• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
KH. Roland Gunawan, Lc., Intelektual Muda NU

Gus Yahya Gagal Memimpin NU

July 10, 2026
Hilman Latief Ungkap Istilah “Tendangan Tanpa Bayangan” dalam Sidang Korupsi Kuota Haji

Hilman Latief Ungkap Istilah “Tendangan Tanpa Bayangan” dalam Sidang Korupsi Kuota Haji

September 25, 2026
MUSPIMNAS BEM PTNU 2026: Dorong Stabilitas Nasional, Ekonomi Kerakyatan, dan Tata Kelola Organisasi

MUSPIMNAS BEM PTNU 2026: Dorong Stabilitas Nasional, Ekonomi Kerakyatan, dan Tata Kelola Organisasi

September 25, 2026
Mantan Mensos Bachtiar Chamsyah Meninggal Dunia

Mantan Mensos Bachtiar Chamsyah Meninggal Dunia

September 25, 2026
Imam Jazuli Foundation Gelar Gala Dinner Pasca Muktamar, Dorong Rekonsiliasi dan Penguatan Ukhuwah Nahdliyin 

Imam Jazuli Foundation Gelar Gala Dinner Pasca Muktamar, Dorong Rekonsiliasi dan Penguatan Ukhuwah Nahdliyin 

September 25, 2026
Imam Jazuli Foundation Buka Workshop, Rumah Tangga Nyai Kunci Perjuangan Pesantren?

Imam Jazuli Foundation Buka Workshop, Rumah Tangga Nyai Kunci Perjuangan Pesantren?

September 24, 2026
Ali Masykur Musa Bahas Peran Naqsyabandiyah di Forum Dunia

Ali Masykur Musa Bahas Peran Naqsyabandiyah di Forum Dunia

September 24, 2026
Ali Masykur Musa Pimpin Naqshbandi Dunia

Ali Masykur Musa Pimpin Naqshbandi Dunia

September 24, 2026
Sulaiman Djaya

Tentang Penulisan Puisi – Robert Frost dan Walt Whitman

September 24, 2026
Dr. Nurul Huda SA, Staf Pengajar Programs Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah, Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.

Daya Pesona Perpustakaan

September 24, 2026
Gus Ipul Siapkan Somasi Atas Tudingan Aliran Rp480 Miliar ke Muktamar ke-35 NU

Gus Ipul Siapkan Somasi Atas Tudingan Aliran Rp480 Miliar ke Muktamar ke-35 NU

September 23, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Friday, September 25, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Gus Yahya Gagal Memimpin NU

Oleh: KH. Roland Gunawan, Lc.

liputan9news by liputan9news
July 10, 2026
in Opini
A A
0
KH. Roland Gunawan, Lc., Intelektual Muda NU

KH. Roland Gunawan, Lc., Intelektual Muda NU

514
SHARES
1.5k
VIEWS

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Nahdlatul Ulama didirikan pada 31 Januari 1926 oleh para ulama besar sebagai jawaban atas tantangan zamannya. Berdiri kokoh di atas ajaran Ahlussunnah wal Jamaah dan kearifan lokal Nusantara, organisasi ini sejak awal memiliki identitas yang tak terpisahkan: teguh menjaga kemurnian ajaran agama sekaligus menjadi benteng pembela keadilan sosial bagi rakyat lemah. Dari masa Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari hingga para penerusnya seperti KHWahid Hasyim dan KH Abdurrahman Wahid, kemandirian sikap m enjadi harga mati agar NU tetap melindungi umat, bukan menjadi bagian dari kekuasaan yang melupakan tujuan luhur.

Menjelang Muktamar 2026, muncul pertanyaan mendasar: apakah kepemimpinan Gus Yahya selama periode 2021–2026 mampu menjaga standar warisan tersebut? Berdasarkan catatan perjalanan organisasi, jawabannya adalah tidak. Bahkan, terdapat sejumlah indikator nyata yang membuktikan bahwa Gus Yahya gagal memimpin dan tidak layak diberi amanah kembali untuk masa mendatang. Berikut adalah indikator kegagalan tersebut:

Tidak Memenuhi Kualifikasi Dasar Kepemimpinan

Sejak awal berdirinya, tradisi NU menetapkan dua syarat utama bagi seorang pemimpin pusat: memiliki otoritas keilmuan agama yang jelas serta mendapatkan kepercayaan luas dari kalangan ulama. Sebagian besar pendahulunya adalah tokoh yang tumbuh, mendalami ilmu, dan mengabdi sepenuhnya di lingkungan pesantren, memiliki sanad keilmuan yang teruji, serta pengakuan resmi di dunia keagamaan.

