BOGOR | LIPUTAN9NEWS
Budaya menurut bahasa terambil dari kata Budi dan daya yang maknanya mengerahkan potensi dalam menerapkan prilaku baik. Bisa juga Budaya berarti sebuah pikiran, akal budi, atau adat istiadat. Budaya juga didefinisikan sebagai sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar diubah, sehingga dapat menghasilkan suatu kegiatan dari pengalaman batin manusia akhirnya menghasilkan sebuah kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. (Menurut KBBI Kamus Besar Bahasa Indonesia)
Menyoal tentang Istilah di atas lalu kita membaca tentang budaya Nusantara yang tentunya sangat kaya, yang banyak melahirkan tradisi dan kearifan lokal sehingga menjadi warna tersendiri ketika kita melihat potret kondisi Islam di Nusantara ini.
Sebahagian orang ada yang berkata bahwa membumikan Islam Nusantara terlahir dari pertarungan budaya Arab dengan budaya lokal, pertarungan budaya Barat dengan budaya lokal, pada kenyataannya pernyataan semacam ini tidaklah tepat bahkan bisa dikatakan salah.
Jika pemahaman sebagian orang bahwa budaya Islam di Nusantara adalah akibat kekecewaan dari pengaruh budaya Arab dan Budaya Barat, sehingga membuat para ulama pribumi ketakutan akan hilangnya pengaruh Islam di Nusantara. Pernyataan seakan ketakutan hilangnya pengaruh Arab di Nusantara ini bisa diakibatkan kurangnya literasi pemahaman sejarah bangsa dan kurangnya kebanggaan terhadap para tokoh dan leluhur bangsa sendiri.
Budaya Islam Nusantara bukan terlahir dari pertarungan pengaruh dari budaya luar dengan budaya lokal, tapi budaya Islam mampu bersenyawa dengan budaya lokal lantaran nilai-nilai spiritualitas para leluhur Nusantara sudah mengikat diri dengan nilai moralitas dan spiritualitas tinggi yang akhirnya ketika Islam datang langsung bisa beradaptasi dan berakulturasi dg budaya lokal.
Semisal budaya Kesundaan yang kita kenal dengan motto silih asah, silih asih, silih asih, silihwangi ini adalah modal yang diwarisan para leluhur Sunda untuk jadi pegangan generasi setelahnya agar saling mengingatkan, saling menyayangi, saling menghargai yang akhirnya bisa saling bantu, dan menjaga keselarasan agar bisa bersama-sama merawat alam.
Dari pilosopi kesundaan di atas para leluhur mengikat anak cucu dan masyarakat agar tidak saling bertikai dengan cara melestarikan tradisi dengan menciptakan kegiatan untuk bisa saling tolong menolong, saling bekerjasama, hidup bergotong-royong, saling membela sesama yaitu dengan menggiatkan tradisi sedekah bumi atau istilah tradisi islamnya yaitu istigotsah atau sedekahan, kalau di Jawa disebut kendurian.
Ikatan tradisi yang dibangun oleh leluhur lalu diadobsi oleh para penyebar Islam tidak dihilangkan tapi difilter, jika tradisi bertentangan dengan syariat Islam dihilangkan tanpa membentur dengan tradisi yang ada tapi dirubah secara bertahap, begitulah cara para ulama penyebar Islam generasi awal menyampaikan Islam secara santun dan beradab.
Ironisnya, sejak banyaknya pelajar muslim yang menuntut ilmu di Nagara lain yang sebelumnya tidak diberikan bekal pemahaman sejarah Nusantara dan metodologi dakwah para penyebar Islam Nusantara, akhirnya mabuk budaya negara luar ditambah lagi gerakan dakwah yang dilakukan selalu dihiasi oleh politik karena mereka tidak memahami cara berpikirnya tokoh gerakan Islam puritan di negara lain, dan ketika pulang ke Indonesia bukannya membawa Ilmu tapi justru membawa budaya luar untuk diterapkan di Wilayahnya, ini yg mengakibatkan terjadi benturan sosial di tengah masyarakat.
Kiai Ahmad Suhadi, S.Pd.I, Pimpinan Pondok Pesantren Taswirul Afkar 26 Bogor, Ketua Ikatan Mubaligh-mubalighoh Nusantara (IMMAN) DPD Kabupaten Bogor dan Katib JATMAN Kabupaten Bogor.

























