اَلحَْمْدُ لِللّٰهِ الَّذِي شرع الْأُضْحِيَّةَ تقربا إليه . نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِالله مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ.
فَيَآ عباد الله، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. فقال الله تعالي يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Ma’aasyirol muslimin jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Mengawali khutbah Jum’at ini, khatib mengajak diri khatib dan seluruh jamaah shalat Jum’at untuk tak henti-hentinya berusaha semaksimal mungkin, berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wata’aalaa dengan cara istiqamah menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.
Dan menjadi sebuah keniscayaan bagi kita untuk senantiasa terus bersyukur atas nikmat yang Allah Subhanahu wata’aalaa telah karuniakan kepada kita berupa nikmat iman, Islam, nikmat sehat dan umur panjang.
Ma’aasyirol muslimin jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Berkorban merupakan salah ibadah yang sangat dianjurkan dan merupakan satu-satunya ibadah yang paling disukai Allah subhanahu wata’aalaa di hari raya Iedul Adha. Karena _*dengan berqurban berarti kita mentaati perintah Allah subhanahu wata’aalaa dan mengikuti serta meneladani nabi Ibrahim Alaihissalam dan nabi kita Muhammad shalallahu alayhi wasallam dalam rangka membuktikan cinta kita kepada Allah subhanahu wata’aalaa.
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلْأَنْعَٰمِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ فَلَهُۥٓ أَسْلِمُوا۟ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُخْبِتِينَ
Artinya: “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap *binatang ternak* yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)” (QS. Al-Hajj : 34)
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٣١
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Surat Ali ‘Imran: 31]
Semua para nabi mengajak umatnya untuk bertakwa kepada Allah subhanahu wata’aalaa dan menta’ati (mengikuti) mereka dalam menjalankan syariat-syariat agama. Hal ini tertera dalam banyak ayat dalam surat Asy-Syu’ara, diantaranya ayat 108
{ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِیعُونِ }
“Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku (ikutilah aku)”
Ma’aasyirol muslimin jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Minimal ada 2 faktor yang menjadikan orang beriman termotivasi untuk berqurban.
Pertama, faktor hukum
Hukum berkorban itu minimal sunnah mu’akkadah (sunnah yang sangat ditekankan). Demikian pendapat jumhur (mayoritas) ulama yaitu Mazhab Syafi’i, Mazhab Hambali dan mazhab Maliki
Sebagaian umat Islam lupa atau bahkan belum tahu bahwa pengertian Sunnah mu’akkadah bukan hanya sebatas amal ibadah yang apabila dikerjakan berpahala dan apabila ditinggalkan tidak berdosa. Akan tetapi menurut madzhab Maliki, pengertian sunnah mu’akkadah adalah :
السنة المؤكدة عند المالكية هي ما واظب عليه النبي ﷺ ولم يتركه إلا نادراً، ويسمونها أحياناً “سنة واجبة” أو “رغيبة”،
Artinya: “Amalan yang senantiasa *selalu Nabi ﷺ lakukan dan beliau tidak pernah meninggalkannya kecuali jarang sekali meninggalkannya.* Dan mereka terkadang menamainya dengan ‘sunnah wajibah’ atau ‘raghibah’. (sangat dianjurkan)”.
Diantara dalil mereka adalah :
حديث أم سلمة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (إذا رأيتم هلال ذي الحجة، وأراد أحدكم أن يضحي، فليمسك عن شعره وأظفاره.)
Artinya: “Jika kalian melihat hilal Zulhijah, dan diantara kalian ada yang ingin berkurban, maka hendaklah dia menahan (tidak memotong) sebagian rambutnya dan kukunya” (HR. Muslim).
ووجه الدلالة: قوله: (أراد) فتعليق الأضحية على الإرادة دليل على عدم الوجوب
Aspek yang dijadikan dalil (sisi pendalilan) dari hadits di atas adalah dikaitkannya qurban dengan ‘keinginan’ merupakan dalil (menunjukkan) tidak wajibnya berqurban
Kaidah :
التعليق على المشيئة دليل عدم الوجوب
Kalau sesuatu digantungkan dengan kata ‘kalau mau’, berarti tidak wajib”. Jika wajib, redaksinya: “Wajib atas kalian berqurban !”
