JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Dilansir Press TV, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), mengumumkan bahwa pengelolaan Selat Hormuz kini telah memasuki fase baru. Sebuah sinyal tegas bahwa peta kekuatan di kawasan strategis itu sedang berubah di tengah konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan ini muncul hanya dua hari setelah gencatan senjata sementara antara Teheran dan Washington diberlakukan, menyusul kegagalan koalisi AS-Israel mencapai target mereka dalam perang selama 40 hari melawan Iran. Dalam pernyataan resminya, Angkatan Laut IRGC menegaskan bahwa jeda pertempuran justru menjadi momen untuk menunjukkan kontrol baru Iran atas jalur laut paling vital bagi perdagangan energi dunia tersebut.
Nada serupa sebelumnya juga disampaikan oleh Pemimpin Revolusi Iran, Sayyid Mojtaba Khamenei. Ia menegaskan bahwa negaranya siap membawa pengelolaan Selat Hormuz ke tingkat yang berbeda, lebih strategis dan lebih menentukan.
Konflik ini bermula dari agresi militer yang dilancarkan AS dan Israel pada akhir Februari 2026 lalu. Namun, respons Iran jauh dari defensif. Lebih dari 100 gelombang serangan rudal dan drone diluncurkan, menyasar target di wilayah pendudukan Israel serta pangkalan militer AS di kawasan.
“Di laut, Iran mengambil langkah lebih jauh dengan membatasi akses kapal tanker minyak dan gas yang dianggap berafiliasi dengan pihak musuh,” ujarnya.
Langkah ini bukan sekadar manuver militer, melainkan strategi geopolitik. Selat Hormuz selama ini menjadi urat nadi distribusi energi global. Dengan memperketat kontrol, Iran secara efektif menekan pasar energi sekaligus mengirim pesan bahwa dominasi Barat di kawasan tidak lagi mutlak.
Upaya Washington untuk membentuk koalisi internasional demi membuka kembali jalur tersebut tampaknya tidak berjalan mulus. Sejumlah negara NATO justru enggan terlibat lebih jauh, menunjukkan retaknya solidaritas Barat dalam menghadapi eskalasi konflik ini.
Di tengah ketidakpastian, Korea Selatan mengambil langkah diplomatik dengan mengirim utusan khusus ke Teheran guna memantau situasi secara langsung.
“Langkah ini mencerminkan kekhawatiran global terhadap stabilitas kawasan dan masa depan distribusi energi dunia,” terangnya.
Sementara itu, juru bicara eksportir minyak Iran, Hamid Hosseini menyebut bahwa penerimaan syarat-syarat Iran dalam pengaturan keamanan Selat Hormuz dapat menjadi salah satu kemenangan diplomatik terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Ia menilai kondisi baru ini justru memberi keuntungan strategis bagi Teheran.
Dengan dinamika yang terus berkembang, Selat Hormuz kini bukan sekadar jalur perdagangan, tetapi medan tarik-menarik kekuasaan global. Iran tampaknya tidak hanya bertahan, tetapi juga mulai mendikte arah permainan.
























