KABUPATEN BEKASI | LIPUTAN9NEWS
Khususiyah dalam tradisi spiritual tarekat bukan sekadar tentang banyaknya jamaah yang hadir, melainkan juga berkaitan dengan niat, adab, dan kesungguhan seseorang dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal tersebut disampaikan KH Agus Salim HS dalam kegiatan rutinan Tarekat Jumat pagi.
Pesan tersebut mengemuka dalam sebuah penjelasan keagamaan yang menyoroti pentingnya meluruskan niat ketika mengikuti amalan khususiyah. Kehadiran banyak orang dalam suatu majelis tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruhnya memiliki tujuan spiritual yang sama.
Dalam penjelasan tersebut, jumlah jamaah yang hadir tidak menjadi satu-satunya ukuran. Bahkan, ketika hanya beberapa orang yang datang, hal itu tidak otomatis menunjukkan kurangnya nilai suatu majelis.
Hal yang lebih penting adalah memahami tujuan kedatangan, menjaga adab, serta menata hati agar tidak terjebak pada penilaian lahiriah semata.
“Khususiyah hasnya dikenal dalam tradisi amaliah Tarekat Syadziliyah wal Qodiriyah wan Naqsabandiyah Pondok PETA Tulungagung,” jelas Kiai Agus Salim dihadapan Jamaan Musyawarah, Jumat (16/10/2026).
Penjelasan itu juga menekankan pentingnya memahami maksud ketika berkunjung kepada orang-orang saleh dan para wali Allah. Seseorang perlu menyadari tujuan kedatangannya, bukan sekadar mengikuti keramaian atau menjadikan pertemuan sebagai kegiatan seremonial.
Dalam konteks tersebut, kesungguhan hati dan orientasi untuk mendekatkan diri kepada Allah menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Khususiyah, sebagaimana dijelaskan dalam ceramah tersebut, memiliki kekhasan tersendiri. Pelaksanaannya tidak selalu ditandai dengan banyaknya peserta, tetapi lebih menekankan kesungguhan dalam menjalani amalan dan menjaga adab spiritual.
Selain membahas niat, penjelasan tersebut menyoroti perbedaan antara amalan dan perjalanan tarekat yang membutuhkan bimbingan.
Dalam tradisi tarekat, seorang murid memerlukan pembimbing atau mursyid untuk menuntun perjalanan spiritualnya. Bimbingan ini menjadi bagian penting dalam memahami amalan, menjaga adab, dan menjalani proses pendidikan rohani secara terarah.
Tanpa bimbingan yang memadai, seseorang berisiko memahami amalan hanya dari sisi lahiriah tanpa mendalami tujuan dan tanggung jawab spiritual yang menyertainya.
Karena itu, hubungan antara murid dan pembimbing tidak semestinya dipahami sekadar sebagai hubungan formal, melainkan sebagai proses pembelajaran yang menuntut kesungguhan, kedisiplinan, dan ketulusan.
Pesan lainnya adalah pentingnya melakukan evaluasi diri. Setiap orang perlu memeriksa kembali niat dan tujuan ketika mengikuti majelis keagamaan maupun menjalankan amalan tertentu.
Keramaian, pengakuan, dan penilaian manusia bukanlah tujuan utama dalam perjalanan spiritual. Sebaliknya, keikhlasan dan upaya mendekatkan diri kepada Allah perlu menjadi perhatian utama.
Melalui pemahaman tersebut, khususiyah diharapkan tidak berhenti sebagai rutinitas atau tradisi semata, tetapi menjadi sarana pembinaan batin yang dijalankan dengan niat yang benar, adab yang terjaga, serta bimbingan yang tepat.

























