TANGERANG | LIPUTAN9NEWS
Naskah Khutbah Jumat: Persiapan Ruhani Menghadapi Ramadan di sampaikan dalam sidang shalat Jum’at di masjid Raudhatul Jannah MNC TV Kebon Jeruk pada hari Jumat 06 Pebruari 2026 M/18 Sya’ban 1447 H.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ شَعْبَانَ جِسْرًا إِلَى رَمَضَانَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِالِلّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا¸ مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ الِلّٰهِ¸ أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ¸ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظِيمْ.
Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wata’aalaa
Menjadi prioritas utama bagi khatib dalam mengawali khutbah ini untuk senantiasa mengingatkan, mengajak, dan berwasiat kepada diri khatib dan para jamaah untuk terus dan tak henti-hentinya berusaha dengan sungguh-sungguh meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wata’aalaa.
Wujud peningkatan ketakwaan ini adalah dengan penguatan komitmen untuk menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Agar ibadah kita maximal di bulan Ramadhan nanti, maka minimal ada 3 amalan yang harus kita kerjakan :
1. Berdo’a
Yang pertama dan paling utama adalah tawakal berserah diri kepada Allah Subhanahu wata’aalaa dengan cara terus berdo’a kepadaNya, mohon agar usia kita disampaikan di bulan Ramadhan, disehatkan lahir bathin dan dikuatkan iman dan Islam kita.
Kita tidak boleh sombong dengan hanya mengandalkan ikhtiar dan usaha kita sendiri. Sebesar dan sehebat apapun usaha kita, maka tidak akan terwujud tanpa pertolongan dan izin Allah Subhanahu wata’aalaa
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berkata: Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah (memohon) kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” (QS. Ghafir: 60)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, (728 H) mengingatkan bahwa dalam menyambut kedatangan musim-musim ketaatan/ibadah, seorang hamba sangat membutuhkan bimbingan, bantuan dan taufiq dari Allah Ta’ala. Cara memperoleh hal tersebut adalah dengan bertawakal dan berserah diri kepada Allah dalam bentuk do’a.
كَانُوا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ
Para para sahabat nabi, tabi’in, tabi’ittabiin dan para ulama terdahulu tak pernah putus berdo’a kepada Allah selama enam bulan sebelum Ramadhan agar Allah pertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa selama enam bulan setelah Ramadhan agar Allah menerima amal ibadah mereka. [Lihat Madarijus Salikin Baina Manazili Iyyaaka Na’budu wa Iyyaaka Nasta’in (8/528), karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (751 H)].
Salah satu do’a yang dianjurkan menjelang Ramadhan adalah :
اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ، وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا
Maksudnya: _“Ya Allah, sejahterakanlah aku sehingga datangnya Ramadhan, sejahterakanlah Ramadhan bagiku dan terimalah dariku (ibadat pada bulan itu).” (HR. Al-Tabarani di dalam al-Du’a (913) dan Abu Nu’aim al-Asbahani dalam Hilyah al-Auliya
2. Perbanyak Istighfar dan Taubat
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Syaikh Al-Syinqithiy rahimahullah pernah ditanya, “dengan apa anda menasihatiku untuk menyambut musim-musim ketaatan ?” Beliau menjawab,
خَيْرُ مَا يُسْتَقْبَلُ بِهٍ مَوَاسمُ الطَّاعَاتِ: كَثْرَةُ الاِسْتِغْفَارِ
“Sebaik-baik persiapan/bekal untuk menyambut musim ketaatan adalah memperbanyak istighfar.”
Beliau memberikan alasannya, “karena dosa-dosa hamba menghalanginya dari taufiq. Tidaklah seseorang senantiasa beristighfar kecuali ia akan suci, jika ia lemah maka akan menjadi kuat, jika ia sakit maka akan disembuhkan.
Ibnul Qayim rahimahullah mengatakan bahwa orang yang sering bermaksiat maka maksiatnya itu menjadi penghalang dirinya dari menjalankan satu ketaatan. Diikuti dengan ketaatan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Banyak ketaatan yang terputus karena dosa maksiatnya. Padahal, terkadang satu ketaatan itu nilainya lebih baik dari dunia seisinya.
