BANTEN | LIPUTAN9NEWS
Sejarah kerapkali mencatat atau mengisahkan ihwal peran orang-orang besar atau para tokoh ‘populer’ ke panggung jaman atau ke pentas abad-abad peradaban manusia, dan jarang yang mengangkat peran rakyat jelata atau orang-orang kecil, semisal orang-orang desa (kampung). Padahal, sejatinya, mereka-lah penggerak utama kaki-kaki kehidupan mengarah ke masa depan, dan pendorong utama roda-roda sejarah dalam aktivitas dan peristiwa yang nantinya akan mencipta perubahan. Dalam dunia kepenulisan atau kepengarangan pun demikian, bila berkenaan dengan sejarah, termasuk yang dilakukan oleh Pramoedya Ananta Toer dengan Bumi Manusia-nya, yang pada dasarnya masih berpusat pada orang-orang besar. Novel Secangkir Kopi Terakhir Ayah karya Prof. Dr. Jajang Jahroni, menawarkan perspektif dan pendekatan yang berbeda.
Dalam pengantarnya di salah satu buku yang ditulisnya tentang sejarah Banten, Claude Guillot, sejarahwan Perancis itu, ‘menyesalkan’ sikap Hoesein Djajadiningrat yang meremehkan nilai dan makna penting sumber lokal, semisal babad dan cerita rakyat, untuk membaca kembali dan menafsir ‘sejarah’. Padahal, dalam babad atau cerita rakyat itu, minimal ada informasi dan data sejarah, sekecil apapun, yang acapkali luput dari perhatian para penulis dan para pencatat dari Eropa, yang acapkali pula sebenarnya tidak pernah utuh memahami kosmologi dan mentalitas kebudayaan Nusantara. Dari sudut antropologi budaya, kritik serupa juga dilontarkan Clifford Geertz.
Sikap elitis dan rasialis itulah, yang pada akhirnya ‘kurang padu’ dan ‘gagal’ untuk menangkap dan membaca fenomena dan fakta sejarah di akar rumput. Mazhab Annales, atau total history (sejarah total), setidak-tidaknya hendak menghempaskan sikap meremehkan yang Eropa-sentris tersebut, karena pada akhirnya berdampak pada kegagalan untuk memahami mentalitas masyarakat di luar Eropa yang dikaji sebagai pelaku sejarah itu sendiri. Dan mentalitas masyarakat itu acapkali dibentuk oleh kosmologi keagamaan dan kebudayaan mereka. Termasuk mentalitas masyarakat Banten yang dibentuk oleh kosmologi teologis-religius Islam sejak hadirnya Islam di tanah Banten.
Lalu, bagaimana jika warisan sastra lisan cerita rakyat, semisal dongeng dan hikayat, dipadu dengan bentuk dan gaya naratif prosa tulis modern, seperti novel? Secangkir Kopi Terakhir Ayah, dalam kadarnya yang tidak terlampau ambisius mengejar hal itu, sesungguhnya telah mempraktikkan seni bercerita masyarakat Nusantara di masa lampau dalam perkembangan dan kebutuhan berbahasa dan membaca dalam konteks kekinian. Novel ini banyak menyisipkan cerita rakyat, sebagai pendukung atau penguat cerita dan karakter tokohnya. Contohnya cerita Curanggana dan Sumaringgi yang populer di masyarakat Panebong, yang menggambarkan ihwal keberanian, pengorbanan, dan kesetiaan anak-anak manusia. Sekaligus menggambarkan anak-anak manusia yang culas dan serakah, hingga tak segan mengorbankan orang lain demi kepentingan diri sendiri.
Dalam narasi penggambaran kehidupan masyarakat petani di Panebong, yang merupakan panggung utama sebagai setting novel ini, juga menggambarkan aneka seni tradisi dan hiburan rakyat masyarakat Banten di masa itu, yang sebagiannya kini masih lestari. Tak terkecuali ragam kebudayaan kreasi kuliner masyarakat agraris di pedesaan tersebut, yang juga secara umum, sesungguhnya merupakan ragam kreasi kuliner masyarakat Banten. Dan informasi-informasi kultural tersebut dapat dianggap sebagai data sejarah –sejarah kebudayaan Banten. Salah-satu kebudayaan Banten yang dihidupkan dan dirawat masyarakat Panebong, sebagaimana dikisahkan novel ini, adalah silat.
