JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla menyatakan ia memiliki peran kunci dalam menjadikan Joko Widodo (Jokowi) sebagai presiden.
Menanggapi hal ini, Presiden ke-7 RI Jokowi mengakui bahwa ia hanya orang kampung yang biasa-biasa saja.
“Ya saya ini bukan siapa-siapa. Saya orang kampung,” ujar Jokowi, saat ditemui di kediaman Sumber, Banjarsari, Solo, seperti dilansir Tribun Solo, Senin (20/04/2026).
Pernyataan Jusuf Kalla ini terlontar saat jumpa pers di kediaman yang bersangkutan, Sabtu (18/04/2026).
Pada awalnya, Jusuf Kalla meminta agar Jokowi menunjukkan ijazah agar polemik ini segera selesai.
Namun, justru setelah itu ia dipolisikan gara-gara pernyataannya saat mengisi ceramah tarawih Ramadhan di Masjid Kampus UGM, Jogjakarta, pada Kamis (05/03/2026) lalu.
“Sudahlah, Pak Jokowi. Sudahlah. Kasih lihat ijazah saja. Itu saja. Timbulah sensitif sekali itu ijazah. Kenapa sih? Kenapa tidak kasih lihat? Membiarkan masyarakat berkelahi sendiri. Saling memaki masyarakat 2 tahun,” terang Jusuf Kalla, Sabtu (18/04/2026).
Ia berpendapat sarannya ke Jokowi untuk menunjukkan ijazah semata-mata tak ubahnya seorang senior yang menasehati juniornya. Tidak ada maksud lain.
“Saya ingin kasih tahu sama anda. Saya wakilnya Pak Jokowi. Karena sudah selesai kita warga negara biasa. Saya lebih tua dari dia. Jadi sebagai orang yang lebih senior saya nasehati,” ucapnya.
Jusuf Kalla diketahui dipolisikan oleh Ketua Umum Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Sahat Martin Philip Sinurat dan sejumlah ormas lain.
Seperti telah diketahui, Sahat juga merupakan politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang dipimpin oleh putra bungsu Jokowi.
Jusuf Kalla pun menegaskan bahwa dialah yang berperan penting dalam menjadikan Jokowi presiden.
Dialah yang melobi Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk memberikan restunya agar Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Tanpa menjadi Gubernur, menurutnya mustahil Jokowi jadi presiden.
Ia pun secara spesifik menyebut termul, singkatan dari ternak mulyono. Sebutan ini sering dikaitkan dengan para simpatisan Jokowi.
“Siapa yang bawa ke Jakarta saya yang bawa ke Jakarta untuk jadi Gubernur. Saya yang bawa. Saya yang ke Bu Mega. Ibu ini terlalu baik orang PDIP. Ah jangan. Saya datang lagi. Akhirnya beliau setuju jadilah Gubernur. Sehingga waktu dia jadi Gubernur setelah ke Bu Mega datang ke saya ucapan terimakasih. Apa kurangnya saya. Saya bawa ke Jakarta. Kasih tahu semua itu termul-termul itu. Jokowi jadi presiden karena saya. Kan tanpa Gubernur mana bisa jadi presiden,” pungkasnya.
(Ai/MSN)

























