JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
BEM Pesantren Seluruh Indonesia menyampaikan sikap tegas dalam menyikapi pernyataan Jusuf Kalla yang menyinggung ajaran agama Islam dan Kristen dalam konteks konflik. Pernyataan tersebut dinilai berpotensi menimbulkan kesalahpahaman publik serta memicu sentimen negatif antarumat beragama jika tidak diluruskan secara proporsional dan kontekstual.
BEM Pesantren Seluruh Indonesia menegaskan bahwa ajaran Islam tidak pernah membenarkan tindakan kekerasan tanpa dasar yang sah. Sebagai agama yang membawa misi rahmatan lil ‘alamin, Islam menjunjung tinggi nilai-nilai kedamaian, kasih sayang, serta penghormatan terhadap kehidupan manusia. Oleh karena itu, setiap narasi yang mengaitkan agama dengan legitimasi kekerasan secara umum merupakan penyederhanaan yang keliru dan berbahaya.
Dalam pandangan BEM Pesantren melalui Koordinator Pusatnya Ahmad Tomy Wijaya, konteks dalil-dalil yang sering disalahpahami terkait peperangan dalam Islam harus dipahami secara utuh dan historis. Ajaran tersebut muncul dalam situasi konflik yang bersifat defensif, bukan sebagai pembenaran untuk melakukan tindakan agresi atau permusuhan terhadap pihak lain dalam kondisi damai. Pemahaman parsial terhadap teks keagamaan justru berisiko menyesatkan dan merusak harmoni sosial.
Lebih lanjut, BEM Pesantren mengingatkan bahwa tokoh publik memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan pernyataan yang bijak, akurat, dan tidak memicu polemik di tengah masyarakat yang majemuk. Mengaitkan ajaran agama dengan tragedi kemanusiaan tanpa penjelasan yang komprehensif dapat memperkeruh suasana dan mengganggu stabilitas sosial yang telah terbangun.
“Sebagai landasan teologis, BEM Pesantren merujuk pada ajaran Islam yang menempatkan nilai kemanusiaan sebagai prinsip utama, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa menghilangkan satu nyawa tanpa alasan yang benar sama dengan menghilangkan seluruh umat manusia.” Ujar Tomy dalam keterangan, Kamis (16/04/2026).
Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kehidupan dan menolak segala bentuk kekerasan yang tidak berkeadilan. BEM Pesantren Seluruh Indonesia mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak terprovokasi oleh narasi yang berpotensi memecah belah persatuan. Dialog yang sehat, pemahaman lintas agama yang mendalam, serta sikap saling menghormati harus terus dikedepankan sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebagai langkah konstruktif, BEM Pesantren mendorong adanya klarifikasi terbuka dan edukasi publik yang berimbang agar masyarakat memperoleh pemahaman yang utuh terkait ajaran agama. Upaya ini penting untuk menjaga ruang publik tetap sehat, inklusif, dan terbebas dari disinformasi yang dapat merusak kerukunan antarumat beragama.
BEM Pesantren menegaskan bahwa menjaga persatuan adalah tanggung jawab bersama. Perbedaan keyakinan tidak boleh menjadi alasan untuk saling mencurigai, melainkan menjadi kekuatan dalam membangun Indonesia yang damai, adil, dan harmonis.

























