BANTEN | LIPUTAN9NEWS
Robert Frost dan Walt Whitman adalah dua penyair besar Amerika yang meniti proses kepenyairan secara berbeda dan unik. Menurut Robert Frost, sebuah puisi harus ‘bermula dari kesenangan (kegairahan) dan berakhir dengan kebijaksanaan atau kearifan’ – begins in delight and ends in wisdom.
Robert Frost menolak metode penulisan yang terlalu mekanis atau sekadar trik akademis. Dalam kepercayaan Robert Frost, puisi adalah proses organik yang menyatukan pikiran (rasio) dan emosi secara padu dan bersamaan.
Berbeda dengan Frost, meski masih senafas, Walt Whitman memandang esensi sejati dari sebuah momen harus ditangkap secara langsung. Ia tidak menyukai puisi yang terlalu direncanakan atau dipikirkan secara berlebihan di dalam kamar.
Untuk mempraktikkan kepercayaan dan pandangannya ini, Walt Whitman senantiasa membawa buku catatan kecil ke mana pun ia pergi. Ia akan langsung menuliskan apa yang ia lihat, yang ia rasakan, dan yang ia dengar saat berjalan-jalan di kota atau di alam bebas, selagi fakta dan atmosfernya masih segar di ingatan.
Whitman menyebut metode dan proses kreatifnya itu sebagai Writing in the Gush atau menulis puisi berdasarkan momentum. Apa yang dipercayai Walt Whitman itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang diyakini Robert Frost: bahwa puisi senantiasa diawali dengan kejutan emosional atau dorongan emosi yang belum menemukan bentuknya. Semacam stimmung atau suasana hati. Bahan mentah atau ilham tiba-tiba.
Frost menyebutkan sejumlah contohnya: seperti rasa rindu, jatuh cinta, keterpesonaan pada alam atau suasana, atau kegairahan (delight). Impuls awal ini bukanlah sebuah skema logis, melainkan suasana hati (mood) atau intuisi yang menuntut untuk diekspresikan.
Karena kepenyairan bukan kerja akademik yang kaku, Robert Frost menggambarkan saat seorang penyair atau penulis puisi mengumpulkan ide, maka seperti ‘semak yang menempel pada baju’ (insights stick to them like burrs).
Seorang penyair menyerap realitas kehidupan, bukan mendefinisikannya. Menggambarkannya untuk menjadi lebih hidup dan menginspirasi. Seorang penyair berinteraksi dengan alam dan semesta, mengakrabi realitas yang dijumpai dan disinggahi dengan rendah hati.
Menurut Robert Frost, proses kreatif menulis puisi adalah proses penemuan, dan karenanya ia tidak pernah merencanakan akhir sebuah puisi. Sebagaimana ia ungkapkan lewat esai terkenalnya, The Figure a Poem Makes, puisi yang baik atau yang berhasil harus mengejutkan penyairnya sendiri saat baris-barisnya mengalir. Jika pembaca saja tidak mendapatkan kejutan, artinya penyair pun tidak terkejut saat menulisnya.
Namun penting untuk diingat, meskipun proses menulis puisi bersumber dari luapan emosi, Robert Frost sendiri sebagai penyair menggunakan struktur formal (seperti meteran iambik, ritme, dan rima) untuk mendisiplinkan emosi tersebut.
Frost terbukti sangat ahli dalam menangkap ritme percakapan nyata manusia (the sound of sense) dan memasukkannya ke dalam keteraturan bait puisi tradisional. Menurut Robert Frost, menulis puisi tanpa aturan struktur formal, seumpama ‘bermain tenis tanpa net.’
Robert Frost juga menekankan bahwa puisi harus memikat pembaca sejak awal melalui keindahan bahasa. Dalam hal demikian, Frost menekankan bahwa puisi harus memiliki musikalitas yang terbentuk dari metrum yang ketat namun tetap mempertahankan sentuhan ‘liar’ dan kebebasan berekspresi penyairnya.
Saat seorang penyair menulis puisi, penyair membiarkan ide berkembang secara organik. Pembaca juga harus merasakan kejutannya saat menemukan makna di balik kata-kata yang ditulis penyair. Karena itulah, demikian menurut Frost, imajinasi murni lebih penting daripada intervensi intelektual yang berlebihan, sebab intervensi intelektual berlebihan bisa mematikan ruh sebuah karya seni.
