BOJONEGORO | LIPUTAN9NEWS
Menyambut Hari Santri Nasional dan Hari Sumpah Pemuda, Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) bersama Asparagus, Banser, Pagar Nusa, dan BEM PTNU kembali menyalurkan bantuan air bersih bagi warga terdampak kekeringan di Tuk Buntung, Desa Nganti, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Dalam kegiatan pada 13 Oktober 2026 tersebut, sebanyak 30.000 liter air bersih disalurkan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Aksi sosial ini sekaligus menjadi pengingat agar penanganan kekeringan tidak berhenti pada bantuan darurat setiap musim kemarau.
Ketua Umum PNIB, Abdur Rozaq Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal, menegaskan bahwa akses air bersih merupakan kebutuhan dasar yang harus dijamin secara berkelanjutan.
“Air bersih adalah kebutuhan dasar rakyat, bukan kemewahan. Sangat ironis jika masyarakat masih kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari, sementara pemerintah memiliki kewenangan dan anggaran untuk mengantisipasinya. Jangan sampai rakyat terus diminta bersabar setiap kemarau datang, tetapi solusi permanen tak kunjung dirasakan,” tegas Gus Wal.
Menurutnya, pemerintah pusat, Kementerian Sosial, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro perlu memperkuat koordinasi serta mengevaluasi penanganan kekeringan agar bantuan menjangkau masyarakat secara merata.
Ia menilai distribusi air tangki memang diperlukan dalam kondisi darurat. Namun, solusi jangka panjang juga harus dipercepat melalui pembangunan sumur bor, penampungan air, jaringan perpipaan, serta perlindungan sumber mata air di wilayah rawan kekeringan.
“Kalau persoalan ini terus berulang, pemerintah harus berani mengevaluasi kebijakannya. Jangan sampai anggaran habis untuk penanganan darurat, sementara akar masalah tidak terselesaikan. Rakyat membutuhkan kepastian akses air bersih, bukan sekadar bantuan sesaat,” lanjutnya.
Gus Wal menegaskan, momentum Hari Santri Nasional dan Hari Sumpah Pemuda harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar seremoni. Semangat pengabdian, gotong royong, persaudaraan, dan persatuan harus hadir dalam kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan tanpa membedakan agama maupun kelompok.
“Nasionalisme bukan hanya mengibarkan Merah Putih atau mengucapkan ikrar persatuan. Nasionalisme adalah keberanian hadir membantu rakyat. Namun, gotong royong masyarakat dan organisasi masyarakat yang melakukan bhakti sosial tidak boleh dijadikan alasan bagi pemerintah untuk mengabaikan tanggung jawabnya,” tandasnya.
PNIB juga mendesak pemerintah melakukan evaluasi serius terhadap penanganan kekeringan, menjamin pemerataan bantuan, membuka data wilayah terdampak secara transparan, serta membangun sistem penyediaan air bersih yang berkelanjutan.
Menurut Gus Wal, keberhasilan pemerintah semestinya diukur dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat, bukan semata-mata besarnya anggaran atau banyaknya program yang dijalankan.
Gus Wal menjelaskan, kegiatan sosial penyaluran air bersih tersebut merupakan bagian dari aksi PNIB yang telah dilakukan selama 12 tahun terakhir, setiap musim kemarau di berbagai daerah lintas kabupaten dan provinsi.
Selain membantu warga memenuhi kebutuhan air bersih, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat nasionalisme, wawasan kebangsaan, toleransi, dan persatuan Indonesia.
PNIB mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama menolak dan melawan intoleransi, korupsi, khilafah, terorisme, radikalisme, anarkisme, serta premanisme.
Melalui kolaborasi bersama Asparagus, Banser, Pagar Nusa, dan BEM PTNU, PNIB berharap semangat Hari Santri dan Sumpah Pemuda semakin nyata dalam aksi kemanusiaan sekaligus memperkuat solidaritas kebangsaan.
Bagi PNIB, kepedulian terhadap warga terdampak kekeringan bukan hanya bentuk gotong royong, melainkan juga pengingat bahwa pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat tetap menjadi tanggung jawab negara.
