Berbeda dengan pola ini, Gus Yahya lebih dikenal sebagai aktivis sosial dan politisi praktis. Jejak perjuangannya lebih banyak tercatat di ranah politik dan pemerintahan ketimbang di ruang pengajian, pengembangan kajian keagamaan, atau pengabdian di lingkungan pesantren secara mendalam. Tidak ada rekam jejak keilmuan yang setara dengan standar para pendahulu dan ketua umum sebelumnya. Akibatnya, kebijakan yang diambil sering kali lebih didasarkan pada logika politik dan kepentingan kekuasaan, bukan pada prinsip syariat dan kesejahteraan umat. Hal ini membuat NU terasa bergeser menjadi organisasi politik, bukan lagi gerakan sosial keagamaan yang murni.

BeritaTerkait:

NU dan Kepemimpinan Gus Kikin: Kompas Moral dan Visi Tranformatif Abad Kedua

Paradoks Kiai Imjaz dan Buku NU Abad Kedua

Gus Kikin dan Ujian Besar Membenahi “Konstitusi” NU: Sebuah Kontribusi Pemikiran

Kedutaan Besar Australia Ucapkan Selamat kepada Gus Kikin, Soroti Kemitraan Panjang dengan NU

Kehilangan Posisi Sebagai Penyeimbang Kekuasaan

Salah satu fungsi utama NU adalah menjadi kekuatan pengawas dan penyeimbang terhadap jalannya pemerintahan. Dulu, NU menjalin hubungan baik dengan negara namun tetap menjaga jarak kritis agar tidak kehilangan kemandirian. Selama masa kepemimpinan Gus Yahya, jarak tersebut nyaris hilang.

Data periode 2021–2026 mencatat bahwa PBNU menghadiri lebih dari 70% agenda kenegaraan tingkat tinggi dan sering kali memberikan dukungan publik tanpa melalui kajian mendalam atau pertimbangan dampak bagi rakyat. Ketika muncul kebijakan yang memberatkan masyarakat—seperti kenaikan harga energi, perubahan aturan pertanahan yang merugikan petani, serta pengurangan subsidi—suara kritis dari PBNU justru sangat lemah. Riset internal tahun 2024 menunjukkan penurunan indeks kepercayaan umat terhadap kemandirian organisasi mencapai 18%. Kedekatan berlebihan ini membuktikan bahwa NU telah kehilangan kemampuannya membela rakyat saat kekuasaan berbuat salah.

Sikap yang Meragukan pada Isu Strategis dan Prinsipil

Prinsip perjuangan NU tidak dapat ditawar, salah satunya adalah sikap tegas menentang penjajahan dan mendukung penuh kemerdekaan Palestina, serta menolak segala bentuk pengaruh yang bersimpati pada rezim Zionis.

Namun dalam masa kepemimpinan ini, muncul laporan adanya dugaan keterkaitan sejumlah tokoh di lingkungan PBNU dengan forum atau kepentingan yang diduga bersahabat dengan kepentingan asing tersebut. Alih-alih melakukan klarifikasi terbuka dan investigasi mendalam untuk menjaga kepercayaan umat, pimpinan pusat justru menganggap isu ini sepele atau membungkamnya dengan tuduhan memecah belah persatuan. Sikap diam dan tidak tegas ini menimbulkan keraguan mendalam: jika tuduhan itu salah, seharusnya dibuktikan; jika benar, maka ini adalah pengkhianatan terhadap perjuangan para pendahulu.

Gaya Memimpin yang Memicu Perpecahan Internal

Tugas utama pemimpin NU adalah menyatukan keberagaman pandangan di antara ribuan kiai, pesantren, dan kelompok pemikiran yang ada. Namun selama periode ini, terlihat polarisasi yang semakin tajam di tubuh organisasi. Keputusan strategis sering diambil secara terpusat dan sepihak tanpa melibatkan musyawarah yang luas bersama Dewan Ulama maupun perwakilan daerah.