Ibnul Qayyim rahimahullah membuat satu permisalan kemaksiatan ini, “hal ini bagaikan seseorang yang menyantap satu makanan yang membuat dirinya sakit berkepanjangan sehingga dia tidak bisa lagi menikmati berbagai hidangan yang lebih enak daripada hidangan tadi. Wallahul musta’an!” (Ad-Da’u wad Dawa’: 130)
Diantara keutamaan istighfar
وَيٰقَوْمِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًا وَّيَزِدْكُمْ قُوَّةً اِلٰى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِيْنَ ٥٢
“Wahai kaumku, mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya! Niscaya Dia akan menurunkan untukmu hujan yang sangat deras, menambahkan kekuatan melebihi kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang-orang yang berdosa.” (QS. Hud : 52).
Permohonan ampun yang tulus disertai taubat menjadi kunci pembuka kekuatan fisik, mental, dan spiritual buah dari keimanan kepada Allah Subhanahu wata’aala.
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wata’aala menjanjikan ampunan dosa serta menambahkan potensi kekuatan yang sudah dimiliki seseorang menjadi lebih besar dan kokoh (wadzidukum quwwatan ilaa quwwatikum) kepada mereka yang istiqomah beristighfar dan bertaubat.
Meliputi kekuatan rezeki, keturunan, kesehatan, dan pertolongan dalam menghadapi berbagai kesulitan serta kekuatan jasmani dan rohani rohani _*sehingga seseorang menjadi ringan dan semangat dalam menjalani ketataatan-ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’aalaa terkhusus di bulan Ramadhan yang penuh berkah, ampunan dan rahmat.*_
3. Bekali diri dengan ilmu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
_”Katakanlah : Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ? Sesungguhnya orang-orang yang berakal sajalah yang dapat menerima pelajaran.”_ (QS. Al-Zumar: 9)
Diantara makna ayat ini adalah bahwa orang yang beribadah dengan ilmu tidak sama kualitasnya dengan orang yang beribadah tanpa lmu.
Khususnya Ilmu terkait Ibadah puasa. Syarat, Rukun serta perkara yang membatalkan dan mengurangi pahala puasa*
Dengan bekal ilmu yang cukup, tentunya kita akan dapat melakukan amal ibadah dengan berkualitas (baik dan benar). Umar bin Abdul Aziz rahimahullah mengatakan,
مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ
“Siapa yang beribadah kepada Allah tanpa didasari ilmu, maka kerusakan yang ia perbuat lebih banyak daripada maslahat yang diperoleh.” (Majmu’ Al Fatawa Ibnu Taimiyah)
Ber‘amal tanpa ilmu itu tertolak, sebagaimana disebut di dalam Kitab “Matan Zubad Fi Ilmil Fiqhi Alaa Madzhab Asy Syafi’i” (Karya Asy Syeikh Ahmad Ibnu Ruslan Asy Syafi’iy Tahun 770H – 844H ) ia mengatakan:
وَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عِلْمٍ يَعْمَلُ – أَعْمَالُهُ مَرْدُوْدَةٌ لاَ تُقْبَلُ
Dan setiap yang beramal tanpa ilmu – Amalan-amalannya tertolak tidak diterima.
Kesimpulannya, dalam rangka mencapai ibadah yang benar sehingga diterima Allah Subhanahu wata’aalaa, maka kita harus melakukan minimal 3 amalan : Berdo’a, istighfar dan taubat serta bekali diri dengan ilmu.
Semoga Allah subhanahu wata’aalaaebeikan kepada kita Taufiq, pemahaman terhadap syariat dan dimudahkan serta diringankan dalam melaksanakan ketaatan demi keta’atan
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
اللَّهُمَّ سَلِّمْنَا لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْهُ لَنَا وَتَسَلَّمْهُ مِنَّا مُتَقَبَّلًا
اللَّهُمَّ وَفِّقْنَا لِصِيَامِهِ وَقِيَامِهِ عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي يُرْضِيكَ عَنَّا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمَقْبُولِينَ
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Wallahu a’lam bisshowab
Hasan Yazid Al-Palimbangy M. Ag, Juru Da’wah (da’i/muballigh). Khatib dan narasumber pengajian mingguan, bulanan di masjid-masjid perumahan dan kantor dan penulis buku-buku agama Islam.)_
Domisili : Thali’a Clauster (Ps. Ceger) Jl. Musholla Nurul Huda No.1, blok B12Jurang Mangu Barat, Kec. Pd. Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten 15222 HP/WA +62852-1737-0897

























