JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Imam Jazuli menyerukan transformasi besar-besaran di dunia pesantren dan pembaruan strategi dakwah NU. Pesantren dinilai perlu memperluas kompetensi lulusannya, sementara dakwah harus beradaptasi dengan perkembangan digital agar lebih dekat dengan generasi muda.
Pandangan tersebut disampaikan KH Imam Jazuli usai pelantikan pengurus PBNU masa khidmah 2026–2031 di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (24/10/2026).
Menurutnya, tantangan NU ke depan adalah memperluas penerimaan di kalangan generasi Z dan generasi Alpha, mengingat basis massa NU selama ini banyak berada di wilayah perkampungan dan kalangan generasi lebih tua.
“Agenda besar kita adalah bagaimana NU itu bisa diterima oleh Gen Alpha dan Gen Z,” ujar Kiai Imam Jazuli.
Ia menegaskan, dakwah NU tidak cukup hanya mengandalkan pengajian konvensional. Organisasi perlu mengembangkan konten digital yang relevan, menarik, dan mampu menjawab persoalan anak muda.
“Bagaimana menghadirkan konten-konten yang bisa diterima, yang relate dengan anak muda, konten-konten yang solutif, yang sesuai dengan kebutuhan mereka, dan disajikan dengan gaya kekinian,” jelasnya.
Ia mencontohkan, pesan dakwah dapat dikemas dalam video singkat berdurasi sekitar 60 detik agar lebih mudah menjangkau generasi muda melalui media digital.
Selain dakwah digital, pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, itu menyoroti pentingnya pembaruan sistem pendidikan pesantren. Menurutnya, lulusan pesantren perlu memiliki kompetensi yang lebih beragam, tidak hanya terkonsentrasi pada bidang keagamaan.
“Harus kita akui pesantren sangat banyak jumlahnya, tetapi SDM yang dihasilkan oleh pesantren belum sesuai harapan kita. Kenapa? Masih terkonsentrasi pada SDM bidang keagamaan. Hampir 90 persen bidangnya keagamaan,” ungkapnya.
Ia menilai Indonesia membutuhkan sumber daya manusia berkualitas di berbagai sektor, mulai dari birokrasi pemerintahan, dunia profesional, hingga kewirausahaan.
Karena itu, pesantren perlu memperluas orientasi pendidikan agar santri memiliki keahlian yang sesuai dengan kebutuhan bangsa dan mampu berkontribusi di berbagai bidang strategis.
“Sehingga ke depan, kita bisa mengharapkan pesantren itu sebagai solusi untuk bangsa,” tegasnya.
Kiai Imam Jazuli juga menyoroti pentingnya kehadiran lulusan pesantren di lingkungan birokrasi, baik eksekutif maupun legislatif. Menurutnya, kompetensi profesional perlu berjalan beriringan dengan integritas dan kejujuran.
Ia menilai nilai-nilai yang ditanamkan di pesantren dapat menjadi bekal penting untuk memperkuat integritas dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Karena itu, santri perlu dipersiapkan agar mampu memasuki berbagai bidang pekerjaan dengan kompetensi yang memadai, sekaligus membawa nilai moral dalam menjalankan tanggung jawabnya.
Kiai Imam Jazuli berharap kepengurusan baru PBNU dapat memfasilitasi transformasi tersebut dengan mendorong pesantren lebih terbuka terhadap perubahan zaman.
“Di situlah pentingnya para pengasuh pesantren untuk siap bertransformasi, dan PBNU sebagai ormas harus memfasilitasi ini agar proses transformasi ini bisa berjalan,” pungkasnya.
Transformasi pesantren dan dakwah digital, menurut arah pemikiran tersebut, menjadi bagian penting agar NU semakin relevan bagi generasi muda sekaligus mampu melahirkan sumber daya manusia yang berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

























