JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
AR Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal) selaku Ketua Umum Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB), menyayangkan pernyataan Jusuf Kalla yang menyebut bahwa ajaran Islam dan Kristen mempermudah aksi saling membunuh. Gus Wal menyampaikan keberatan keras atas narasi tersebut, ia menilai bahwa ini sebagai bentuk disinformasi teologis yang berpotensi memicu sentimen negatif di tengah masyarakat.
Menurut Gus Wal, ajaran Islam tidak pernah membenarkan tindakan saling membunuh antar manusia. Ia menegaskan bahwa Islam hadir sebagai Agama Rahmatan lil ‘Alamin yang menjunjung tinggi nilai kedamaian serta menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta, bukan ancaman bagi kehidupan. Nilai tersebut, lanjutnya, tercermin dalam konsep Rahman dan Rahim yang mengajarkan kasih sayang universal kepada seluruh umat manusia tanpa diskriminasi.
Menanggapi pernyataan Jusuf Kalla, Gus Wal meluruskan bahwa konteks peperangan dalam Islam tidak dapat dipahami secara serampangan. Ia menjelaskan bahwa dalil terkait perang bersifat sangat spesifik, kontekstual, dan defensif dalam situasi konflik bersenjata, bukan sebagai legitimasi untuk melakukan kekerasan atas dasar perbedaan keyakinan dalam kondisi damai.
Sebagai tokoh yang aktif dalam gerakan kebhinekaan, toleransi dan moderasi beragama, Gus Wal menyayangkan pernyataan yang justru berpotensi menyederhanakan persoalan kompleks menjadi kesalahan ajaran agama. Ia mengingatkan bahwa tokoh publik seharusnya berhati-hati dalam menyampaikan pandangan, terlebih jika berkaitan dengan isu sensitif seperti agama dan konflik sosial.
Lebih lanjut, Gus Wal menegaskan bahwa pemahaman agama yang tidak utuh hanya akan memperkuat prasangka dan memicu perpecahan. Ia mengutip landasan teologis dalam Surah Al-Ma’idah ayat 32 yang menegaskan bahwa membunuh satu nyawa tanpa alasan yang benar sama dengan membunuh seluruh umat manusia. Selain itu, ia juga merujuk pada hadits riwayat Bukhari yang menegaskan larangan keras membunuh non-muslim yang berada dalam perjanjian damai.
Gus Wal menghimbau kepada semua pihak untuk memastikan tidak adanya disinformasi yang terus berkembang serta menjaga ruang publik tetap sehat dari narasi provokatif dan menyesatkan.
Gus Wal juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang berpotensi memecah belah persatuan. Ia menegaskan bahwa kekuatan Indonesia terletak pada kerukunan antar umat beragama yang telah teruji oleh sejarah.
“Perbedaan penafsiran adalah hal yang wajar, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk merusak persaudaraan kebangsaan. Dialog yang sehat dan saling menghormati harus terus dikedepankan,” ujar Gus Wal.
Gus Wal menambahkan bahwa ada pihak yang mengambi langkah hukum bukanlah bentuk permusuhan, melainkan bagian dari upaya edukasi publik agar ruang diskursus tetap berbasis pada data, fakta, dan nilai-nilai luhur agama yang inklusif, demi menjaga stabilitas sosial dan harmoni antarumat beragama di Indonesia, ditengah kondisi ekonomi yang sulit dan tidak menentu serta kondisi Indonesia yang masih darurat Korupsi, Intoleransi, Wahabi Khilafah Radikalisme Anarkisme Terorisme memperkokoh Persatuan Indonesia dan Memperkuat Toleransi Moderasi beragama adalah kunci bukan sekedar solusi untuk rakyat dan bangsa Indonesia.

























