NGANJUK | LIPUTAN9NEWS
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengapresiasi fasilitas dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Yayasan Al Mardliyah, Pondok Pesantren Mojosari, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Minggu (25/10/2026).
Saat meninjau dapur sekitar pukul 10.30 WIB, Zulhas didampingi pengasuh yayasan, KH Musyaffa Fauzi. Ia mengecek sejumlah fasilitas untuk memastikan kesiapan dapur dalam mendukung pelaksanaan program MBG.
“Kalau dapur yang di sini sudah baik,” ujar Zulhas.
Meski demikian, ia mengakui pelaksanaan MBG secara nasional masih memerlukan evaluasi, terutama agar penerima manfaat lebih merata.
“Namun kami di pemerintah senantiasa berbenah, agar program MBG ini dapat dirasakan manfaatnya,” imbuhnya.
Pengasuh Yayasan Al Mardliyah Ponpes Mojosari, KH Muhammad Muhibbin Nur atau Gus Ibin, menjelaskan dapur yang beroperasi saat ini baru mampu menyediakan sekitar 2.000 porsi per hari. Sementara itu, jumlah santri di lingkungan yayasan mencapai lebih dari 5.000 orang.
Untuk menambah kapasitas layanan, pihak yayasan tengah membangun dapur baru.
“Insya Allah ikhtiar dari kami,” kata Gus Ibin.
Kunjungan Zulhas berlangsung bersamaan dengan peringatan Hari Santri Nasional 2026 yang dihadiri sekitar 8.000 orang. Sejumlah tokoh turut hadir, antara lain Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sekaligus Ketua Pimpinan Pusat Muslimat NU Arifatul Choiri Fauzi, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Anwar Iskandar, serta Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi.
Dalam sambutannya, Gus Syafa’ menyampaikan bahwa Ponpes Mojosari merupakan pesantren berusia sekitar tiga abad yang memiliki jejak penting dalam sejarah pendidikan Islam. Sejumlah tokoh yang disebut memiliki keterkaitan dengan tradisi pesantren tersebut antara lain KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, Kiai Jazuli Ploso, dan Kiai Abdul Karim Lirboyo.
Ia juga menyoroti capaian pendidikan pesantren yang kini menaungi lebih dari 5.000 santri. Dengan iuran bulanan sekitar Rp450 ribu, lembaga pendidikan di lingkungan pesantren disebut mampu mengantarkan banyak lulusannya diterima di perguruan tinggi negeri.
Pesan yang ditekankan, biaya pendidikan yang terjangkau tidak harus mengurangi kualitas pendidikan.
Sementara itu, Arifatul Choiri Fauzi dalam sambutannya menyampaikan bahwa lulusan pesantren memiliki peluang berkiprah di berbagai bidang, termasuk menjadi bupati, gubernur, jenderal, hingga menteri.
Zulhas juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan kemudahan akses pendidikan saat ini. Ia membandingkan pengalaman menuntut ilmu agama pada masa mudanya di Lampung dengan kondisi sekarang yang dinilainya lebih mudah.
Menurutnya, kemudahan tersebut seharusnya mendorong generasi muda untuk memperdalam pengetahuan agama.
Dalam kesempatan yang sama, Zulhas memberikan enam paket umrah kepada ibu-ibu Muslimat NU dan para pengajar di Ponpes Mojosari.

























