JAKARTA | LIPUTAN9NEWS – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta mulai mematangkan persiapan sebagai calon tuan rumah Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35. Tim survei dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) turun langsung meninjau sejumlah lokasi strategis di Jakarta.
Ketua PWNU DKI Jakarta KH Samsul Ma’arif mendampingi tim survei PBNU yang terdiri dari KH Fahmi dan Gus Silahuddin saat melakukan peninjauan di kawasan Pondok Pesantren Al Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur.
Dalam survei itu, rombongan mengecek kesiapan lokasi utama muktamar, akses transportasi, akomodasi peserta, hingga dukungan infrastruktur penunjang.
“Jakarta siap dari sisi infrastruktur maupun pelayanan. Yang sedang kami matangkan adalah sinergi seluruh elemen NU agar muktamar nanti berjalan khidmat dan nyaman,” ujar KH Samsul Ma’arif di sela kegiatan Dakwah, Sabtu (24/05/2026).
PWNU DKI Jakarta menawarkan konsep muktamar yang memadukan kekuatan metropolitan dan tradisi pesantren. Dalam dokumen kesiapan yang disiapkan panitia lokal, Pondok Pesantren Al Hamid disebut sebagai lokasi yang memiliki posisi geostrategis ideal.
Lokasi itu dinilai dekat dengan pusat pemerintahan, jaringan tol nasional, dan simpul transportasi nasional.
Selain itu, kawasan tersebut juga disebut relatif lebih kondusif dibanding pusat kota Jakarta.
Akses menuju lokasi juga menjadi salah satu poin unggulan. Berdasarkan dokumen yang disiapkan panitia, kawasan Al Hamid terhubung dengan Tol Jagorawi, JORR, Tol Dalam Kota, hingga Tol Cikampek Elevated.
“Kalau bicara aksesibilitas, Jakarta memang punya keunggulan. Peserta dari daerah maupun luar negeri akan lebih mudah menjangkau lokasi,” ujar KH Fahmi dari tim survei PBNU.
KH Samsul Ma’arif menegaskan Muktamar NU bukan sekadar agenda organisasi, tetapi juga momentum kebudayaan dan silaturahmi warga nahdliyin dari seluruh Indonesia.
Karena itu, menurutnya, lokasi muktamar tidak cukup hanya luas secara fisik, tetapi juga harus memiliki ruh pesantren dan tradisi keilmuan NU.
Dalam dokumen kesiapan disebutkan lokasi muktamar ideal harus memiliki:
- Ruh pesantren,
- Sanad keilmuan,
- Akomodasi besar,
- Akses mudah,
- Hingga resonansi nasional yang kuat.
“NU ini lahir dari pesantren. Maka suasana pesantren harus tetap terasa meski muktamar digelar di kota metropolitan,” terang Kiai Samsul.
Selain infrastruktur, tim survei PBNU juga menilai kesiapan sumber daya manusia dan dukungan organisasi NU di Jakarta.
Gus Silahuddin mengatakan antusiasme warga NU Jakarta terlihat cukup tinggi dalam menyambut kemungkinan penunjukan ibu kota sebagai tuan rumah muktamar.
“Kami melihat kesiapan panitia lokal, dukungan pesantren, sampai mobilitas peserta. Jakarta punya modal kuat,” katanya.
PWNU DKI Jakarta sendiri mulai membangun koordinasi dengan pengurus cabang, badan otonom, relawan muda NU, hingga jaringan pesantren di Jakarta dan sekitarnya.
Muktamar NU ke-35 nantinya diperkirakan akan dihadiri ribuan peserta dari seluruh Indonesia serta sejumlah tamu internasional. Hingga kini, PBNU masih melakukan serangkaian survei sebelum menentukan lokasi final pelaksanaan muktamar.

























