JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Salah satu tujuan dari dibangkitkannya Nabi Muhammad s.a.w. adalah untuk menegakkan akhlak yang luhur dan melengkapi kesempurnaannya. Salah satu wujud dari akhlak yang luhur tersebut adalah sikap tawadhu atau rendah hati. Sikap ini sangat terpuji dan mengantarkan seseorang pada kesuksesan yang maksimal dalam segala kehidupannya.
Dalam kehidupan sehari-hari kita rasakan secara langsung bahwa mereka yang memiliki sikap rendah hati, menyenangkan banyak orang dan sangat dicintai oleh sesamanya. Sebaliknya, orang-orang yang angkuh atau takabbur, sangat dibenci oleh sesamanya, dan menampakkan perilaku yang kotor dan tidak terpuji.
Dalam ketetapan sunnatullah, diindikasikan bahwa orang-orang yang tawadhu atau rendah hati, akan meraih kesukesan yang tinggi dan dicintai oleh sesama umat manusia. Sebaliknya, keangkuhan dan kesombongan akan mencampakkan perilakunya pada kehidupan yang hina dan tidak disukai oleh sesamanya.
Dalam hadits riwayat Imam Muslim menyebutkan bahwa kekayaan tidak akan berkurang sedikitpun, karena disedekahkan. Allah s.w.t. akan menambah kemuliaan bagi mereka yang pemaaf dan orang yang bersikap rendah hati dengan penuh keikhlasan, akan diangkat derajatnya. Rasulullah Muhammad s.a.w. merupakan seorang Nabi yang akhlaknya sangat luhur, perangainya sangat terpuji, dan aktivitas hariannya selalu mempersonifikasikan perilaku manusia mulia.
فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imran, 3:159).
Ayat ini menegaskan bahwa sebagian dari kunci sukses perjuangan Nabi Muhammad s.a.w., adalah dengan mewujudkan keagungan akhlak. Pertama, memiliki sikap yang lembut, pengasih dan penyayang terhadap sesama, sehingga setiap orang berjumpa dengan nabi selalu tertarik untuk menjadi pengikutnya dan menjadi orang-orang yang mencintainya.
Demikian luhurnya akhlak beliau, sehingga dipuji oleh Allah s.w.t. dalam firman-Nya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. al-Qalam, 68:4). Sayyidah Aisyah r.a. pernah ditanya beberapa orang sahabat mengenai akhlak Nabi s.a.w., beliau menjawab: “akhlaknya adalah al-Qur’an”. Dalam ayat ini menegaskan sikap sebaliknya, sekiranya Nabi bersikap kasar dan keras hati seperti batu atau lebih keras lagi, pasti semua orang di sekelilingnya akan lari porak poranda, menghindari beliau.
Sikap beliau yang kedua, sangat pemaaf kepada semua orang, bahkan kepada mereka yang pernah menghina Nabi atau yang menyakitinya. Sikap pemaaf ini dibuktikan dalam sejarah ketika beliau berdakwah di daerah Thaif, beliau dilempari batu. Namun demikian, beliau tidak menghardik penduduk Thaif itu, malah beliau berdoa: “Wahai Allah berikanlah petunjuk pada kaumku ini, karena sesungguhnya mereka belum mengetahui”.
Beliau pernah dizalimi oleh orang-orang musyrik Mekkah dengan berbagai kezaliman, salah satunya beliau pernah dilempari dengan kotoran sehingga mengenai kepalanya. Beliau memaafkan mereka dan berbagai kezaliman lain yang dilakukan terhadap Nabi, semua dimaafkan. Ketika Nabi dan para sahabatnya menguasai kota Mekkah, penduduk Mekkah ketakutan, mereka mengira beliau akan membalas kezaliman mereka. Mereka mengatakan: “Hari ini adalah hari balas dendamnya Muhammad”.
Nabi menolak pernyataan mereka dengan kalimat yang sangat luhur: “Tidak, hari ini adalah hari yang penuh kasih sayang. Barang siapa yang masuk ke rumahnya sendiri, aman dan sentausa. Demikian juga siapa yang masuk masjid, akan dilindungi dengan penuh keamanan. Bahkan, barang siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, akan mendapat keamanan. Sikap inilah yang membuat dakwah beliau berhasil dengan kesuksesan yang luar biasa.
Sikap beliau yang ketiga, selalu berdoa untuk kebahagiaan umatnya dan memohon ampunan kepada Allah untuk mereka. Sikap yang keempat, beliau selalu bermusyawarah dengan semua umatnya dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. Sikap yang kelima, beliau dan para sahabatnya senantiasa bertawakkal kepada Allah, setelah melakukan usaha yang maksimal.
Ada tiga golongan umat manusia yang tidak akan diajak berbicara oleh Allah dan tidak mensucian mereka pada hari kiamat, dan bagi mereka disediakan azab yang mengerikan, yaitu (1) lansia yang senantiasa berbut zina, (2) pemimpin-pemimpin pendusta, dan (3) orang-orang miskin sombong.
ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يُزَكِّيهِمْ. قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ: وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ. وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، وَمَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ.
Ada tiga golongan yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan menyucikan mereka. Abu Mu‘awiyah berkata, “Dan Allah tidak memandang mereka.” Bagi mereka azab yang pedih, yaitu: orang tua yang berzina, penguasa yang berdusta, dan orang miskin yang sombong. (HR. Muslim, 107).
Dr. KH. Zakky Mubarok Syakrakh, MA., Dewan Pakar Lajnah Dakwah Islam Nusantara (LADISNU) dan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
