Pendapat kedua
Bahkan menurut Mazhab Abu Hanifah, Auza’iy, Allaits bin Sa’id dan salah satu pendapat Imam Malik bahwa hukum berkorban adalah wajib bagi yang mampu. Pendapat ini diikuti oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Dalil mereka yang mewajibkan berkorban adalah:
1. Keumuman firman Allah subhanahu wata’aalaa surat Al-Kautsar ayat 2
قوله تعالى: «فصل لربك وانحر» [الكوثر: 2] ، فقد قيل في تفسيره صل صلاة العيد وانحر، قالوا ومطلق الأمر للوجوب
Firman Allah Ta’ala: _‘Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah’_ [QS. Al-Kautsar: 2], sungguh telah dikatakan dalam tafsirnya: ‘Shalatlah shalat ‘Id dan berqurbanlah’. Mereka berkata: dan perintah secara mutlak itu menunjukkan hukum wajib.”
2. Ancaman keras dan hukuman dari Rasulullah shalallahu alayhi bagi yang mampu tapi enggan berqurban.
قوله صلى الله عليه وسلم: من وجد سعة لأن يضحي فلم يضح فلا يحضر مصلانا.(رواه ابن ماجه في “سننه3123) ) والهيثمي في “مجمع الزوائد” (4/17) و أحمد
Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abu Hurairah, _‘Barangsiapa mendapati kelapangan untuk berqurban lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami’_ (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Baihaqi)
ووجه الدلالة أن هذا كالوعيد على ترك الأضحية، والوعيد لا يكون إلا على ترك واجب
Sisi pendalilannya, bahwa hadits ini seperti ancaman dan hukuman atas perbuatan meninggalkan qurban, dan ancaman tidaklah diberikan kecuali atas perbuatan meninggalkan yang wajib.
Para syurrohul hadits (ahli hadits) menjelaskan maksud kalimat,
“فلا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانا”
Artinya: “Maka janganlah sekali-kali dia mendekati tempat shalat kami”.
أي: فليس بأهلٍ أنْ يَحضُرَ مُصَلَّى المسلِمين في العيدِ؛ زَجرًا وعُقوبةً لِبُخلِه، وبذلك يَفوتُه حُضورُ فَرحتِهم ودُعائِهم، وهذا مِن الحثِّ الأكيدِ على الأُضحيَّةِ والإتيانِ بها لِمَن قَدَرَ عليها، وليس المرادُ أنَّ صِحَّةَ الصَّلاةِ تتوقَّفُ على الأُضحيَّةِ
Maksudnya: “Maka dia tidak pantas untuk menghadiri tempat shalat kaum muslimin pada hari raya; sebagai bentuk peringatan keras dan hukuman atas kekikirannya. Dengan demikian, luput darinya untuk hadir dalam kebahagiaan mereka dan doa mereka. Dan ini termasuk dorongan yang sangat kuat untuk berqurban dan melaksanakannya bagi orang yang mampu. Dan bukanlah maksudnya bahwa sahnya shalat itu tergantung pada ibadah qurban”
Ma’aasyirol muslimin jama’ah Jum’at rahimakumullah,
2. Kedua, faktor Fadhilah (keutamaan)
a. Berqurban merupakan amal yang paling disukai Allah subhanahu wata’aalaa di hari raya idul Adha
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا
Aisyah: Menuturkan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, _“Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.”_ (Hadits Hasan, riwayat al-Tirmidzi: 1413 dan Ibn Majah: 3117)
Hadits yang senada dengan hadits di atas
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَا أُنْفِقَتِ الْوَرِقُ فِي شَيْءٍ أَفْضَلَ مِنْ نَحِيرَةٍ فِي يَوْمِ عِيدٍ. ”
Dari Ibnu ‘Abbās berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada uang yang dibelanjakan yang lebih baik daripada belanja hewan qurban di hari ‘Id.” (HR. al-Daraquṭny dalam Sunannya)
b. Hewan qurban Akan Menjadi Kendaraan Orang yang Berkurban Saat Melintasi Ṣirath di Akhirat
وَذَكَرَ الرَّافِعِيُّ وَابْنُ الرِّفْعَةِ حَدِيْثَ عَظِّمُوْا ضَحَايَاكُم فَإِنَّهَا عَلَى الصِّرَاطِ مَطَايَاكُمْ
Imam Rafi’i dan Imam Ibnu al-Rif’ah menyebutkan hadis yang berbunyi: “Besarkanlah hewan-hewan kurban kalian, karena sesungguhnya hewan itu akan menjadi tunggangan kalian di Ṣiraṭ (jembatan).” (HR. al-Daylamy dalam Musnad al-Firdaus no. 268)
c. Mendapatkan Pahala Kebaikan dari Setiap Tetes Darah dan Helai Bulu Hewan Qurban
عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا هَذِهِ الأَضَاحِيُّ؟ قَالَ :« سُنَّةُ أَبِيْكُمْ إِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ ». قَالَ قُلْنَا : فَمَا لَنَا فِيْهَا؟ قَالَ :« بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ ». قَالَ قُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ فَالصُّوْفُ قَالَ :« بِكُلِّ شَعَرَةٍ مِنَ الصُّوْفِ حَسَنَةٌ ».
