BANTEN | LIPUTAN9NEWS
Ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari hati belakangan ini terkait NU, apa salah NU, kenapa selalu disudutkan, kenapa selalu disalahkan, kenapa selalu dilecehkan, kenapa yang berbuat orangnya tapi yang disalahkan NU-nya ?. Bukankah NU adalah organisasi bukan orang.
Mulai dari kehadirannya di Seminar Internasional lintas iman di Israel, lalu dituduh sebagai kolaborator Zionis, hadir pada acara di Vatikan resmi undangan Paus Fransiscus tapi pulang pulang dituduh menggadaikan iman, isu tambang mencuat lalu rame rame menuduh NU sudah gila harta, lalu ada tokoh NU bilang Islam Nusantara kemudian dituduh aliran Anus dan dituduh sesat, kasus dugaan korupsi kuota haji hingga NU dituding sarang maling, sementara fakta persidangan saksi-saksi mencabut BAP-nya masing-masing, ini artinya KPK tengah mempidanakan tokoh NU hanya berbasis dugaan bukan bukti.
Kini bola liar di tengah publik terkait bisyaroh lalu itu dituduh risywah oleh kader NU dan tuduhan itu kepada elit NU, sama-sama NU. Sementara pasukan Buzzer Wahabi tengah menghadang isu demi isu yang berhembus dari NU, ibarat makanan pasukan buzzer Wahabi tinggal makan saja, karena sudah dihidangkan oleh orang NU sendiri.
Tanggapan demi tanggapan atas komentar kebencian dari mereka yang sangat benci NU eksis di Indonesia, karena NU adalah penghalang utama Wahabisasi Indonesia, benteng kuat NKRI. Kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf ditulis untuk hanya memfitnah NU, menciptakan stigma buruk pada NU, membuat opini jelek atas tokoh NU. Itu dimaksud agar NU ditinggalkan umatnya, karena itu jika NU ditinggalkan umatnya itu artinya basisnya kropos dari dalam.
Kalau sudah begitu paham khilafah akan jadi alternatif yang disodorkan oleh agen-agen HTI Wahabi dengan segala profesi dan tugasnya. HTI hanya mati suri bukan mati, HTI tugaskan kader kadernya untuk masuk NU agar bisa mengetahui dari dalamnya NU, mereka menyusup dengan pura-pura sebagai ansk keturunan NU, lalu agar bisa dipercaya mereka ikuti jenjang pengkaderan sebagai kedok.
Diskursus nasab ini telah menjadi isu nasional yang terus menerus dibiarkan oleh pemerintah, agar tetap dalam resonansi dua kepentingan negara yaitu konflik dan damai, chaos dan kondusif, pecah dan bersatu. Negara memang butuh keseimbangan dari rakyatnya, jika negara menjadi kuat maka rakyatnya jadi lemah dan jika rakyat kuat maka negara akan lemah, lalu kita pun hanya ” klinci ” di setiap percobaan skenario elit negara.
Saya pastikan NU tetap di jalan khittohnya 1926, istiqomah di dalam manhajnya Islam Ahli Sunnah wal Jama’ah, konsisten dengan ideologi kebangsaannya yakni Pancasila dan setia harga mati atas NKRI.
Lalu kita NU kuktural dan struktural harus melihat tuduhan, fitnahan, penghinaan, pembunuhan karakter atas NU dan ulama NU ini sebagai ANGIN BUSUK yang dibiarkan lewat, karena AROMA WANGI tidak akan mau bercampur dengan ANGIN BUSUK. Kita yakin jika konsisten pada agama, pada ilmu, pada adab, pada budaya, pada akal sehat maka NU akan hidup hingga akhir dunia ini.
Serang 17 Oktober 2026
KHM. Hamdan Suhaemi, Pengajar Pesantren Ashhabul Maimanah Sampang Susukan Tirtayasa Serang, Wakil Ketua PW GP Ansor Banten, Ketua PW Rijalul Ansor Banten, Sekretaris komisi Haub MUI Banten, Sekretaris Tsani Idaroh wustho Jam’iyah Ahlith Thoriqah Mu’tabaroh An-Nahdliyah Jatman Banten, Ketua FKUB Kab Serang, dan Anggota Dewan Pakar ICMI Provinsi Banten.

























