BUKHARA | LIPUTAN9NEWS
Dari kota yang menjadi salah satu jejak penting sejarah Naqshbandiyah, sebuah babak baru lahir. Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, M.Si., M.Hum., Mudir Ali Idarah Aliyah JATMAN, terpilih secara aklamasi memimpin International Naqshabandi Council (INC) atau Majelis Naqshbandi Se-Dunia.
Keputusan tersebut diambil dalam The 2nd International Naqshabandi Conference yang berlangsung di Universitas Negeri Teknologi Bukhara, Uzbekistan, Sabtu (19/09/2026).
Forum internasional itu mempertemukan ulama, mursyid, akademisi, pengamal Naqshbandi, dan delegasi dari 14 negara.
Aklamasi terhadap Ali Masykur Musa menjadi salah satu momentum utama konferensi. Setelah keputusan tersebut, forum dilanjutkan dengan pembacaan Deklarasi Piagam Bukhara yang menandai berdirinya International Naqshabandi Council.
Bukhara bukan sekadar lokasi konferensi. Kota ini memiliki hubungan historis yang kuat dengan tradisi Naqshbandiyah dan nama Syekh Bahauddin Naqshband, tokoh yang menjadi salah satu mata rantai penting dalam sejarah tarekat tersebut.
Di kota yang menyimpan jejak madrasah, masjid, ulama, dan perjalanan panjang peradaban Islam itu, jejaring Naqshbandi dari berbagai negara bertemu untuk membangun ruang persaudaraan dalam skala internasional.
Terpilih secara aklamasi, Ali Masykur Musa menempatkan kepemimpinan tersebut sebagai amanah, bukan sekadar posisi organisasi.
Ali Masykur Musa mengatakan tanggung jawab tersebut harus dijalankan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT.
“Amanah ini bukanlah mahkota untuk dibanggakan, melainkan jalan pengabdian yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.” ujarnya.
Pernyataan itu disampaikan Ali Masykur Musa setelah dirinya dipercaya memimpin INC.
Kepemimpinan di tingkat internasional, menurut Ali Masykur Musa, memiliki tanggung jawab besar untuk merawat keberagaman tradisi dan komunitas Naqshbandi yang tersebar di berbagai negara.
Berdirinya INC melalui Piagam Bukhara menjadi momentum baru bagi jejaring Naqshbandi internasional.
Tradisi yang selama berabad-abad berkembang melalui perjalanan para ulama dan mursyid kini memasuki ruang jejaring global.
Namun, menurut Ali Masykur Musa, perkembangan zaman tidak boleh membuat akar spiritualitas tercerabut.
Sanad, adab, dzikir, ilmu, ukhuwah, dan kemaslahatan tetap menjadi nilai yang harus dijaga.
Ali Masykur Musa juga menyampaikan bahwa warisan spiritual Naqshbandiyah perlu terus dihadirkan dalam kehidupan sosial dan kemanusiaan.
“Dari Bukhara, kita tidak sekadar membawa pulang kenangan sejarah; kita membawa amanah untuk menjadikan warisan spiritual sebagai cahaya bagi persaudaraan dan kemanusiaan.”
Pesan tersebut menjadi bagian dari refleksi atas lahirnya wadah internasional Naqshbandi di kota yang memiliki kedekatan historis dengan tradisi tersebut.
Piagam Bukhara sekaligus menjadi penanda dimulainya babak baru jejaring Naqshbandi lintas negara.
Di era komunikasi global, hubungan antarulama, mursyid, akademisi, dan pengamal tarekat dapat dibangun melampaui batas geografis.
Bagi Ali Masykur Musa, tantangan tersebut bukan hanya bagaimana memperluas jejaring, tetapi juga memastikan warisan spiritual tetap berakar pada sanad, ilmu, adab, dan pengabdian.
Ia menyebut jejak Syekh Bahauddin Naqshband masih hidup dalam ingatan umat dan menjadi bagian dari perjalanan panjang spiritualitas Islam.
Dari Bukhara, menurut Ali Masykur Musa, mata rantai tersebut kembali disambungkan.
“Dari Bukhara inilah langkah itu dimulai kembali,” pungkasnya.

























