BANTEN | LIPUTAN9NEWS
Pada 2-4 Mei 2025 lalu Seba Baduy telah sukses diselenggarakan oleh pemerintah provinsi Banten melalui dinas-dinas terkait, yang juga bekerjasama dengan pihak-pihak yang berkepentingan. Perhelatan itu bahkan dihadiri para duta besar sejumlah negara sahabat. Prosesi dan gelaran yang diselenggarakan setiap tahun tersebut tentu saja tak semata ritual seremonial, namun selalu ada pesan dan titipan yang disampaikan oleh para pemimpin Baduy dan para warga Baduy, atau masyarakat adat Kanekes.
Biasanya yang paling utama adalah agar pembangunan dan penyelenggaraan hidup keseharian kita di Provinsi Banten selaras dengan alam dan lingkungan –sebagai aset masa depan berkelanjutan dan semesta tempat kita hidup senantiasa lestari dan dijaga. Singkat kata, ada nilai (value) universal yang tak lekang oleh zaman dalam kearifan lokal yang dititipkan dan diwariskan orangtua-orangtua kita di masa lalu, yang contohnya adalah kearifan lokal Banten yang masih lestari dan dipraktikkan sebagai norma dan aturan oleh masyarakat Baduy di Banten Selatan. Kearifan lokal masyarakat adat Kanekes, Lebak, Banten itu yang akan kita sebut sebagai falsafah perennial ekologi atau kearifan abadi ekologis.
Terkait dengan titipan atau amanat yang disampaikan masyarakat adat Kenekes di tiap penyelenggaraan seba itu, pembangunan mestilah kita pahami sebagai usaha atau ikhtiar perbaikan yang terencana dan direncanakan dengan tepat, baik, dan matang (cermat dan berkelanjutan) yang dimaksudkan untuk menciptakan kondisi hidup dan lingkungan hidup yang lebih baik dan lebih maju.
Belajar dari kearifan lokal orangtua-orangtua kita di masa lalu yang dititipkan dan diwariskan kepada kita, bila praktik perencanaan dan pelaksanaan pembangunan kita malah menciptakan kehancuran lingkungan dan hilangnya aset ekologi bagi masa depan anak cucu kita di kemudian hari, maka perencanaan dan pembangunan tersebut telah gagal total –karena justru tidak berkelanjutan, dan malah menghancurkan alam dan lingkungan di mana kita hidup dan berada.
Wawasan kemasadepanan itulah yang sesungguhnya selalu dinyatakan dan dititipkan warga Baduy atau masyarakat adat Kanekes, setiap kali melaksanakan ‘Seba’ secara berkala dan rutin tiap tahun. Di tahun 2025 lalu, contohnya, perwakilan warga Baduy atau masyarakat adat Kanekes yang hadir sebanyak 1.769 orang itu berpesan dan mengamanatkan agar kita terutama pemerintah atau pemangku kebijakan, agar selalu menjaga lingkungan hidup dan tidak merusak 53 gunung yang ada di Banten.
Bila kita resapi dan renungkan, gunung memang merupakan habitat (tabung dan sumber) air yang sangat kita butuhkan untuk kehidupan sehari-hari kita. Air itu terjaga dan tersimpan dengan baik karena hidup dan beradanya pohon-pohon yang berfungsi sebagai penjaga dan penyeimbang (penguat) konstruksi gunung itu sendiri di mana air sebagai salah-satu habitatnya lestari. Maka tidak heran, ketika pohon-pohon di gunung ditebang secara besar-besaran, yang terjadi adalah longsor dan rusaknya tabung air yang kita butuhkan untuk kehidupan kita. Dan sudah seyogyanya air itu menjadi sumber kemakmuran dan kesejahteraan bersama masyarakat Banten dan tidak patut diprivatisasi.