Gaya naratif penceritaan atau pengisahan bab-bab awal novel ini, mirip cerita berbingkai Kisah Seribu Satu Malam (Alfu Layla wa Layla) yang diproduksi di era Imperium Islam Abbasiyah, yang telah lama diterbitkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh penerbit Mizan dalam beberapa jilid. Ada cerita dalam cerita –si tokoh dalam cerita, yang dalam novel ini adalah Soleman, si pemuda berbadan perkasa berdarah India-Gurkha, bercerita kepada khalayak yang merubunginya sebuah kisah tragedi asmara antara Curanggana dan Sumaringgi.
Begitu pun bentuk dan pilihan penceritaan atau pengisahan novel Secangkir Kopi Terakhir Untuk Ayah, senantiasa menyelipkan kisah masa silam Banten sembari berkisah tentang kehidupan dan aktivitas tokoh-tokoh dalam novelnya. Artinya, cerita rakyat masyarakat Nusantara dari masa silam, sesungguhnya masih relevan untuk diaktualisasikan ke dalam konteks prosa tulis modern (kontemporer) jaman kita saat ini, semisal novel.
Secara garis besar, novel ini adalah perpaduaan antara fiksi dan sejarah. Di dalamnya disebutkan dan diceritakan, meski sesekali saja atau tidak dominan, tokoh-tokoh historis seperti Hermann Willem Daendels, si Gubernur Jenderal Hindia Perancis (karena di masanya Belanda ditaklukkan Perancis dan menyerah kepada Perancis) dan Daan Mogot, prajurit pribumi dari Minahasa yang gugur di Tangerang, dan tentu saja ada tokoh-tokoh fiktif, yang sangat mungkin tokoh-tokoh fiktif dalam novel ini adalah imitasi dari tokoh-tokoh nyata. Sudah tentu pula, dibutuhkan kepiawaian sekaligus ketelitian untuk merangkai atau mengimajinasikan kembali peristiwa historis saat digabungkan dan diselaraskan dengan fiksi demi menjadi cerita yang padu dan utuh.
Novel Secangkir Kopi Terakhir Ayah bercerita tentang kampung (desa) Panebong –sejarah dan orang-orangnya. Semesta novel ini adalah Panebong dan masyarakat agraris di masa-masa kolonialisme abad 20. Pedesaan yang didirikan Pangeran Wangsakarta itu adalah masyarakat, yang pada dasarnya, ingin hidup damai dan normal, namun situasi dan keadaan menciptakan kondisi berbeda. Mereka harus angkat senjata mempertahankan tanah air mereka dari penindasan Belanda dan Jepang.
Kemudian, siapa saja tokoh-tokoh yang dinarasikan secara dominan? Tokoh-tokoh yang narasinya dominan dalam novel ini adalah tiga serangkai Kartiwa, Soleman dan Dulmukti. Barangkali perumpamaan atau peminjaman dari kiprah tiga serangkai pergerakan kemerdekaan Indonesia: Ernest François Eugène Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi), Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Raden Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara). Sengaja dalam tulisan ini tokoh-tokoh (nama-nama tokoh) dalam novel diabsen dan didata, karena pada dasarnya novel ini adalah roman sejarah rakyat. Sejarah pergerakan dan perlawanan yang dilakukan orang-orang kecil atau rakyat jelata, bukan orang-orang besar.
Di Bab 23 digambarkan kegamangan atau keterbelahan dan dilema identitas keturunan Cina dalam eksistensi dan keberadaan serta kebersamaan mereka bersama warga pribumi Tangerang, serta benih-benih konflik yang bisa meletus dan meletup kapan saja. Contohnya adalah provokasi yang dilancarkan oleh Pendi (Supendi) kepada warga bahwa keturunan Cina di Tangerang adalah antek Belanda. Padahal Koh Acong sendiri adalah mantan pemimpin perlawanan para pemuda keturunan Cina terhadap Belanda.
Ketika kita membuka lembar demi lembar, halaman demi halaman novel ini, kita seperti sedang mengikuti alur film drama tragis. Baca saja bab dan bagian ketika Roganda keturunan Jayasukrama si pembuat kapal di era Kesultanan Banten, si tokoh antagonis dan pengkhianat bangsanya, menculik Arbaiyah untuk dijadikan budak seks tentara Jepang. Demi upah untuk bermain judi dan menggasak tubuh lonte kesayangannya dari Warudoyong, Suhenah, Roganda membawa Arbaiyah kepada Kolonel Fukoda, komandan pasukan Jepang di distrik Balaraja.
Roganda pula yang membocorkan informasi tentang nilai dan peran penting Raden Marsudi Somawidjaja atau Mang Emar, anaknya Raden Entang Somawidjaja, keluarga progresif yang memberikan pencerahan bagi pribumi dan mentornya Kartiwa, Soleman dan Dulmukti, kepada pihak Jepang, hingga mantan penyiar radio yang berpacaran dengan noni Belanda itu ditembak mati tentara Jepang di hadapan para penduduk.
