• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
Menghormati Kiai, Menolak Feodalisme: Kebenaran Lebih Tinggi dari Nasab

Menghormati Kiai, Menolak Feodalisme: Kebenaran Lebih Tinggi dari Nasab

June 19, 2026
Hilman Latief Ungkap Istilah “Tendangan Tanpa Bayangan” dalam Sidang Korupsi Kuota Haji

Hilman Latief Ungkap Istilah “Tendangan Tanpa Bayangan” dalam Sidang Korupsi Kuota Haji

September 25, 2026
MUSPIMNAS BEM PTNU 2026: Dorong Stabilitas Nasional, Ekonomi Kerakyatan, dan Tata Kelola Organisasi

MUSPIMNAS BEM PTNU 2026: Dorong Stabilitas Nasional, Ekonomi Kerakyatan, dan Tata Kelola Organisasi

September 25, 2026
Mantan Mensos Bachtiar Chamsyah Meninggal Dunia

Mantan Mensos Bachtiar Chamsyah Meninggal Dunia

September 25, 2026
Imam Jazuli Foundation Gelar Gala Dinner Pasca Muktamar, Dorong Rekonsiliasi dan Penguatan Ukhuwah Nahdliyin 

Imam Jazuli Foundation Gelar Gala Dinner Pasca Muktamar, Dorong Rekonsiliasi dan Penguatan Ukhuwah Nahdliyin 

September 25, 2026
Imam Jazuli Foundation Buka Workshop, Rumah Tangga Nyai Kunci Perjuangan Pesantren?

Imam Jazuli Foundation Buka Workshop, Rumah Tangga Nyai Kunci Perjuangan Pesantren?

September 24, 2026
Ali Masykur Musa Bahas Peran Naqsyabandiyah di Forum Dunia

Ali Masykur Musa Bahas Peran Naqsyabandiyah di Forum Dunia

September 24, 2026
Ali Masykur Musa Pimpin Naqshbandi Dunia

Ali Masykur Musa Pimpin Naqshbandi Dunia

September 24, 2026
Sulaiman Djaya

Tentang Penulisan Puisi – Robert Frost dan Walt Whitman

September 24, 2026
Dr. Nurul Huda SA, Staf Pengajar Programs Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah, Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.

Daya Pesona Perpustakaan

September 24, 2026
Gus Ipul Siapkan Somasi Atas Tudingan Aliran Rp480 Miliar ke Muktamar ke-35 NU

Gus Ipul Siapkan Somasi Atas Tudingan Aliran Rp480 Miliar ke Muktamar ke-35 NU

September 23, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Friday, September 25, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Menghormati Kiai, Menolak Feodalisme: Kebenaran Lebih Tinggi dari Nasab

Oleh: Dr. H. Ahmad Fahrur Rozi

liputan9news by liputan9news
June 19, 2026
in Opini
A A
0
Menghormati Kiai, Menolak Feodalisme: Kebenaran Lebih Tinggi dari Nasab
516
SHARES
1.5k
VIEWS

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS

Sebagai pengasuh pesantren yang telah puluhan tahun mendampingi santri dan berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat, saya melihat ada satu gejala yang patut menjadi perhatian bersama, yaitu munculnya budaya kultus individu dan glorifikasi berlebihan terhadap tokoh tertentu.

Gejala ini tidak hanya muncul di dunia politik, tetapi juga merambah ke lingkungan sosial dan keagamaan. Seseorang dipandang selalu benar bukan karena argumentasinya kuat, melainkan karena status keluarganya, garis keturunannya, atau karena ia merupakan anak dari seorang tokoh yang dihormati.

Sebagai orang pesantren, saya sangat memahami pentingnya adab kepada guru, kiai, dan para ulama. Saya sendiri dididik untuk menghormati para masyayikh dan menjaga akhlak kepada orang-orang yang berjasa dalam dakwah dan pendidikan umat. Namun penghormatan tidak boleh berubah menjadi pengkultusan. Adab tidak boleh mematikan akal sehat. Hormat tidak boleh menghilangkan kemampuan membedakan antara yang benar dan yang salah.