Spirit dan nilai utama kearifan lokal yang dijaga orangtua-orangtua kita di masa lalu dan kemudian dititipkan dan diwariskan kepada kita adalah pandangan holistik mereka tentang semesta kehidupan, yang salah-satu perwujudannya harus dijelmakan dalam praktik tiga kesalehan. Pertama, saleh kepada Tuhan yang Maha Kuasa (parahyangan), saleh kepada sesama (pawongan), dan saleh kepada alam dan lingkungan (palemahan). Kesalehan kepada Tuhan yang Maha Kuasa diwujudkan dalam sikap jujur dan amanah dalam mengemban tugas yang dititipkan masyarakat. Saleh kepada lingkungan dan alam diwujudkan dengan menghindari eksploitasi dan privatisasi yang akan menghancurkan dan melahirkan petaka bagi kita saat ini dan bagi anak cucu kita di masa yang akan datang. Saleh kepada sesama contohnya diwujudkan dengan solidaritas dan gotong-royong.
Secara khusus, nilai dan praktik gotong royong ini merupakan warisan kearifan adiluhung yang terbukti senantiasa berguna dan relevan untuk menunjang pembangunan. Bahkan spirit perjuangan para bapak bangsa kita di masa lalu dipraktikkan dengan laku gotong royong –mendepankan kepentingan bersama ketimbang nafsu dan kepentingan individual.
Adapun di masyarakat adat Kanekes Banten atau Baduy, contoh gotong royong tampak sedemikian nyata, seperti ketika ada satu keluarga mengadakan hajatan semisal pernikahan, maka setiap keluarga ikut menyumbang masakan (semisal masakan ayam) untuk disumbangkan kepada keluarga yang sedang melakukan hajatan. Spirit gotong royong ini pula yang dulu diterapkan dalam pembangunan di desa-desa, di mana para pemimpin dan aparat pemerintah bersama-sama membangun secara guyub.
Sebagai contoh, proklamator dan bapak bangsa kita, yaitu Bung Karno, memandang gotong royong adalah sebuah semangat kerja sama dan perjuangan bersama, di mana setiap orang memberikan tenaga, pikiran, dan keringatnya untuk mencapai kepentingan bersama dan kebahagiaan semua. Pandangan ini diungkapkannya dalam pidato 1 Juni 1945 di BPUPKI.
Gotong royong pula yang semestinya mengikis kerakusan dan keserakahan individual, sehingga korupsi tidak menjadi praktik yang lumrah, ketika mereka yang digaji besar, pada kenyataannya masih saja korupsi. Spirit dan nilai solidaritas, gotong royong, dan tidak hadirnya keserakahan dan kerakusan yang membentuk mentalitas korup inilah yang terkandung dalam kearifan lokal Banten Baduy. Nilai dan norma kearifan lokal mereka bersumbu pada mengutamakan keutuhan dan keselerasan bersama (komunitas/masyarakat), sehingga pelanggaran-pelanggaran pada tabu-tabu yang telah ditetapkan karena dorongan motif individual, akan diganjar dengan sanksi yang keras, demi menjaga etos dan tata keutuhan dan keselarasan hidup bersama yang dijiwai kejujuran dan tanggungjawab.
Dalam perspektif ekosofi atau secara ekologis, kearifan lokal Banten Baduy atau masyarakat adat Kanekes juga mengajarkan ikhtiar pemenuhan pangan yang berkelanjutan dan mengandung wawasan konservasi. Praktik ngahuma warga Baduy, adalah contoh bahwa kearifan lokal orangtua-orangtua kita di masa lalu, memang dalam rangka mewariskan kehidupan dan lingkungan yang senantiasa tersedia dan tetap sehat (tidak rusak) untuk generasi mendatang.
Praktik dan kerja mereka untuk memenuhi kebutuhan pangan, dengan bertani dan bercocok tanam, contohnya, senantiasa disesuaikan dengan alam dan lingkungan yang semaksimal mungkin untuk tidak merusak atau mengganggu keseimbangan alam. Pertanian dan praktik bercocok-tanam mereka acapkali pula dilakukan secara bergotong-royong, bukan sebagai aktivitas individualis. Praktik pertanian gotong royong itu, sampai saat ini, masih dipraktikkan oleh para petani padi di sejumlah tempat, termasuk di Banten. Singkatnya, pertanian orang-orang dulu sangat bermuatan konservasi lingkungan. Dan ajaibnya, leuit (lumbung) padi mereka bisa mengawetkan padi puluhan bahkan ratusan tahun.
