BANTEN | LIPUTAN9NEWS
Di sore hari, ada capung-capung selepas hujan, juga riap sejumlah kupu-kupu yang adakalanya terbang dan adakalanya singgah di kelopak bunga. Getaran-getaran sayap mereka yang hampir tak terlihat seakan-akan mengajarkan kita tentang kegembiraan.
Mereka membentuk gerakan-gerakan yang mirip gelombang-gelombang kecil, gelombang-gelombang yang meliuk di atas semak belukar, rumput-rumput, dan ilalang, di saat buih-buih masih berjatuhan dan beterbangan. Seakan-akan mereka asik bercanda dengan hembus angin dan lembab cuaca.
Sementara itu, di barisan pohon-pohon, masih terdengar kicau burung-burung yang merasa kedinginan, dingin yang meresap pada bulu-bulu mereka. Tentulah di saat-saat seperti itu matahari sudah enggan menampakkan diri.
Di saat-saat seperti itu, sudut-sudut langit dan pematang-pematang sawah lebih mirip figur-figur bisu.
Dalam cuaca seperti itu sebenarnya kita tak hanya dapat memandangi capung-capung yang yang dapatlah kita umpamakan sebagai para peri mungil, sesekali juga kupu-kupu atau belalang-belalang yang meloncat-loncat dan yang terbang.
Dan ketika aku menulis catatan ini, aku tergoda untuk membayangkan getaran-getaran sayap-sayap mereka yang tipis itu adalah kiasan dari kematian yang menyamar sebagai keindahan dan kelembutan.
Aku tergoda untuk mengandaikan mereka adalah maut yang bermain-main itu sendiri. Aku akan menyebut capung-capung itu sebagai peri-peri kecil yang tengah mencandai kematian, sosok kematian yang memang tidak terlihat oleh mata telanjang dan hanya bisa dipahami oleh keintiman bathin kita.
Demikianlah, kepada semesta, kuarahkan dua mataku menembus lembab kaca jendela, memandangi dinding-dinding langit dan cakrawala.
Rumput-rumput dan jalan basah seakan dunia-dunia yang terbaring dalam sapuan gelombang-gelombang angin yang mengirimkan dingin pada tubuh dan wajahku.
Sepasukan burung-burung kuntul melintasi keheningan menempuh perjalanan migrasi mereka, yang kuandaikan sebagai perubahan hidup dan pengulangan, atau tak ubahnya kesementaraan dan usia yang menghitungi dirinya sendiri, laiknya komposisi-komposisi musik klasik dan musik jazz yang kurenungi.
Di saat yang sama, gerimis kebisuan dan keheningan cuaca masih membasahi pepohonan dan tiang-tiang lampu sepanjang jalan. Sang waktu pun lelap bersama mimpi-mimpinya di antara buih-buih dan kabut.
Meski dedaunan kadang-kadang bergeletar pelan, seakan apa saja yang diciumi gerimis yang kanak-kanak itu membeku dalam pandangan kedua mataku, mirip tangan-tangan gaib para malaikat yang ada dalam angan-angan dan khayalan.
Barangkali, bila waktu dan masa silam, yang orang-orang menyebutnya sebagai usia, dapat diringkas, tentu hanya puisi yang sanggup menerjemahkannya dalam kata. Tetapi waktu yang kupahami itu dapat pula dikiaskan sebagai maut yang tertunda.
Sebab, waktu yang kupahami itu tak lain adalah burung-burung di pagi hari, lidah-lidah cahaya di dahan-dahan basah, jari-jari lembut matahari yang setia menyentuh bumi, dan tanah-tanah lembab yang ditinggalkan hujan.
Dan tentang ingatan masa kanak-kanak, ketika aku duduk berteman selampu minyak di antara hujan selepas isya. Karena, ketika kurenungkan segala yang pernah kulakukan di masa kanak-kanak, serasa tak ada yang berubah, dan itulah yang akan kunamakan sebagai waktu dan usia.
Sulaiman Djaya, Penyair

























