JOMBANG | LIPUTAN9NEWS
Napak tilas Isyaroh pendirian Nahdlatul Ulama (NU) yang diikuti ribuan warga Nahdliyin, akhirnya tiba di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Ahad (04/01/2026) malam.
Kegiatan napak tilas yang digelar dengan cara berjalan kaki dilaksanakan dari Kabupaten Bangkalan hingga Kabupaten Jombang, tepatnya menuju Pesantren Tebuireng. Ribuan jemaah peserta napak tilas ini sebelumnya menempuh perjalanan kaki dari Bangkalan ke Pelabuhan Kamal, lalu ke Surabaya.
Dari Surabaya, rombongan napak tilas isyaroh pendirian NU kemudian menuju Kabupaten Jombang dengan mengendarai berbagai moda transportasi. Di Kabupaten Jombang, peserta napak tilas menempuh perjalanan kaki sejauh kurang lebih 6 kilometer dari alun-alun Jombang menuju Ponpes Tebuireng.
Pantauan Kompas.com, antusiasme peserta tetap tidak surut meski diguyur hujan. Ribuan jemaah tetap berjalan kaki untuk menuntaskan acara napak tilas. Mereka terus berjalan kaki sambil membaca shalawat, dan kalimat tahmid di sepanjang perjalanan.
Kegiatan Napak Tilas Restu Pendirian Nahdlatula Ulama ini, dipimpin KH. Achmad Azaim Ibrohimi, cucu KH As’ad Syamsul Arifin, sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Rombongan peserta napak tilas tiba di Pondok Pesantren Tebuireng, pada pukul 21.38 WIB.
Kedatangan rombongan Napak Tilas disambut Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, beserta jajaran dzurriyah pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Di depan Ndalem Kasepuhan, KH Achmad Azaim Ibrohimi kemudian menyerahkan replika tongkat dan tasbih kepada Gus Kikin, selaku cicit dari KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.
Setelah prosesi penyerahan replika tongkat dan tasbih, peserta napak tilas isyaroh pendirian NU kemudian menggelar tahlil dan istighosah di pusara makam pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.
Jejak Pendirian NU Napak tilas Isyaroh Pendirian NU mengilustrasikan jejak perjalanan menuju lahirnya organisasi Nahdlatul Ulama pada 1926. Dalam sejarah berdirinya NU, terdapat 3 tokoh yang berperan penting pada masa sebelum lahirnya NU, yakni Syaikhona KH Cholil Bangkalan, KH Hasyim Asy’ari, serta KH As’ad Syamsul Arifin.
Kegiatan ini menggambarkan perjalanan KH As’ad Syamsul Arifin yang membawa pesan dari Syaikhona KH Cholil Bangkalan dengan membawa tongkat dan tasbih untuk diserahkan kepada KH Hasyim Asy’ari. Kisah penyerahan tongkat dan tasbih, merupakan segmen penting dalam kisah perjalanan lahirnya organisasi Jam’iyah Nahdlatul Ulama.
Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, mengatakan bahwa napak tilas ini menjadi bagian penting untuk mengenang sejarah satu abad perjalanan NU. Menurutnya, kisah perjalanan dan perjuangan para kiai yang menginisiasi lahirnya NU tidaklah mudah. Untuk itu, perjuangan para pendiri NU harus dilanjutkan.
“Banyak pesan dari para muassis NU yang harus kita sesuaikan dengan perubahan zaman, agar NU tetap menjadi wadah yang menaungi umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah,” terang Gus Kikin.
Cicit pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari itu juga menekankan pentingnya menjaga persatuan dan ukhuwah di tengah dinamika yang ada bagi seluruh elemen Nahdlatul Ulama.
Sementara itu, dalam penyambutan peserta napak tilas Isyaroh Pendirian NU di Pesantren Tebuireng, tampak hadir Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, didampingi Pengurus PBNU, Amin Said Husni.

