Dalam Islam, tidak ada manusia yang ma’shum selain para nabi dan rasul. Kiai, gus, habib, ustaz, pejabat, maupun tokoh masyarakat adalah manusia biasa yang bisa benar dan bisa salah. Karena itu, ukuran kebenaran tidak boleh bergantung pada siapa yang berbicara, melainkan pada isi pembicaraannya.

BeritaTerkait:

Menyudahi Polemik Nasab Dalam Perspektif Keilmuan

Setop Banggakan Nasab: Sebuah Otokritik

Gelar Bahtsul Masail, Kiai dan Ulama Yogyakarta Tegaskan Otoritas Fatwa Syuriah dan Komitmen Islah NU

KH. Abdul Hakim Mahfudz: Kombinasi Nasab, Leadership, dan Kemandirian Ekonomi sebagai Modal Kuat Memimpin PBNU

Saya sering mengingatkan para santri bahwa menjadi anak kiai adalah kehormatan, tetapi bukan jaminan kebenaran. Menjadi seorang “gus” adalah amanah, bukan hak istimewa yang membuat seseorang bebas dari kritik. Kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh siapa ayahnya, melainkan oleh ketakwaan dan amal perbuatannya.

Al-Qur’an menegaskan bahwa yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa, bukan yang paling tinggi nasabnya. Karena itu, tidak boleh ada anggapan bahwa seorang tokoh atau anak tokoh harus selalu dibenarkan apa pun yang dilakukannya.

Sejarah Islam memberikan pelajaran yang sangat berharga dalam hal ini.

Khalifah Umar bin Khattab pernah menerima pengaduan dari seorang rakyat biasa yang dipukul oleh anak seorang pejabat karena merasa dirinya lebih mulia. Umar tidak membela pelaku karena kedudukan keluarganya. Beliau justru memanggil pelaku, memberikan hak kepada korban untuk memperoleh keadilan, lalu menegur keras pelaku dan keluarganya dengan kalimat yang terkenal:

“Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal ibu-ibu mereka telah melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?”

Kalimat itu merupakan deklarasi keadilan yang melampaui zamannya. Umar ingin menegaskan bahwa tidak ada manusia yang boleh merasa lebih tinggi dari manusia lain hanya karena keturunan atau kedudukannya.

Rasulullah ﷺ bahkan memberikan teladan yang lebih tegas lagi. Ketika ada upaya agar seorang perempuan bangsawan dibebaskan dari hukuman karena status sosialnya, beliau bersabda:

“Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Fatimah adalah putri yang paling dicintai Rasulullah ﷺ. Namun kecintaan itu tidak menghalangi beliau untuk menegakkan prinsip keadilan. Tidak ada perlakuan istimewa dalam urusan kebenaran dan hukum.

Karena itulah saya merasa prihatin ketika melihat masih ada sebagian orang yang menganggap kritik kepada tokoh tertentu sebagai dosa, sementara semua ucapan dan tindakannya dianggap benar tanpa perlu diuji dengan ilmu dan akal sehat.

Tradisi seperti ini bukan tradisi Islam. Islam mengajarkan tabayyun, musyawarah, dan amar ma’ruf nahi munkar. Para sahabat Nabi pun saling mengingatkan ketika terjadi kekeliruan. Tidak ada budaya menyembah figur. Yang ada adalah budaya menghormati orang saleh sekaligus tetap berpegang teguh pada kebenaran.

Zaman sekarang masyarakat juga semakin terdidik. Mereka mampu menilai suatu persoalan secara lebih objektif. Mereka tidak lagi menerima suatu pendapat hanya karena siapa yang mengucapkannya, tetapi karena kekuatan dalil, logika, dan manfaatnya bagi umat.

