SURABAYA | LIPUTAN9NEWS
Ketua Umum Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB), Abdur Rozaq Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal, mengajak santri dan generasi muda menjadikan Oktober sebagai momentum memperkuat komitmen kebangsaan serta melawan korupsi, intoleransi, radikalisme, khilafah, terorisme, premanisme, dan anarkisme.
Menurut Gus Wal, peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober dan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober memiliki nilai historis penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Ia mengingatkan peran KH Hasyim Asy’ari yang mencetuskan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 untuk menggerakkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“Perjuangan para santri, pondok pesantren dan kyai dalam mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah bentuk penyerahan seluruh jiwa dan raga kepada bangsa dan negara,” ujar Gus Wal kepada Liputan9.id, Kamis (22/10/2026).
Ia menilai santri, kiai, dan pondok pesantren memiliki peran penting sebagai kekuatan kultural masyarakat dalam menjaga persatuan dan kedaulatan bangsa.
Gus Wal menegaskan, meski Indonesia tidak lagi menghadapi perang kemerdekaan secara militer, tantangan terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara masih ada.
Karena itu, ia mengajak pemuda dan santri mengikrarkan komitmen antikorupsi, menolak narkoba dan judi online, serta melawan intoleransi, radikalisme, khilafah, terorisme, premanisme, dan anarkisme.
“Pemuda dan santri adalah para pelaku dan agen perubahan. Cermin bangsa ini ada pada karakter santri dan pemudanya,” katanya.
Gus Wal juga kembali mendorong penetapan 16 November sebagai Hari Toleransi Nasional. Menurut dia, momentum tersebut diharapkan menjadi pengingat pentingnya kehadiran negara dalam melindungi keberagaman dan mencegah tindakan intoleransi.
PNIB, lanjut Gus Wal, mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan semangat Hari Santri dan Sumpah Pemuda sebagai gerakan nyata untuk menjaga Pancasila, persatuan, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

























