• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
KH Imam Jazuli; dan Bahaya Kiai yang Terlalu Gemar Manggung Menyulut Api

KH Imam Jazuli; dan Bahaya Kiai yang Terlalu Gemar Manggung Menyulut Api

December 28, 2025
KH. Muzaki Kholish Wakil Katib Syuriah PWNU DKI Jakarta

KH. Muzaki Kholish Sebut Pernyataan Kiai Said Cerminkan Kedewasaan dan Adab Kepemimpinan NU

May 18, 2026
KH Said Aqil siroj

KH Said Aqil Siroj Konfirmasi Tidak akan Maju pada Perhelatan Muktamar NU ke-35

May 18, 2026
Konferensi pers Sidang Isbat penetapan awal Zulhijjah 1447 H yang digelar di Kantor Kemenag Jl. MH. Thamrin Jakarta, Ahad (17/05/2026).

Gelar Sidang Isbat, Pemerintah Tetapkan Idul Adha 27 Mei 2026

May 18, 2026
Muhammad Ikhsanurrizqi, Ketua BEM PTNU Se-Nusantara.

Ketua BEM PTNU Sentil Pernyataan Presiden soal Rupiah: Rakyat Kecil Tetap Jadi Korban

May 18, 2026
Kongkalikong Tender Gedung BTN Sulampua? Logis 08 Desak BTN dan Danantara Buka-bukaan

Logis 08 Soroti Danantara, Proyek Perkampungan Haji di Mekkah Belum Tunjukkan Progres Nyata

May 16, 2026
Fatayat NU dan Ratusan Jamaah Semarakkan Cahaya Hati Indonesia di Masjid Al-Hijrah Bekasi Utara

Fatayat NU dan Ratusan Jamaah Semarakkan Cahaya Hati Indonesia di Masjid Al-Hijrah Bekasi Utara

May 16, 2026
DPD PPNI Kabupaten Bekasi Sukses Jadi Tuan Rumah International Nurses Day 2026 Tingkat Jabar

DPD PPNI Kabupaten Bekasi Sukses Jadi Tuan Rumah International Nurses Day 2026 Tingkat Jabar

May 16, 2026
KH. Cholil Nafis, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah

Jamaah Haji 2026 Diizinkan Kemenhaj Bayar Dam di Tanah Air, Inilah Respon Kiai Cholil Nafis

May 16, 2026
SDIT Atssurayya Luncurkan Kelas Talenta dan Tahfidz untuk Jawab Tantangan Pendidikan Modern

SDIT Atssurayya Luncurkan Kelas Talenta dan Tahfidz untuk Jawab Tantangan Pendidikan Modern

May 16, 2026
Gus Rosikh : KH Imam Jazuli, Gus Ipang Wahid, Gus Yusuf Chudlori dan Gus Miftah, Kyai Muda NU Progresif Visioner Yang Ahli Tirakat

Gus Rosikh: KH Imam Jazuli, Gus Ipang Wahid, Gus Yusuf Chudlori dan Gus Miftah, Kyai Muda NU Progresif Visioner Yang Ahli Tirakat

May 15, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Tuesday, May 19, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

KH Imam Jazuli; dan Bahaya Kiai yang Terlalu Gemar Manggung Menyulut Api

Oleh: Muhammad Arsyad

liputan9news by liputan9news
December 28, 2025
in Opini
A A
0
KH Imam Jazuli; dan Bahaya Kiai yang Terlalu Gemar Manggung Menyulut Api
499
SHARES
1.4k
VIEWS

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS – Dalam pusaran konflik PBNU yang kompleks dan sensitif, figur KH Imam Jazuli tidak dapat dilepaskan dari peran awal yang justru memperkeruh suasana. Alih-alih mengambil posisi sebagai penenang, penafsir bijak, atau jembatan dialog antar-struktur, ia sejak awal tampil sebagai pihak yang terus-menerus mengartikulasikan tuduhan, kecurigaan, dan framing pelanggaran secara terbuka ke ruang publik. Dalam tradisi NU, sikap seperti ini tidak netral; ia membentuk opini, memicu polarisasi, dan mendorong eskalasi konflik. Dalam konteks ini, wajar bila muncul kesan kuat bahwa Imam Jazuli bukan sekadar pengamat kritis, melainkan aktor yang secara sadar atau tidak telah berperan sebagai provokator dalam soal PBNU.

Provokasi ini bukan terutama terletak pada isi kritik—karena kritik adalah bagian sah dari tradisi intelektual NU—melainkan pada *cara*, *waktu*, dan *ruang* penyampaiannya. Kritik yang dilempar ke publik luas, melalui media dan kanal terbuka, pada saat konflik internal belum selesai secara struktural, adalah bentuk intervensi yang tidak arif. Dalam khazanah pesantren, kiai memahami betul bahwa tidak semua kebenaran harus diumumkan, dan tidak semua kritik harus disuarakan di depan khalayak. Ketika adab ini dilanggar, kritik berubah menjadi api yang membakar jerami konflik.