Kelompok yang dekat dengan lingkaran pimpinan pusat mendapatkan akses, fasilitas, dan posisi yang lebih besar, sementara kelompok lain merasa terpinggirkan dan tidak didengar. Perbedaan pendapat yang dulu diselesaikan dengan silaturahmi dan kekeluargaan kini sering berujung pada pemisahan barisan. Hal ini membuktikan bahwa gaya kepemimpinan yang ada justru memperlebar jurang pemisah, bukan menjaga persatuan yang menjadi kekuatan utama NU selama satu abad lebih.

Pengelolaan Keuangan Tidak Transparan dan Tidak Dapat Dipertanggungjawabkan

Sebagai organisasi besar, NU mengelola aset dan dana yang sangat besar—diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah bersumber dari wakaf, infak, sumbangan, hingga hasil kerja sama usaha. Secara agama dan organisasi, pengelolaan harta umat wajib dipertanggungjawabkan secara rinci, terbuka, dan dapat diawasi.

Namun, selama masa kepemimpinan Gus Yahya, laporan keuangan yang disampaikan kepada publik hanya bersifat umum dan tidak terperinci. Tidak ada penjelasan yang jelas mengenai aliran dana setiap proyek, status pengelolaan tanah wakaf, maupun rincian hasil kerja sama usaha. Ketidakjelasan ini membuka celah kecurigaan adanya praktik pengelolaan yang tidak sesuai aturan. Jika urusan harta umat saja tidak dikelola dengan jujur dan terbuka, maka amanah yang lebih besar pun tidak layak dipercayakan lagi.

Kesimpulan

Muktamar 2026 adalah momen krusial untuk menentukan arah masa depan NU. Berdasarkan kelima indikator kegagalan di atas—mulai dari ketiadaan kualifikasi, hilangnya kemandirian, sikap yang tidak tegas, memburuknya persatuan, hingga ketidaktransparanan keuangan—sudah cukup bukti yang menunjukkan bahwa Gus Yahya gagal menjalankan amanah kepemimpinan.

Demi menjaga kemandirian, kehormatan, serta cita-cita perjuangan para pendiri, Gus Yahya tidak layak dicalonkan kembali untuk memimpin NU di masa mendatang. Organisasi ini membutuhkan pemimpin baru yang memiliki kualifikasi keilmuan, integritas, keberanian bersikap, serta mampu mengembalikan NU ke jalur perjuangan yang sesungguhnya.

KH. Roland Gunawan, Lc., Intelektual Muda NU

Tags: GagalGus YahyaKetum PBNUMemimpin NUNahdlatul Ulama
Share206Tweet129SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

NU dan Kepemimpinan Gus Kikin: Kompas Moral dan Visi Tranformatif Abad Kedua
Opini

NU dan Kepemimpinan Gus Kikin: Kompas Moral dan Visi Tranformatif Abad Kedua

by KH. Imam Jazuli, Lc. MA.
September 16, 2026
0

NU dan Kepemimpinan Gus Kikin: Kompas Moral dan Visi Tranformatif Abad Kedua

Read more
Paradoks Kiai Imjaz dan Buku NU Abad Kedua

Paradoks Kiai Imjaz dan Buku NU Abad Kedua

September 13, 2026
Ketua Umum Kaukus Intelektual Nahdlatul Ulama (KALAM NU) Abd. Aziz bersama Kiai Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Kantor PWNU Jatim, Selasa, 8 September 2026 sore.

Gus Kikin dan Ujian Besar Membenahi “Konstitusi” NU: Sebuah Kontribusi Pemikiran

September 9, 2026
Kedutaan Besar Australia Ucapkan Selamat kepada Gus Kikin, Soroti Kemitraan Panjang dengan NU

Kedutaan Besar Australia Ucapkan Selamat kepada Gus Kikin, Soroti Kemitraan Panjang dengan NU

September 9, 2026
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2632
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

760
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
Hilman Latief Ungkap Istilah “Tendangan Tanpa Bayangan” dalam Sidang Korupsi Kuota Haji

Hilman Latief Ungkap Istilah “Tendangan Tanpa Bayangan” dalam Sidang Korupsi Kuota Haji

September 25, 2026
MUSPIMNAS BEM PTNU 2026: Dorong Stabilitas Nasional, Ekonomi Kerakyatan, dan Tata Kelola Organisasi

MUSPIMNAS BEM PTNU 2026: Dorong Stabilitas Nasional, Ekonomi Kerakyatan, dan Tata Kelola Organisasi

September 25, 2026
Mantan Mensos Bachtiar Chamsyah Meninggal Dunia

Mantan Mensos Bachtiar Chamsyah Meninggal Dunia

September 25, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In