TANGERANG | LIPUTAN9NEWS
Disampaikan pada acara Silaturahmi & Kajian Rutin Warga UDS (Urang Diri Sujo’an/Perantau Masyarakat Desa Tanjung Atap, Tanjung Batu, Tanjung Batu Seberang dan sekitarnya Ogan Ilir Sumatera Selatan di JABODETABEK Di Kediaman bapak DR H. Khalid Artha SH MKN (Ketua Umum UDS) Perumahan Raffles Hills Cibubur.
Alhamdulillah, kembali kita disampaikan pada bulan Rabi’ul Awwal, bulan kelahiran nabi Muhammad shalallahu alayhi wasallam.
Semua ulama, apapun mazhab, aliran dan manhajnya sepakat bahwa bergembira dengan kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah kewajiban setiap muslim.
Esensi kegembiraan atas kelahiran nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam pada hakikatnya adalah kegembiraan terhadap Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan terhadap Al-Qur’an yang Allah turunkan kepada Beliau. Yang tidak kalah esensialnya adalah kegembiraan saat Istiqomah melaksanakan ketaatan kepada Allah subhanahu wata’aala dan RasulNya
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Artinya: “Katakanlah, dengan fadhl (karunia) Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa (dunia dan seisinya) yang mereka kumpulkan”. (QS. Yunus: 58)
Al Imam As Suyuthi rohimahullah dalam kitab Ad Durrul Mantsur menuliskan tafsir sahabat Ibnu Abbas :
فضل الله العلم ، ورحمته محمد صلى الله عليه وسلم ، قال الله تعالى { وما أرسلناك إلا رحمة للعالمين } [ الأنبياء : 107 ] .
Fadhl (karunia) Allah adalah Ilmu (agama Islam) dan Rahmat-Nya adalah lahirnya Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Allah subhanahu wata’aalaa berfirman,
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Artinya: “Fan Kami (Allah) tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-anbiya :107)
Semua makhluk Allah subhanahu wata’aalaa (manusia, hewan, tumbuhan, langit, bumi dll) bergembira atas kelahiran nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, HANYA IBLIS yang menangis dan menjerit keras ketika Rasulullah dilahirkan ke dunia
Dalam Kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah Juz 2, Hal 326, Lil Allaamah Al Imam Al Hafidz Ibnu Katsir menerangkan.
اَنَّ إِبْلِيْسَ رَنَّ أَرْبَعَ رَنَّاتٍ: حِيْنَ لُعِنَ، وَحِيْنَ أُهْبِطَ وَحِيْنَ وُلِدَ رَسُوْلُ اللّٰه صلّى اللّٰه عليه وسلّم وَحِيْنَ أُنْزِلَتِ الْفَاتِحَةُ
Bahwasanya Iblis menangis dan menjerit keras sebanyak empat kali. Di antaranya:
- Ketika Iblis dilaknat oleh Allah.
- Ketika Iblis diusir dari Surga.
- Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dilahirkan.
- Ketika Surat Al-Fatihah diturunkan
Ulama ahli makrifat mengatakan, tidak ada Islam tanpa kelahiran Nabi Muhammad. Jika bukan karena perantara Beliau, tentulah kita tidak mengenal Islam, tidak dapat mengenal Allah subhanahu wata’aala.
Para ulama berbeda pendapat terkait cara mengungkapkan/mengekspresikan rasa gembira dengan kelahiran Rasulullah shalallahu alayhi wasallam. Ada diantara kita yang mengungkapkannya dengan cara memperingati Maulid Nabi.
Namun demikian, tidaklah penting bagi kita memasalahkan, apakah perayaan Maulid Nabi bid’ah atau tidak. Cuma buang energi dan merusak persaudaraan dan persatuan umat Islam. Karena masalah ikhtilaf (perbedaan pendapat) tidak akan selesai sampai hari kiamat
Yang perlu dipikirkan sekaligus bahan evaluasi bersama adalah mengapa sudah ribuan kali melaksanakan peringatan Maulid Nabi, akan tetapi umat Islam masih jauh dari menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wa. Masjid-masjid masih sepi dari jama’ah shalat fardhu dan masih malas bersholawat kepada nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam ?
Ada yang bertanya, apa korelasinya antara pelaksanaan Maulid dengan shalat berjama’ah di masjid ?
Esensi peringatan Maulid adalah sarana untuk mengingatkan ummat Islam agar semakin mencintai Allah subhanahu wata’aala dan RasulNya Muhammad shalallahu alayhi wasallam.
Adapun ‘cara membuktikan cinta kepada Allah subhanahu wata’aalaa dan RasulNya adalah dengan meneladani, mencontoh, mengikuti dan mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُوني يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَ اللهُ غَفُورٌ رَحيمٌ قُلْ أَطيعُوا اللهَ وَ الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ الْكافِرينَ
Artinya: “katakanlah, ‘jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, *ikutilah aku (Sunnah2Ku)*, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir.” (QS. Ali-Imron:)
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
Artinya: “Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang sia yang berpaling dari (ketaatan itu), maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS. An-Nisa’:).
قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ، قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الجنة(رواه امام ترميذي)
Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa yang menghidupkan sunnahKu, maka berarti ia mencintaiKu dan barangsiapa yang mencintaiKu, maka berarti ia bersamaKu di Surga”_l.(HR.Imam Tirmidzi)
Maka dari itu agar kita dicintai Allah Subhanahu wata’aalaa dan RasulullaNya, YOK KITA HIDUPKAN SUNNAH-SUNNAH RASULULLAH SHALALLAHU ALAIHI WASALLAM. Karena Itulah esensi cinta Allah subhanahu wata’aalaa dan RasulNya yang sesungguhnya.
Jangan mengaku cinta Allah subhanahu wata’ala dan RasulNya kalau sholatnya tidak berjama’ah di masjid bagi laki-laki.
Karena diantara Sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang paling utama adalah mendirikan sholat fardhu yang lima waktu berjama’ah di masjid. Wallahu a’lam bisshowab.

























