JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Suasana Subuh di Masjid Istiqlal, Jakarta, diisi dengan kajian keislaman bersama Sayidil Habib Umar bin Hafidh. Dalam kesempatan tersebut, KH Ma’ruf Khozin, Pengurus MUI Jawa Timur sekaligus Ketua Aswaja Center Jawa Timur, mendapat kesempatan untuk ketiga kalinya membaca kitab di hadapan ulama asal Yaman tersebut.
KH Ma’ruf Khozin membagikan pengalamannya melalui keterangan tertulis dalam akun medsosnya, Senin (12/10/2026). Ia mengungkapkan rasa syukur karena kembali dipercaya membaca kitab dalam majelis ilmu bersama Habib Umar bin Hafidh.
Dalam mukadimah kajian, Habib Umar menyampaikan keutamaan waktu pagi yang penuh keberkahan, sebagaimana doa Rasulullah SAW:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا
Artinya: “Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu pagi mereka.” Doa tersebut diriwayatkan oleh sejumlah ahli hadis, di antaranya Imam at-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah.
KH Ma’ruf Khozin selanjutnya menyampaikan bahwa di waktu Subuh ini digunakan dengan ilmu, memiliki keutamaan tersendiri, sebagaimana hadis:
عن ﺃﻣﺎﻣﺔ ﻋﻦ اﻟﻨﺒﻲ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻗﺎﻝ: ” «ﻣﻦ ﻏﺪا ﺇﻟﻰ اﻟﻤﺴﺠﺪ ﻻ ﻳﺮﻳﺪ ﺇﻻ ﺃﻥ ﻳﺘﻌﻠﻢ ﺧﻴﺮا ﺃﻭ ﻳﻌﻠﻤﻪ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ ﻛﺄﺟﺮ ﺣﺎﺝ ﺗﺎﻣﺎ ﺣﺠﺘﻪ» ” ﺭﻭاﻩ اﻟﻄﺒﺮاﻧﻲ ﻓﻲ اﻟﻜﺒﻴﺮ، ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﻣﻮﺛﻘﻮﻥ ﻛﻠﻬﻢ.
Menurut KH Ma’ruf Khozin, waktu Subuh yang digunakan untuk menuntut ilmu juga memiliki keutamaan tersendiri. Ia mengutip hadis riwayat Imam ath-Thabrani dari Abu Umamah tentang orang yang datang ke masjid dengan tujuan mempelajari atau mengajarkan kebaikan.
Hadis tersebut menjelaskan keutamaan orang yang menuntut ilmu atau mengajarkannya di masjid, dengan pahala yang diumpamakan seperti pahala orang yang menunaikan ibadah haji secara sempurna.
Dalam kajian tersebut, KH Ma’ruf Khozin mendapat giliran membaca bagian kedua dari kitab Qami’ Thughyan karya Syekh Nawawi al-Bantani. Materi yang dibacanya berkaitan dengan pentingnya menjauhkan diri dari makanan haram.
Setelah pembacaan kitab, Habib Umar bin Hafidh menekankan bahwa kehati-hatian terhadap apa yang dikonsumsi merupakan salah satu fondasi penting dalam kehidupan beragama.
Pesan tersebut menegaskan bahwa seorang Muslim tidak cukup hanya memperhatikan ibadah secara lahiriah, tetapi juga perlu memastikan makanan dan penghasilannya terhindar dari perkara haram maupun syubhat.
Dalam penjelasannya, Habib Umar juga mengutip sebuah riwayat yang berbunyi:
لِكُلِّ شَيْءٍ أَسٌّ وَأَسُّ الْإِيمَانِ الْوَرَعُ
Artinya, “Segala sesuatu memiliki dasar, dan dasar keimanan adalah sikap wara’.”
Riwayat tersebut dinisbatkan kepada Ibnu Abbas dan disebut dalam riwayat Ibnu Asakir. Wara’ dalam konteks ini berarti sikap berhati-hati dengan menjauhi perkara yang meragukan, terlebih sesuatu yang diharamkan.
Pengalaman KH Ma’ruf Khozin dalam majelis tersebut menjadi pengingat tentang pentingnya menghidupkan waktu pagi dengan kegiatan yang bermanfaat, khususnya membaca kitab, mengkaji ilmu agama, dan mendengarkan nasihat para ulama.
Pesan yang disampaikan dalam kajian itu juga menekankan pentingnya menjaga kehalalan makanan, membangun sikap wara’, serta menjadikan ilmu sebagai bagian dari upaya memperkuat keimanan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui majelis Subuh di Masjid Istiqlal, umat Islam diingatkan bahwa keberkahan waktu pagi tidak hanya terletak pada doa, tetapi juga pada kesungguhan memanfaatkan waktu untuk belajar, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

