Lebih jauh, sikap Imam Jazuli menunjukkan minimnya empati terhadap kondisi psikologis dan sosiologis PBNU yang sedang berada dalam fase yang kurang baik. PBNU bukan hanya struktur administratif, melainkan rumah besar jutaan warga NU, ribuan pesantren, dan jaringan ulama yang sangat luas. Ketika konflik internal terjadi, yang dibutuhkan adalah keteduhan, kesabaran, dan kebijaksanaan bertingkat—bukan tekanan opini yang terus-menerus mempermalukan satu pihak dan mengeras-kan posisi pihak lain. Dalam hal ini, Imam Jazuli tampak lebih sibuk menegaskan posisi normatifnya sendiri ketimbang merawat luka kolektif jam’iyah.

Empati dalam tradisi keulamaan bukan sekadar simpati emosional, melainkan kemampuan membaca *maslahat* jangka panjang umat. Seorang kiai seharusnya bertanya: apakah pernyataan ini menenangkan umat atau justru membingungkan mereka? Apakah ini mempercepat islah atau menunda rekonsiliasi? Ketika pertanyaan-pertanyaan ini tidak menjadi pertimbangan utama, maka kritik kehilangan ruh keulamaannya dan berubah menjadi sekadar pernyataan posisi politik dalam balutan bahasa moral.

BeritaTerkait:

Gus Rosikh: KH Imam Jazuli, Gus Ipang Wahid, Gus Yusuf Chudlori dan Gus Miftah, Kyai Muda NU Progresif Visioner Yang Ahli Tirakat

Sinyal Kuat Regenerasi PBNU: Gus Yusuf, KH Imam Jazuli, Gus Ipang Wahid dan Gus Miftah ‘Satu Shaf’ di PMKNU Cirebon

Lirboyo, dari “Sarang Penyamun” Menjelma Benteng Nusantara

Gus Kikin Beri Sinyal Siap Pimpin NU, Serukan Kembalinya Soliditas Nahdliyin Jelang Muktamar ke-3

Sikap Imam Jazuli juga problematik ketika ditempatkan dalam relasi dengan seruan para kiai sepuh NU (Mustasyar). Risalah Tebuireng Jombang dan Forum Lirboyo—dengan segala keteduhan, kehati-hatian—adalah panggung Stuktur dan kultural tertinggi NU, tempat para masyayikh sepuh berbicara bukan sebagai politisi organisasi, melainkan sebagai penjaga hikmah jam’iyah dengan mata batin. Ketika Imam Jazuli secara konsisten mempertanyakan, merelatifkan, bahkan mendelegitimasi hasil dan seruan forum tersebut, muncul kesan bahwa ia menempatkan penafsirannya sendiri di atas kebijaksanaan kolektif para sesepuh. Ironis!

Dalam tradisi NU, ketaatan kepada kiai sepuh bukanlah ketaatan buta, tetapi penghormatan terhadap kedalaman pengalaman, kejernihan batin, dan keluasan pandangan mereka. Menolak atau mengkritik hasil musyawarah kiai sepuh tentu boleh, tetapi caranya harus penuh takzim, rendah hati, dan proporsional. Ketika kritik disampaikan dengan nada korektif yang seolah-olah menempatkan diri sebagai penjaga tunggal konstitusi NU, maka relasi adab antara yang muda dan yang sepuh menjadi timpang.

Lebih mengkhawatirkan lagi, sikap Imam Jazuli mencerminkan pergeseran dari etos keulamaan menuju etos aktivisme politik simbolik. Tradisi kiai di NU selalu menempatkan diri *sedikit di belakang layar*, membiarkan struktur bekerja, dan hanya turun tangan ketika krisis benar-benar buntu. Sebaliknya, Imam Jazuli tampak menikmati peran sebagai figur publik yang terus hadir di panggung wacana, mengeluarkan pernyataan demi pernyataan, seakan konflik ini membutuhkan komentarnya setiap hari agar tetap hidup.

Di titik inilah kritik tentang “mengambil panggung” menjadi relevan. Seorang kiai sejatinya tidak membutuhkan sorotan untuk menjaga marwah kebenaran. Justru, dalam banyak kisah besar NU, kiai-kiai paling berpengaruh adalah mereka yang suaranya jarang terdengar, tetapi nasihatnya menentukan. Ketika seorang kiai terlalu sering tampil, terlalu aktif mengomentari, dan terlalu konsisten mengarahkan opini publik, maka wajar bila publik membaca itu sebagai upaya membangun posisi, pengaruh, atau bahkan modal politik.

Bahaya dari sikap ini bukan hanya pada pribadi Imam Jazuli, tetapi pada preseden yang ia ciptakan. Jika setiap kiai merasa berhak mengintervensi konflik PBNU secara terbuka atas nama konstitusi, maka NU akan berubah dari jam’iyah berbasis hikmah menjadi arena debat tanpa akhir. Tradisi tabayyun, musyawarah tertutup, dan penyelesaian bertingkat akan runtuh digantikan oleh adu opini di ruang publik.

