JOMBANG | LIPUTAN9NEWS
Terpilihnya sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mendapat apresiasi dari Yenny Wahid.
Putri Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu menilai sembilan ulama yang mendapat amanah tersebut merupakan tokoh yang memiliki kapasitas keilmuan sekaligus kecerdasan dalam menjalankan tugas strategis untuk menentukan arah kepemimpinan NU.
“Bagi saya seluruh tim AHWA yang sudah ditunjuk dan diberi amanah adalah para ulama yang memiliki kealiman dan kecerdasan tidak hanya aqli saja,” ujar Yenny Wahid di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Minggu (30/8/2026) malam.
Dalam sidang pleno penjaringan dan penetapan, para muktamirin memilih sembilan kiai dari berbagai daerah untuk menjadi anggota AHWA.
Berikut perolehan suara mereka:
- KH Nurul Huda Djazuli (Ploso) – 485 suara (10,3 persen)
- Tgk. KH Nuruzzahri Yahya (Waled) – 477 suara (10,1 persen)
- Ag. Dr. KH Baharuddin HS, MA – 392 suara (8,3 persen)
- KH Miftachul Akhyar – 350 suara (7,4 persen)
- KH Afifuddin Muhajir – 339 suara (7,2 persen)
- KH Anwar Iskandar – 326 suara (6,9 persen)
- KH Anwar Manshur (Lirboyo) – 303 suara (6,4 persen)
- Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj. MA – 273 suara (5,8 persen)
- Dr. KH Abun Bunyamin, MA – 268 suara (5,7 persen)
Sembilan nama tersebut kini memegang posisi strategis dalam fase penentuan kepemimpinan NU.
Tahap berikutnya adalah musyawarah internal AHWA untuk merumuskan rekomendasi calon Rais Aam PBNU. Hasil musyawarah ini akan menjadi salah satu tahapan penting dalam menentukan arah kepemimpinan Nahdlatul Ulama untuk masa khidmah lima tahun mendatang.
Setelah Rais Aam terpilih, AHWA juga akan terlibat dalam proses penentuan Ketua Umum PBNU.
Lima calon Ketua Umum PBNU akan menjadi pilihan dalam mekanisme yang telah ditetapkan dalam Muktamar. Proses tersebut melibatkan suara dari 557 Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU).
Di balik apresiasinya terhadap terpilihnya AHWA, Yenny Wahid juga menyoroti kericuhan yang terjadi di arena Muktamar NU.
Ia menyayangkan demonstrasi kelompok yang mengatasnamakan Generasi Muda NU di halaman Gedung Serba Guna KH Hasbullah Said pada Minggu siang.
Menurut Yenny, perbedaan pendapat dan kekecewaan terhadap keputusan sidang semestinya disampaikan melalui mekanisme musyawarah, bukan dengan tindakan yang berujung pada keributan maupun kerusakan.
“Harusnya sebagai warga NU mengedepankan musyawarah untuk segala hal apapun itu. Sehingga tidak melalukan tindak anarkis yang dapat merugikan banyak pihak,” tegasnya.
Yenny juga menyinggung keputusan mengenai masa iddah bagi calon Ketua Umum PBNU yang menjadi salah satu pemicu ketegangan di arena Muktamar.
Menurutnya, ketentuan tersebut dapat menjadi instrumen untuk menjaga organisasi agar tidak mudah dimasuki kepentingan politik praktis.
“Masa i’dah satu tahun yang telah disepakati oleh peserta muktamar adalah cara untuk menjaga NU ini dari kepentingan-kepentingan yang bersifat politik dan menghindari dari susupan para politikus,” katanya.
Kini, setelah sembilan anggota AHWA ditetapkan, perhatian Muktamar ke-35 NU memasuki babak yang jauh lebih menentukan.
Sembilan ulama akan bermusyawarah menentukan arah. Dari meja AHWA, masa depan kepemimpinan NU lima tahun ke depan mulai dipertaruhkan.

