Butuh stamina dan konsentrasi yang terjaga untuk menulis novel yang alurnya tidak mudah ditebak, tidak lurus, yang acapkali diselingi kilas balik ala film-film bermutu, dan dibumbui dengan cerita rakyat, demi menguatkan cerita dan karakter serta motif tindakan para tokoh novelnya. Sudah tentu pula butuh kemampuan untuk menjaga agar alur dan struktur berceritanya tidak luber tak karuan untuk menulis novel setebal 350 halaman ini.
Jawaban dari motif kedatangan anggota parlemen Belanda untuk mengetahui keberadaan kampung Kartiwa, ayahnya, bagaimana kedua orang tuanya bertemu, baru mulai dikisahkan di bab 13, sebelum dikisahkan di bab-bab selanjutnya. Yaitu ketika Kartiwa, yang kere, terpaksa harus berangkat ke Cirebon menumpang kereta, setelah mengetahui bahwa Arbaiyah telah dipindah ke Cirebon atas permintaan komandan Jepang di sana yang mendapatkan informasi kecantikan Arbaiyah.
Di sebuah rumah sakit, di Cirebon itulah, Kartiwa bertemu suster Eva Koemans, perempuan Belanda yang cantik menawan, yang merawat Arbaiyah yang telah diungsikan di sana, setelah tak berdaya sakit karena melayani nafsu bejat para tentara Jepang. Eva tahu Kartiwa yang kere itu tidak mungkin menyewa penginapan, dan karena itulah Eva meminta Kartiwa tinggal saja di salah satu ruangan di rumahnya. Arbaiyah sendiri butuh perawatan cukup lama, dan selama menunggu kepulihan Arbaiyah itu, terjadilah intensitas pertemuan dan perbincangan antara Eva dan Kartiwa yang pada akhirnya berlanjut pada hubungan asmara dan percintaan.
Bila kita cermati dan analisis alur dan struktur penceritaannya, novel ini sangat bisa bila di kemudian hari diadaptasi menjadi sebuah film roman sejarah. Tentu harus diolah oleh penulis skenario hebat dan sutradara yang tepat. Bahkan bisa pula diadaptasi menjadi naskah drama di panggung pertunjukkan teater.
Novel ini memadukan gaya sastra lisan dan fiksi modern, yang dalam hal ini mewujud menjadi prosa novel yang memadukan sastra lisan dan sastra tulisan. Cerita-cerita rakyat atau dongeng para leluhur yang dikisahkan dalam novel ini berfungsi sebagai pendukung alur cerita novel, penguat dan pendukung tema-tema tambahan novel, seperti kesetiaan, keberanian, dan kejujuran. Dan termasuk pendukung (perumpamaan dan perbandingan) antara tokoh-tokoh dalam novel dan tokoh-tokoh dalam cerita-cerita rakyat, semisal tokoh-tokoh protagonis dan antagonis dalam novel dengan tokoh-tokoh protagonis dan antagonis dalam cerita-cerita rakyat.
Gagasan utama novel ini berpusat pada sejarah rakyat atau people history. Sejarah orang-orang kecil atau rakyat jelata. Bukan berpusat pada hero orang-orang besar. Novel ini pada dasarnya ingin mengangkat atau mengisahkan peran atau kiprah orang-orang Panebong secara khusus dan orang-orang Banten secara umum (terutama Kartiwa, Soleman, dan Dulmukti yang merupakan tiga serangkai pusat cerita novel) dalam perjuangan melawan kolonialisme abad dua puluh dan perjuangan sewaktu berlangsung gerakan republik untuk mempertahankan Indonesia yang telah memproklamasikan kemerdekaan dari agresi Belanda dan Sekutu yang hendak menjajah Indonesia kembali. Yang pada akhirnya, dengan sendirinya, tema-tema seperti nasionalisme dan patriotisme masuk dan bertaut bersama tema inti dan gagasan utama novel ini.
Gagrak novel ini adalah roman sejarah. Yaitu sejarah perjuangan melawan kolonialisme Belanda dan Jepang. Dibumbui atau dikuatkan sentuhan emosionalnya dengan cerita atau kisah tragis tokoh tertentu dalam novel ini, semisal Arbaiyah yang dijadikan budak seks para tentara Jepang dan meninggal dalam pasungan sebagai istrinya Kartiwa yang terserang trauma akut masa lalunya dan menjadi gila akibat kematian bayi mereka.
Tokoh-tokoh rakyat jelata yang menjadi pusat cerita novel ini adalah tiga serangkai rakyat Panebong (Banten): Kartiwa, Soleman dan Dulmukti. Tiga tokoh ini yang paling mendominasi cerita dan penggambaran karakter dan pergulatan batin tokoh-tokoh dalam novel.