Perlu ditegaskan: tradisi keulamaan NU tidak menafikan kritik, tetapi menundukkannya pada adab. Kritik yang benar tetapi disampaikan tanpa hikmah bisa lebih merusak daripada kebijakan yang keliru. Dalam hal ini, Imam Jazuli tampak lebih mengedepankan kebenaran prosedural daripada kebijaksanaan kultural—padahal NU hidup justru karena keseimbangan keduanya.

Kritik Imam Jazuli juga menunjukkan kecenderungan reduksionis, seolah konflik PBNU semata-mata persoalan pelanggaran AD/ART namun faktanya tidak sama sekali. Padahal, konflik ini juga menyangkut relasi personal, dinamika global NU, tekanan eksternal, dan perubahan lanskap sosial-politik umat. Ketika kompleksitas ini diabaikan, maka solusi yang ditawarkan menjadi kering, legalistik, dan tidak menyentuh akar psikologis serta kultural konflik.

Seorang kiai seharusnya menjadi penjaga keseimbangan antara hukum dan kasih sayang, antara aturan dan kebijaksanaan. Ketika salah satu diutamakan secara ekstrem, wajah Islam Indonesia yang teduh dan berlapang dada justru terkikis. Dalam sikap Imam Jazuli, keseimbangan ini terasa goyah.

Karena itu, kritik terhadap Imam Jazuli bukan berarti menolak pentingnya konstitusi NU, tetapi mengingatkan bahwa konstitusi itu sendiri hidup dalam tradisi, bukan di ruang hampa. NU tidak dibesarkan oleh pasal-pasal semata, melainkan oleh kearifan para kiai yang tahu kapan berbicara, kapan diam, dan kapan mundur selangkah demi maslahat yang lebih luas.

Kesimpulannya, yang dipertaruhkan bukan siapa yang paling benar secara hukum, tetapi siapa yang paling mampu menjaga keutuhan jam’iyah. Jika kritik—betapapun cerdas dan normatif—justru memperdalam luka, mengeras-kan kubu, dan menjauhkan islah, maka kritik itu perlu ditinjau ulang. Di titik inilah Imam Jazuli patut dikritik: bukan karena ia berbicara, tetapi karena cara dan panggung yang ia pilih berjarak dari laku batin seorang kiai NU.

Muhammad Arsyad, Alumni PP Lirboyo 2015, Universitas Paramadina 2020.

Tags: Alumni LirboyoImam JazuliPBNU
Share200Tweet125SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

Gus Rosikh : KH Imam Jazuli, Gus Ipang Wahid, Gus Yusuf Chudlori dan Gus Miftah, Kyai Muda NU Progresif Visioner Yang Ahli Tirakat
Nasional

Gus Rosikh: KH Imam Jazuli, Gus Ipang Wahid, Gus Yusuf Chudlori dan Gus Miftah, Kyai Muda NU Progresif Visioner Yang Ahli Tirakat

by liputan9news
May 15, 2026
0

CIREBON | LIPUTAN9NEWS Acara Kaderisasi Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) Yang digelar di Hotel Aston Cirebon 13-17 Mei 2026...

Read more
Sinyal Kuat Regenerasi PBNU: Gus Yusuf, KH Imam Jazuli, Gus Ipang Wahid dan Gus Miftah ‘Satu Shaf’ di PMKNU Cirebon

Sinyal Kuat Regenerasi PBNU: Gus Yusuf, KH Imam Jazuli, Gus Ipang Wahid dan Gus Miftah ‘Satu Shaf’ di PMKNU Cirebon

May 14, 2026
Foto: Pintu gerbang Ponpes Lirboyo

Lirboyo, dari “Sarang Penyamun” Menjelma Benteng Nusantara

May 11, 2026
Gus Kikin Beri Sinyal Siap Pimpin NU, Serukan Kembalinya Soliditas Nahdliyin Jelang Muktamar ke-3

Gus Kikin Beri Sinyal Siap Pimpin NU, Serukan Kembalinya Soliditas Nahdliyin Jelang Muktamar ke-3

May 8, 2026
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2561
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

759
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
KH. Muzaki Kholish Wakil Katib Syuriah PWNU DKI Jakarta

KH. Muzaki Kholish Sebut Pernyataan Kiai Said Cerminkan Kedewasaan dan Adab Kepemimpinan NU

May 18, 2026
KH Said Aqil siroj

KH Said Aqil Siroj Konfirmasi Tidak akan Maju pada Perhelatan Muktamar NU ke-35

May 18, 2026
Konferensi pers Sidang Isbat penetapan awal Zulhijjah 1447 H yang digelar di Kantor Kemenag Jl. MH. Thamrin Jakarta, Ahad (17/05/2026).

Gelar Sidang Isbat, Pemerintah Tetapkan Idul Adha 27 Mei 2026

May 18, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In