SURABAYA | LIPUTAN9NEWS
Polemik sound horeg kembali memanas. Kali ini, PW GP Ansor Jawa Timur melontarkan sikap keras terhadap pengusaha sound horeg Aeromax, Setyo Budi Mularso, menyusul pernyataan yang dinilai bernada umpatan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur saat tampil dalam siaran langsung di salah satu stasiun televisi.
GP Ansor Jawa Timur menegaskan, perbedaan pandangan dalam menyikapi fenomena sound horeg merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan menyampaikan pendapat, menurut Ansor, tidak boleh menjadi alasan untuk melontarkan penghinaan atau perkataan yang dianggap tidak pantas terhadap ulama.
Wakil Sekretaris PW GP Ansor Jawa Timur, Ahmad Zainuddin, menegaskan bahwa kritik terhadap MUI maupun perbedaan sikap mengenai sound horeg tetap harus disampaikan dalam koridor kesantunan dan adab.
“Perbedaan pandangan mengenai sound horeg maupun sikap MUI merupakan hal yang wajar. Namun, perbedaan tersebut semestinya disampaikan dengan cara yang santun dan tetap menjunjung tinggi adab,” ujar Ahmad Zainuddin dalam keterangan, seperti dilansir Lensajatim, Kamis (10/09/2026).
Labih jauh, Ahmad Zainuddin menekankan bahwa GP Ansor Jawa Timur tidak mempermasalahkan adanya kritik atau perbedaan pendapat. Bahkan kritik yang keras sekalipun merupakan bagian dari dinamika sosial.
Namun, menurutnya, terdapat batas yang tidak boleh dilanggar, terutama ketika perbedaan pendapat mulai bergeser menjadi penghinaan dan umpatan terhadap ulama.
“Kritik boleh keras, tetapi menghina dan mengumpat ulama bukanlah cara yang dapat dibenarkan,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan sikap GP Ansor Jawa Timur bahwa kebebasan berekspresi harus tetap berjalan seiring dengan penghormatan terhadap tokoh agama dan lembaga keulamaan.
Atas persoalan tersebut, PW GP Ansor Jawa Timur meminta Setyo Budi Mularso untuk segera mengambil langkah penyelesaian.
Ansor Jatim secara tegas mengultimatum pengusaha sound horeg Aeromax tersebut agar meminta maaf secara langsung kepada KH Ma’ruf Khozin dan MUI Jawa Timur.
Menurut Ahmad Zainuddin, permintaan maaf menjadi langkah penting untuk meredakan situasi sekaligus mencegah persoalan berkembang menjadi polemik yang lebih luas.
“Langkah tersebut penting agar persoalan tidak semakin melebar dan hubungan antarelemen masyarakat tetap terjaga dengan baik,” ucapnya tegas.
Selanjutnya, Ahmad Zainuddin mengingatkan bahwa Jawa Timur memiliki tradisi sosial dan keagamaan yang kuat dalam menghormati para kiai dan ulama.
Karena itu, ia mengajak seluruh pihak agar tidak menjadikan perbedaan pandangan sebagai alasan untuk saling menyerang, merendahkan, apalagi menghilangkan adab dalam ruang publik.
“Jawa Timur memiliki tradisi kuat dalam menghormati ulama dan menjaga persaudaraan,” katanya.
Ansor Jatim pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menyelesaikan setiap perbedaan melalui dialog yang bermartabat.
Bagi organisasi kepemudaan NU tersebut, perdebatan boleh terjadi, pandangan boleh berbeda, dan kritik boleh disampaikan. Namun, semuanya harus tetap berada dalam batas kesopanan dan penghormatan terhadap sesama.
“Berbeda pandangan boleh, kehilangan adab jangan,” pungkas Ahmad Zainuddin.
Sikap keras GP Ansor Jawa Timur ini menambah panas dinamika polemik sound horeg yang dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian publik.
Kini, sorotan tertuju pada respons Setyo Budi Mularso atas ultimatum yang disampaikan GP Ansor Jawa Timur, khususnya terkait permintaan maaf kepada KH Ma’ruf Khozin dan MUI Jawa Timur.

