Dari Zayd bin Arqam RA, beliau berkata: “Kami bertanya: Wahai Rasulullah Apakah qurban-qurban ini? Beliau menjawab : “Sunnah (tuntunan) bapak kalian, Ibrāhīm”. Zayd bin Arqam berkata: Kami bertanya : “Pahala apa yang kami dapatkan darinya? Rasulullah menjawab : “Setiap rambutnya adalah satu kebaikan (pahala).” Zayd bin Arqam berkata: Kami bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan bulunya?” Beliau menjawab: “Setiap rambut dari bulunya adalah kebaikan (pahala)”
Begitu besarnya pahala Qurban di sisi Allah SWT, hingga tetesan-tetesan darahnya pun dianggap sebagai pahala. Setiap sel daging, mili liter darah dan helai bulu yang terdapat dalam hewan Qurban tersebut dan itu membawa manfaat bagi sesama, utamanya bagi para fakir dan miskin, maka akan diganti Allah dengan pahala berlipat ganda kelak di hari akhirat.
Ma’aasyirol muslimin jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Penjelasan ulama tafsir terkait maksud firman Allah subhanahu wata’aalaa
سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ
“Salam sejahtera bagi Ibrahim” (QS. Asshoffaat : 109)
Selamat … ! Selamat … ! Selamat … !
Selamat duhai Ibrahim … !
Bumi dan langit hampir pecah oleh gemuruh ucapan selamat yang disampaikan oleh Allah Subhanahu wata’aalaa beserta seluruh MalaikatNya kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang telah lulus atas ujian yg maha dahsyat dari Allah Subhanahu wata’aalaa berupa ketaatan total dan kepatuhan yang luar biasa dalam melaksanakan perintahNya.
إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ
“Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata.” (QS. Asshoffaat : 106)
Bagaimana dengan iman kita yang tidak diuji dengan mengorbankan anak. Kita hanya diuji dengan mengorbankan sebagian kecil harta demi mentaati perintah Allah Subhanahu wata’aalaa dengan berqurban menyebelih seekor kambing/domba.
Dengan demikian Ibadah qurban itu adalah UJIAN KEIMANAN & KETAQWAAN. Apakah kita sudah meletakkan cinta kita kepada Allah di atas cinta kita kepada dunia termasuk anak dan harta ?
Menurut para ulama, ketika kita berhasil mengorbankan sebagian harta kita dengan menyembelih hewan qurban, kita pun akan mendapatkan ucapan selamat dari Allah subhanahu wata’aalaa beserta para MalaikatNya.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ . أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ،
عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Hasan Yazid Al-Palimbangy, M.Ag., Juru Da’wah (da’i/muballigh). Khatib dan narasumber pengajian mingguan, bulanan di masjid-masjid perumahan dan kantor dan penulis buku-buku agama Islam.)
Domisili :Thali’a Clauster (Ps. Ceger) Jl. Musholla Nurul Huda No.1, blok B12Jurang Mangu Barat, Kec. Pd. Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten 15222HP/WA +62852-1737-0897

