Menurut saya, ini adalah perkembangan yang sehat. Sebab organisasi, pesantren, maupun masyarakat hanya akan maju apabila dibangun di atas budaya ilmu, keterbukaan, dan tanggung jawab, bukan di atas fanatisme kepada individu.

Menghormati kiai adalah adab. Menghargai jasa para ulama adalah kewajiban moral. Tetapi membenarkan semua tindakan seseorang hanya karena ia anak kiai bukanlah ajaran Islam. Loyalitas kepada individu tidak boleh mengalahkan loyalitas kepada kebenaran.

Sudah saatnya kita meninggalkan sisa-sisa budaya feodalisme yang tidak sejalan dengan semangat Islam. Kita perlu membangun budaya yang lebih egaliter, lebih rasional, dan lebih dewasa. Budaya yang menghormati ilmu, menghargai prestasi, menerima kritik, dan menempatkan semua orang sama di hadapan hukum serta kebenaran.

Pada akhirnya, di hadapan Allah tidak ada manusia yang diadili berdasarkan nama besar keluarganya. Yang dinilai adalah iman, akhlak, amanah, dan amal perbuatannya.

Hormatilah para kiai karena ilmunya. Hormatilah para gus karena akhlaknya. Tetapi jangan pernah mengorbankan kebenaran demi fanatisme kepada manusia. Sebab manusia bisa salah, sedangkan kebenaran harus tetap ditegakkan.

Dr. H. Ahmad Fahrur Rozi, Alumni Pesantren Lirboyo

Tags: FeodalismeKebenaranKiaiMenghormatiNasab
Share206Tweet129SendShare
liputan9news

liputan9news

Media Sembilan Nusantara Portal berita online yang religius, aktual, akurat, jujur, seimbang dan terpercaya

BeritaTerkait

Benarkah Berdzikir untuk Menghadirkan Khodam?
Opini

Menyudahi Polemik Nasab Dalam Perspektif Keilmuan

by liputan9news
July 12, 2026
0

BOGOR | LIPUTAN9NEWS Mencuatnya Polemik Nasab untuk menjawab klaim sepihak klan Ba'alwi yang mengaku diri mereka sebagai Dzuriyah bahkan mengaku...

Read more
KH. Imam Jazuli, Lc., MA.

Setop Banggakan Nasab: Sebuah Otokritik

March 2, 2026
Gelar Bahtsul Masail, Kiai dan Ulama Yogyakarta Tegaskan Otoritas Fatwa Syuriah dan Komitmen Islah NU

Gelar Bahtsul Masail, Kiai dan Ulama Yogyakarta Tegaskan Otoritas Fatwa Syuriah dan Komitmen Islah NU

January 28, 2026
KH Abdul Hakim Mahfudz atua Gus Kikin (Foto: Ai/MSN)

KH. Abdul Hakim Mahfudz: Kombinasi Nasab, Leadership, dan Kemandirian Ekonomi sebagai Modal Kuat Memimpin PBNU

January 13, 2026
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2632
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

760
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
Hilman Latief Ungkap Istilah “Tendangan Tanpa Bayangan” dalam Sidang Korupsi Kuota Haji

Hilman Latief Ungkap Istilah “Tendangan Tanpa Bayangan” dalam Sidang Korupsi Kuota Haji

September 25, 2026
MUSPIMNAS BEM PTNU 2026: Dorong Stabilitas Nasional, Ekonomi Kerakyatan, dan Tata Kelola Organisasi

MUSPIMNAS BEM PTNU 2026: Dorong Stabilitas Nasional, Ekonomi Kerakyatan, dan Tata Kelola Organisasi

September 25, 2026
Mantan Mensos Bachtiar Chamsyah Meninggal Dunia

Mantan Mensos Bachtiar Chamsyah Meninggal Dunia

September 25, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In