JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
“Manusia sering dilanda kegoncangan jiwa dan keresahan yang silih berganti, banyak di antara mereka yang berputus asa. Sebagian dari mereka tidak lagi memiliki ketenangan jiwa dan sering mengambil jalan pintas, meskipun menyesatkan.”
Sebagian dari gangguan yang sering mengusik kehidupan manusia adalah kekosongan jiwa yang ditandai dengan keresahan dan kegelisahan. Dua hal itu merupakan suatu kebiasaan yang ada pada diri setiap orang, dalam berbagai aspek kehidupannya.
۞ اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًاۙ وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًاۙ
Artinya: “Sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa keburukan (kesusahan), ia berkeluh kesah. Apabila mendapat kebaikan (harta), ia amat kikir,” (QS. Al-Ma’arij, 70:19-21).
Ayat ini menjelaskan kepada kita mengenai keadaan jiwa manusia yang pada umumnya bersifat labil atau tidak permanen. Apabila menghadapi kesulitan, ia merasa gelisah dan hilang keseimbangannya. Sebaliknya, apabila memperoleh nikmat dan karunia, ia bergembira secara berlebihan, sehingga bisa melupakan status dirinya.
Manusia sering dilanda kegoncangan jiwa dan keresahan yang silih berganti, banyak di antara mereka yang berputus asa. Sebagian dari mereka tidak lagi memiliki ketenangan jiwa dan sering mengambil jalan pintas, meskipun menyesatkan. Dalam ayat al-Qur’an, sebagai kelanjutan ayat di atas dijelaskan kepada kita cara mengatasi dan mengobati berbagai macam goncangan jiwa. Termasuk di dalamnya, cara menghilangkan kesulitan dan keresahan, dengan melakukan berbagai kegiatan secara teratur dan berkesinambungan.
Kegiatan itu di antaranya adalah (1) menegakkan shalat dengan sungguh-sungguh, dan (2) gemar memberikan bantuan kepada mereka yang sangat membutuhkan. Kegiatan itu dilanjutkan dengan (3) membiasakan berinfaq, (4) meyakini dengan sungguh-sungguh tentang hari pembalasan, (5) takut terhadap siksa Tuhan, (6) memelihara kehormatan, (7) menegakkan amanat, dan (8) menepati janji.
Untuk meredam kegoncangan jiwa dan keresahan yang dialami manusia, adalah melaksanakan shalat sesuai dengan misi shalat itu secara tetap dan kontinyu yang disebut dengan shalat daim. Shalat merupakan media yang sangat penting dalam rangka menjalin hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Hubungan itu dilakukan dalam berbagai situasi dan kondisi, dilakukan waktu senang, waktu dilanda kesusahan, dan dalam berbagai situasi lainnya. Mereka yang melestarikan shalatnya, akan memperoleh ketenangan dan ketentraman jiwa. Ia percaya sepenuhnya bahwa Allah s.w.t. Maha Kasih terhadap semua makhluk-Nya.
Berinfaq dan gemar membantu terhadap sesama merupakan salah satu aktivitas yang dapat mengantarkan seseorang agar memperoleh ketentraman, dan sekaligus terhindar dari kegelisahan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita merasakan suatu ketentraman dan terhindar dari keresahan pada saat kita dapat memberikan bantuan kepada mereka yang sangat membutuhkan.
Keadaan seperti itu akan mewujudkan ketentraman pada diri kita. Sebaliknya, apabila kita melihat orang-orang yang sangat membutuhkan bantuan, kita bisa membantu orang itu, tapi tidak melakukannya, akan menimbulkan kegoncangan jiwa. Sikap itu akan terus dirasakan sebagai tindakan yang salah dan perasaan menyesal yang akan terus menghantui segala kehidupannya.
وَالَّذِيْنَ فِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُوْمٌۖ ٢٤ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِۖ ٢٥
Artinya: “Yang di dalam hartanya ada bagian tertentu, untuk orang (miskin) yang meminta-minta dan orang (miskin) yang menahan diri dari meminta-minta”. (QS. Al-Ma’arij, 70:24-25).
Mempercayai hari akhirat atau hari pembalasan, akan mengantarkan seseorang pada amal perbuatan yang baik dan terpuji. Dengan sikap seperti ini, kita akan memperoleh ketentraman dan terhindar dari kegelisahan. Dengan percaya pada hari akhirat, maka setiap diri manusia akan menyakini bahwa segala amal perbuatannya di dunia, akan memperoleh balasan yang setimpal. Apabila ia berbuat kebajikan, maka akan dibalas dengan kebajikan, sebaliknya, mereka yang berbuat kerusakan akan diberi balasan yang mengerikan.
Manusia yang takut terhadap azab Allah, akan meningkatkan kualitas keimanannya dan meningkatkan kemampuan amal shalehnya. Dengan iman yang tinggi, disertai dengan amal perbuatan yang terpuji, maka orang itu akan meraih ketenangan lahir dan batin. Ia yakin dalam dirinya, bahwa akan terbebas dari kesulitan-kesulitan di masa depannya.
Dr. KH. Zakky Mubarok Syakrakh, MA., Dewan Pakar Lajnah Dakwah Islam Nusantara (LADISNU) dan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
























