JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Perubahan sebuah kampung tidak hanya dibangun dengan jalan, rumah dan fasilitas umum. Lebih dari itu, sebuah kampung dibangun dengan harapan, pendidikan dan keteladanan, serta sarana dan fasilitas pendukung yang bisa menjadi media perubahan.
Semangat itulah yang kini digaungkan KH Misbahul Munir, Pimpinan Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Al-Misbah, untuk terus merawat perubahan di Kampung Bahari, Jakarta Utara.
Kiai Misbah ingin Kampung Bahari tidak lagi hanya dikenal karena stigma masa lalu. Ia mendorong kawasan tersebut tumbuh menjadi Kampung Santri—lingkungan yang ramah anak, sehat secara sosial, kuat dalam pendidikan agama, serta memiliki kehidupan masyarakat yang aman dan bermartabat.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari komitmen Kiai Misbah untuk meneruskan dan merawat perubahan yang telah dirintis oleh Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto dalam upaya memulihkan Kampung Bahari dari persoalan narkotika.
Kampung Bahari memang pernah menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian serius aparat karena peredaran narkoba. Pada November 2025, BNN dan Polri melakukan operasi besar di kawasan tersebut. Dalam operasi pada 7 November 2025, aparat menyita sekitar 89,16 kilogram sabu, ganja, ekstasi dan sejumlah senjata api.
Namun, pemberantasan narkoba tidak cukup berhenti pada penindakan. Perubahan sebuah kampung membutuhkan proses yang lebih panjang yaitu pemulihan, pendidikan, pemberdayaan dan keterlibatan masyarakat.
Hal itu pula yang kemudian mempertemukan semangat aparat dan kekuatan pesantren.
BNN sebelumnya telah menggandeng PIQ Al-Misbah dalam kegiatan bakti sosial di Kampung Bahari. BNN menyebut kolaborasi tersebut sebagai bagian dari upaya mendukung pemulihan Kampung Bahari agar terbebas dari ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.
Bagi Kiai Misbah, pesantren tidak boleh berdiri sendiri di tengah masyarakat. Pesantren harus hadir menjawab persoalan sosial sekaligus menjadi sumber pendidikan dan keteladanan.
Lebih lanjut, Kiai Misbah memiliki pengalaman panjang dalam dunia pesantren. Pada 1995, ia berinisiatif mendirikan Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Al-Misbah di Jakarta. Pesantren tersebut dikembangkan dengan semangat menjaga nilai-nilai pesantren salafiyah sekaligus merespons perubahan zaman.
Dalam perkembangannya, PIQ Al-Misbah juga menjalankan berbagai kegiatan sosial dan pendidikan, termasuk pembinaan anak jalanan dan masyarakat marginal.
Karena itu, ketika berbicara mengenai masa depan Kampung Bahari, Kiai Misbah tidak sekadar melihatnya sebagai persoalan keamanan. Ia melihat anak-anak, keluarga dan masa depan warga.
Sementara itu, Kampung Santri yang diimpikan bukan sekadar label. Ia adalah sebuah ikhtiar agar masjid, pesantren, keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat berjalan bersama membangun generasi.
“Ramah anak. Sehat secara sosial. Kuat dalam pendidikan agama. Dan bermartabat. Inilah yang ingin dirawat Kiai Misbah,” itulah cita-cita yang disampaikan Kiai Misbah.
Selanjutnya, Kiai Misbah menyampaikan apresiasi kepada Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto atas perhatian dan langkah yang telah dilakukan untuk mengubah wajah Kampung Bahari.
Upaya BNN sendiri tidak hanya diarahkan pada penindakan. Kepala BNN Suyudi Ario Seto pernah menegaskan bahwa kehadiran BNN di Kampung Bahari juga ditujukan untuk pemulihan, pembinaan dan pemberdayaan masyarakat.
Dengan demikian, perubahan Kampung Bahari tidak berhenti ketika operasi selesai. Justru setelah penindakan, pekerjaan yang lebih panjang dimulai: memastikan masyarakat memiliki ruang hidup yang sehat dan anak-anak mempunyai masa depan yang lebih baik.
“Di titik inilah pesantren memiliki peran penting,” kata Kiai Misbah.
Kiai Misbah memandang perubahan yang telah dimulai harus dijaga bersama. Aparat memiliki peran dalam menjaga keamanan. Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam pelayanan dan pembangunan. Sementara ulama, pesantren dan masyarakat mempunyai tanggung jawab moral untuk mengisi perubahan tersebut dengan pendidikan dan nilai-nilai kebaikan.
Karena itu, perubahan Kampung Bahari pada akhirnya bukan sekadar perubahan nama atau citra. Yang hendak diubah adalah cara masyarakat memandang masa depan.
Dari kampung yang pernah dilekatkan dengan stigma narkoba menjadi kampung yang memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar dan tumbuh.
Dari rasa takut menjadi rasa aman. Dari persoalan sosial menjadi gotong royong. Dan dari stigma menjadi harapan.
Semangat tersebut sejalan dengan pendekatan BNN yang dalam pemulihan Kampung Bahari menggandeng tokoh agama dan masyarakat untuk membangun kawasan yang lebih sehat dan bebas narkoba.
Bagi Kiai Misbah, menjaga Kampung Bahari adalah bagian dari tanggung jawab moral sebagai ulama dan tokoh masyarakat.
“Terima kasih Bapak Jenderal Suyudi yang telah menjadikan Kampung Bahari sebagai kampung harapan. Kini, mari kita rawat bersama agar Kampung Bahari menjadi Kampung Santri,” demikian semangat yang ingin dibangun.
“Sebab, mengubah sebuah kampung mungkin membutuhkan keberanian. Tetapi merawat perubahan membutuhkan kesabaran, keteladanan dan kebersamaan. Dan Kampung Bahari kini sedang menapaki jalan itu,” pungkasnya.

























