JOMBANG | LIPUTAN9NEWS
Pertarungan memperebutkan kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU semakin menghangat.
Memasuki Sabtu (29/08/2026), peta dukungan di arena Muktamar yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, disebut mulai mengerucut pada empat nama.
Direktur Eksekutif Institute for Strategic and Political Studies (Intrapols), Bustomi Menggugat, mengungkap peta sementara persaingan tersebut berdasarkan informasi yang dihimpunnya dari sejumlah sumber di arena Muktamar.
Empat nama yang disebut masih diperhitungkan adalah KH Yusuf Khudori, KH Abdussalam Shohib, KH Yahya Cholil Staquf, dan KH Abdul Hakim Mahfudz.
“Dari beberapa sumber, di empat calon tersisa, petanya begini,” kata Bustomi kepada awak media, Sabtu (29/08/2026).
Yang menarik, dari empat nama tersebut, Bustomi menyebut dua kandidat dari kalangan muda diperkirakan memiliki dukungan lebih besar.
Jika peta tersebut bertahan hingga proses pemilihan, kondisi ini menjadi sinyal kuat munculnya energi regenerasi dalam tubuh organisasi yang memiliki basis massa besar di Indonesia tersebut.
“NU perlu energi muda dan bersih,” ujar Bustomi.
Namun, peta dukungan tersebut belum dapat dipandang sebagai hasil akhir. Konstelasi di arena Muktamar masih sangat mungkin berubah seiring berlangsungnya persidangan dan komunikasi antarpeserta.
Bukan hanya perebutan posisi Ketua Umum PBNU yang menjadi sorotan.
Dinamika pemilihan **Rais Aam PBNU** juga disebut mengalami pergeseran.
Bustomi menyampaikan informasi yang diterimanya bahwa KH Miftahul Akhyar diperkirakan tidak kembali menduduki posisi Rais Aam.
Sementara itu, nama KH Nurul Huda Jazuli dan KH Said Aqil Siroj disebut masuk dalam pembicaraan untuk posisi tersebut.
Termasuk mengenai paket Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), konstelasinya disebut mengalami perubahan dibandingkan informasi sebelumnya.
Meski demikian, Bustomi menegaskan bahwa seluruh informasi tersebut merupakan peta sementara berdasarkan laporan dari sejumlah sumber, bukan keputusan resmi Muktamar ke-35 NU.
Di tengah ketatnya perebutan kepemimpinan, Bustomi mengingatkan agar perbedaan pilihan tidak berubah menjadi permusuhan di antara warga NU.
Baginya, kompetisi kepemimpinan merupakan bagian dari dinamika organisasi. Ada yang menang dan ada yang kalah, tetapi seluruhnya harus tetap berada dalam bingkai persaudaraan.
“Bencilah sekadarnya dan cintalah sekadarnya. Kalah dalam kompetisi jangan sampai menjadi pemicu permusuhan. Biasa sajalah,” tegas kader senior IPNU tersebut.
Ia juga mengajak seluruh peserta Muktamar ke-35 NU menjaga suasana forum tetap cair, riang, dan penuh persaudaraan.
“Kita semua bersaudara dalam NU. Mari riangkan Muktamar NU,” pungkasnya.
Kini, perhatian publik tertuju ke arena Muktamar Tambakberas. Empat nama masih berada dalam pusaran pertarungan, peta dukungan bergerak, sementara keputusan final berada di tangan forum Muktamar.
Satu hal yang pasti: perebutan kepemimpinan PBNU kali ini bukan sekadar soal siapa yang menang, tetapi ke mana arah NU setelah Muktamar ke-35.

