Tokoh antagonis novel ini adalah Roganda. Antek Jepang yang gemar berjudi dan main bareng lonte, dan menjual bangsanya kepada penjajah. Digambarkan sebagai tokoh yang menghalalkan segala cara, seperti tak segan-segan mencuri dan memeras. Intinya seorang begundal yang bejat.
Tokoh tragis dalam novel ini adalah Arbaiyah yang dijadikan budak seks setelah diculik dari rumahnya, dan kemudian dinikahi Kartiwa setelah pulih dari sakit parah di rumah sakit di Cirebon akibat dijadikan budak seks di Balaraja dan di Cirebon.
Tokoh antagonis kedua dalam novel ini adalah Supendi (Pendi). Provokator dan aktor intelektual kebencian dan kerusuhan rasial antar warga di Tangerang, semisal kerusuhan yang mengarah pada pembakaran padepokan kung fu dan kelenteng milik etnis Tonghoa di Benteng dan Balaraja. Memiliki karakter yang sombong dan memaksakan kehendak.
Pilihan gaya dan bentuk serta narator novel ini mengingatkan kita pada naratornya novel Pride and Prejudice-nya Jane Austen, Ivanhoe-nya Sir Walter Scott, Lord of the Rings-nya J.R.R Tolkien, dan novel lainnya yang sejenis novel-novel tersebut. Dalam novel Secangkir Kopi Terakhir Ayah ini, narator mengisahkan atau menyampaikan cerita kepada kita (para pembaca) dari luar cerita atau dari atas cerita.
Meskipun narator menyelami pikiran dan menggambarkan pergulatan batin para tokoh, atau menggambarkan dan mengisahkan pertempuran dengan detil dan apik, narator sesungguhnya tidak berpartisipasi atau mempengaruhi alur cerita. Kita bisa mencontohkan hal serupa ketika narator Pride and Prejudice-nya Jane Austen menggambarkan watak, pembawaan keseharian, dan pergulatan batin Darcy dan Elizabeth.
Adapun dalam novel Secangkir Kopi Terakhir Ayah, yang menjadi tokoh dominan yang digambarkan dan dikisahkan adalah Kartiwa atau Mayor Kartiwa. Bisa dibilang, pusat semesta novel ini sendiri adalah Panebong (tempat/apa) dan Kartiwa atau Mayor Kartiwa (siapa). Dalam novel ini, sekali lagi, yang paling ‘ditokohkan’ dan yang paling mendominasi gambaran pengkarakteran, pergulatan batin tokoh, hingga bahkan cerita novel itu sendiri, adalah Kartiwa atau Mayor Kartiwa.
Cerita novel ini berakhir pada jalan hidup Kartiwa yang akhirnya menikahi Mei Lan selepas kematian istri keduanya, Eva Koemans, setelah perempuan Belanda itu berjuang melahirkan anak laki-laki mereka, yang kelak menjadi anggota parlemen Belanda, yang sengaja datang ke Banten (Panebong) di masa liburan di negeri Belanda, karena ingin mengetahui tanah kelahiran ayahnya, Mayor Kartiwa, prajurit yang tidak mengambil uang pensiunnya sebab rasa bersalah karena kegagalannya dalam Tragedi Rawa Gede.
Novel ini dengan jelas ingin menawarkan atau menyodorkan kepada kita ihwal peran rakyat jelata dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda-Jepang, dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, termasuk ketika menyisipkan puisinya Chairil Anwar menjelang akhir novel, Karawang-Bekasi, yang dialamatkan untuk Tragedi Rawagede, di mana dalam novel itu, Kartiwa dan pasukannya dijebak dan terlambat saat hendak mencegah pasukan Belanda membantai orang-orang kampung pimpinan Supriatna yang berpihak kepada para pejuang republik. Singkat kata, novel bergagrak roman sejarah ini pada dasarnya adalah roman tentang sejarah rakyat, bukan roman tentang hero orang-orang besar. Dalam dunia dan disiplin historiografi, novel ini mengingatkan kita pada The Peasant Revolt of Banten atau Pemberontakan Petani Banten-nya Sartono Kartodirjo, yang mestinya judul bukunya bukan ‘pemberontakan’ tapi ‘perjuangan’ para petani Banten –karena mereka berjuang mempertahankan hak mereka dari penjarahan dan penjajahan. Akhirnya, novel ini juga kisah tentang sejarah Indonesia itu sendiri secara umum, dan sejarah Banten secara khusus.
Sulaiman Djaya, Penyair

























