari minyak nabati seperti kelapa sawit, kedelai, dan minyak goreng bekas, yang biasa digunakan untuk mesin diesel.
Kedua, bioetanol, yang dihasilkan dari bahan berpati atau bergula seperti tebu, jagung, dan singkong, dan umumnya dicampur dengan bensin.
Ketiga, biogas, yaitu gas yang dihasilkan dari fermentasi kotoran atau sampah organik, yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar rumah tangga maupun pembangkit listrik.
Dari ketiga jenis biofuel tersebut, bahan bakunya sebenarnya sangat melimpah dan bahkan sering kali tersedia secara cuma-cuma di sekitar kita. Maka, pertanyaannya bukan lagi “apakah kita mampu?”, melainkan “apakah kita mau?”—baik dari sisi individu maupun pemerintah. Inovasi seperti biofuel ini sebenarnya sudah banyak dirintis oleh masyarakat, namun masih minim perhatian dan dukungan dari pemerintah. Padahal, momentum krisis ini bisa menjadi titik awal untuk menjadikan biofuel sebagai alternatif, bahkan pengganti bahan bakar fosil.
Khususnya di Kota Palu, berdasarkan data SIPSN, produksi sampah mencapai sekitar 79 ribu ton per tahun, atau lebih dari 200 ton per hari, yang sebagian besar didominasi oleh sampah organik. Ini merupakan potensi besar yang dapat diolah menjadi biofuel.
Inilah yang sedang dilakukan oleh beberapa mahasiswa di bawah bimbingan Pak Muhammad Sadig, salah satu dosen UIN Datokarama Palu yang mengajar di Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam. Mereka mengurai dan mengelola sampah organik melalui budidaya maggot. Dari proses ini, maggot yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena kandungan proteinnya yang tinggi.
Lebih lanjut, hasil dari budidaya tersebut tidak berhenti pada pakan saja. Sisa media pengolahan dapat dimanfaatkan kembali sebagai media tanam yang memiliki khasiat dalam menyuburkan tanah. Dengan demikian, satu proses pengelolaan mampu menghasilkan manfaat berlapis: mengurangi sampah, menyediakan pakan ternak, sekaligus mendukung sektor pertanian.
Inilah bentuk nyata dalam merespons perintah Presiden Prabowo Subianto untuk melawan sampah, juga amanat ekoteologi Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar, serta imbauan Wali Kota Palu Hadianto Rasyid terkait pengelolaan sampah.
“Upaya ini sudah berlangsung selama tiga tahun tanpa sentuhan dari pemerintah,” ujar Sadig dalam wawancara bersama Athif Muhyiddin Hishad (mahasiswa sekaligus Ketua HMJ-KPI UIN Datokarama Palu tahun 2025).
Harapannya, pemerintah dapat bersinergi dengan masyarakat dalam mengembangkan energi terbarukan ini. Sesuatu yang awalnya dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi sumber daya yang sangat berharga. Tanpa kolaborasi dan perhatian serius dari pemerintah, akan sulit bagi kita untuk mewujudkan harapan tersebut.

























