JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih pada masa Pemerintahan pertama Donald Trump, John Bolton mengkritik pedas keputusan Gedung Putih untuk mengirim Wapres AS, J.D. Vance ke perundingan di Pakistan. Dia menyebutnya sebagai contoh di mana Iran yang menentukan agenda bagi Amerika Serikat.
Diberitakan Fars, Bolton mengkritik pengiriman J.D. Vance ke perundingan dengan Iran di Pakistan, dengan menyatakan bahwa langkah ini dilakukan di bawah tekanan dari Iran. Bolton berpendapat bahwa pada prinsipnya, Menlu AS Marco Rubio seharusnya memimpin delegasi Amerika.
Dalam wawancara dengan NewsNation, Bolton mengatakan bahwa mengirim Wakil Presiden untuk bertemu dengan seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya akan meningkatkan risiko tanpa suatu alasan.
“Anda tidak boleh membiarkan musuh Anda menentukan siapa yang Anda kirim untuk bernegosiasi,” ujar Bolton.
Dia juga menekankan bahwa Netanyahu mengatakan gencatan senjata tidak mencakup Lebanon, tetapi justru itulah yang telah disetujui oleh Trump dan Vance.
Dia menekankan bahwa Iran dan Pakistan-lah yang mengatakan bahwa Lebanon harus dicakup dalam gencatan senjata. Tindakan Israel ini, nilai Bolton, bukan yang mengancam gencatan senjata, melainkan perselisihan mengenai apa yang sebenarnya telah disepakati.
Bolton menambahkan bahwa pihak Iran menganggap waktu berpihak pada mereka dan meyakini bahwa Trump telah mengambil langkah mundur dengan gencatan senjata.
Mengacu pada dominasi Iran atas Selat Hormuz, Bolton juga mengatakan bahwa Iran tidak boleh dibiarkan terus mengendalikan Selat tersebut.
Dia juga mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa mereka tidak mengendalikan Selat tersebut adalah dengan merebut kendali itu dari mereka secara militer, karena jika masalah ini diserahkan kepada diplomasi, mereka akan melakukan hal yang sama lagi.
