Amanat dan pesan yang dititipkan warga Baduy kepada pemilik kebijakan di Banten yang selalu sama, memang hendak menyatakan: “Kearifan lokal orang-orang dulu, tidak terkecuali dalam praktik dan wawasan pertanian mereka, sangat berorientasi menjaga keseimbangan eksistensi manusia dan alam yang mereka pandang sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Yang sudah tentu pula demi ketersediaan untuk generasi mendatang. Mereka bahkan menganggap diri mereka sebagai bagian dari alam itu sendiri hingga kemudian sangat melarang motif dan hasrat ekspolitatif terhadap alam yang mereka bakukan dalam tradisi mereka, seperti terkandung jelas dalam pikukuh adat masyarakat Kanekes di Lebak (Baduy Banten): panjang tidak boleh dipotong dan pendek tidak boleh disambung, sebagai salah-satu contohnya.
Pikukuh adat Baduy Banten tersebut dengan jelas menunjukkan rasa hormat bahkan pandangan dan sikap menyakralkan alam, yang terbukti telah mencegah motif dan upaya kerakusan manusia untuk mengeksploitasi alam yang pada akhirnya berdampak petaka. Longsor terjadi ketika gunung dan hutan sebagai tabung (penyimpan) air dan pencegah erosi digunduli. Dan akhirnya, ketidaktersediaan sumber hidup semisal air yang sangat dibutuhkan kita serta hilangnya lingkungan yang memadai dan sehat bagi generasi yang akan datang jika gunung-gunung hancur. Inilah makna pesan ‘Seba’ mereka di tahun ini, menjaga dan tidak merusak 53 gunung yang ada di Banten.”
Spirit dan etos kearifan lokal masyarakat Banten Baduy di Banten Selatan itu setidak-tidaknya pantas dijadikan filosofi dan inspirasi bagi pemegang kebijkan di Banten, agar sanggup merencanakan dan mewujudkan kebijakan-kebijakan pembangunan yang berkelanjutan, sehingga kita sanggup pula mewariskan kehidupan dan lingkungan (ekologi) yang sehat bagi anak cucu kita di masa yang akan datang.
Penting untuk diingat, kesejahteraan dan kebahagiaan bersama tidak melulu soal materi yang kasat mata, melainkan bagaimana solidaritas dan kepedulian kepada sesama dan mendahulukan kepentingan bersama menjadi arus utama. Sebab nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangat relevan untuk menerapkan visi pembangunan yang ramah lingkungan, ekonomi hijau, tata kota yang berkelanjutan dan lain sebagainya. Termasuk juga dalam membentuk mentalitas para pemimpin dan para birokrat.
Melalui titipan dan pesan warga Baduy atau masyarakat adat Kanekes Banten yang senantiasa tidak berubah di setiap gelaran ‘Seba’, memang mengingatkan kita bahwa praktik dan wawasan tradisional masyarakat dan komunitas adat menyimpan kearifan abadi yang acapakali baru kita pahami kemudian. Sebaliknya, acapkali pula, yang kita klaim sebagai modern dan kontemporer, justru mengandung kejahilan dan berdampak pada kerusakan.
Sebagai contoh, pesan dan titipan warga Baduy itu menjadi sangat relevan dan kontekstual bagi kita saat ini, ketika isu-isu dan masalah-masalah kerusakan alam dan lingkungan telah menjadi masalah global. Bahkan telah berkali-kali menjadi pembahasan yang rumit dan menguras pikiran dan tenaga hingga biaya yang besar di konferensi-konferensi tingkat dunia, nasional hingga lokal menyangkut masalah kerusakan alam dan pencemaran lingkungan, yang sangat mengancam ketersediaan ruang hidup yang layak dan sehat, lestari dan berkelanjutan bagi generasi anak cucu kita di masa yang akan datang.
Sulaiman Djaya, Penyair tinggal di Serang, Banten

