Tentu tidaklah lengkap bila kita membincang proses kreatif penulisan puisi versi Robert Frost dan Walt Whitman, tapi tidak membaca contoh puisi mereka berdua. Kita mulai dari puisi karya Robert Frost dalam versi aslinya dan terjemahan Bahasa Indonesia:
Whose woods these are I think I know.
His house is in the village though;
He will not see me stopping here
To watch his woods fill up with snow.
(Siapa pemilik hutan ini sepertinya kutahu.
Ia berumah jauh di desa sebelah sana itu;
Tak akan terlihat olehnya aku singgah sebentar
Memandangi hutannya penuh ditutupi salju.)
My little horse must think it queer
To stop without a farmhouse near
Between the woods and frozen lake
The darkest evening of the year.
(Kuda kecilku pasti terheran-heran
Mengapa berhenti jauh dari perkampungan
Di antara hutan terpencil dan danau beku
Adalah senja terkelam di sepanjang tahun.)
He gives his harness bells a shake
To ask if there is some mistake.
The only other sound’s the sweep
Of easy wind and downy flake.
(Kudaku kelonengkan bel mungilnya
Mungkin bertanya ia adakah yang tak biasa.
Suara lain terdengar hanyalah sayup sapuan
Dari angin lembut dan guguran salju di udara.)
The woods are lovely, dark and deep.
But I have promises to keep,
And miles to go before I sleep,
And miles to go before I sleep.
(Hutan ini alangkah menawan, dalam, dan gelap.
Sayang aku ada janji yang tak boleh tersilap,
Dan bermil lagi perjalanan sebelum lelap,
Dan bermil lagi perjalanan sebelum lelap.)
O Captain! My Captain!
By Walt Whitman
O Captain! my Captain! our fearful trip is done,
The ship has weather’d every rack, the prize we sought is won,
The port is near, the bells I hear, the people all exulting,
While follow eyes the steady keel, the vessel grim and daring;
But O heart! heart! heart!
O the bleeding drops of red,
Where on the deck my Captain lies,
Fallen cold and dead.
(DUHAI KAPITEN! Kau Kapitenku! Perjalanan mengerikan telah usai;
Kapal lewati segala dera, impian pun sudah di genggaman;
Dermaga sudah dekat, kudengar loncengnya, orang-orang bersuka ria,
Sementara mata ikuti lunas yang kokoh, kapalku merengut gagah:
Namun, Duhai hati! hati! hati!
Duhai tetesan darah yang memerah,
Di geladak Kapitenku terkapar,
Dingin tak bernyawa.)
O Captain! my Captain! rise up and hear the bells;
Rise up—for you the flag is flung—for you the bugle trills,
For you bouquets and ribbon’d wreaths—for you the shores a-crowding,
For you they call, the swaying mass, their eager faces turning;
Here Captain! dear father!
This arm beneath your head!
It is some dream that on the deck,
You’ve fallen cold and dead.
(DUHAI Kapiten! Kau Kapitenku! bangkit dan dengar lelonceng itu;
Bangkitlah, untukmu bendera itu berkibaran, untukmu terompet membahana;
Untukmu karang-karangan bunga berpita, untukmu penuh sesak pantai ini;
Untukmu mereka berseru, kerumunan itu riuh rendah, semuanya mencarimu;
Kemarilah Kapiten! Ayahku tercinta!
Biarkan lenganku membopong kepalamu;
Seolah mimpi, kau di geladak ini,
Terkapar dingin tak bernyawa.)
My Captain does not answer, his lips are pale and still,
My father does not feel my arm, he has no pulse nor will,
The ship is anchor’d safe and sound, its voyage closed and done,
From fearful trip the victor ship comes in with object won;
Exult O shores, and ring O bells!
But I with mournful tread,
Walk the deck my Captain lies,
Fallen cold and dead.
(Kapitenku tidak menjawab, bibirnya pucat dan beku;
Ayahku tidak bisa merasakan lenganku, tak ada denyut tak ada kehendak;
Sauh telah dilepas, pelayarannya telah usai;
Setelah perjalanan maut, kapal telah berjaya, impian telah terjala;
Bersukalah, semua pantai, berkelonenglah, semua lonceng!
Sedang aku, dengan langkah duka,
Di geladak Kapitenku terkapar,
Dingin tak bernyawa.)
Sulaiman Djaya, Penyair

























