BOGOR | LIPUTAN9NEWS
Mengambil sebuah ungkapan qoidah Ushul fiqh : “Al-Muhafadzu ‘alal Qodiimi asholih wal akhdzu bil jadidil ashlah” artinya : melestarikan tradisi lama yg baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Dari sinilah kami memikir ulang bahwa di era digital saat ini Pesantren sebagai Soko guru dalam mencetak generasi yang menjadi agent of chang (agen perubahan) harus memformulasi program pesantren yang sesuai dengan kekinian yang dapat menyentuh semua kalangan.
Ada perubahan paradigma ditengah-tengah masyarakat, bahwa pendidikan bermutu seakan-akan hanya dimiliki dan dinikmati oleh masyarakat menengah ke atas dengan biaya pantastis yang ditopang oleh pasilitas sarana dan prasarana lengkap, tidak bagi Pesantren Taswirul Afkar 26 yang dibina oleh Ust.K.Ahmad Suhadi al-Bogori.
Menurut Ahmad Suhadi, bahwa mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas sesuai perkembangan zaman tidak boleh hanya untuk orang-orang berduit saja, tapi anak-anak dari latar belakang orangtua tidak mampu pun harus merasakan pendidikan yang layak dengan keunggulan yang merata berbasis digital.
Ironis memang, ketika negara hadir untuk memberikan pelayanan yang baik dengan menggelontorkan anggaran yang tidak sedikit demi kemajuan dunia pendidikan Nasional, masih ada cara pandang bahwa pendidikan yang awalnya bersifat sosial non profit tapi sudah bergeser ke industri pendidikan yang telah mendegradasi tujuan dari pendidikan Nasional itu sendiri, yaitu untuk mencerdaskan masyarakat malah untuk meraup keuntungan para makelar pendidikan.
Hadirnya Pesantren Al-Qur’an Taswirul Afkar 26 yang berlokasi di Jl.Parung-Bogor KM.26 Ds.Pondok Udik, Kecamatan Kemang, Kab.Bogor yang berusia masih bayi berdiri sekitar 1,5 tahun lalu dengan jumlah santri yang masih dibilang sangat sedikit, pendiri Pesantren berobsesi ingin lembaga pendidikannya menjadi lembaga pendidikan Intelektual Organik, yaitu lembaga pendidikan fokus tidak hanya sekadar melahirkan “orang bergelar akademik tinggi” (intelektual teknokratis) tapi juga harus menjadi intelektual yang memiliki tanggung jawab moral, kritis, dan berpihak pada kebenaran serta kepentingan masyarakat tanpa mencari profit dan keuntungan besar dalam memperkaya diri dan pengurusnya.
Ketika masyarakat prustasi yang ingin anaknya menjadi pintar dan mendapatkan akses pendidikan layak, ketika melihat brosur dengan biaya besar sungguh memberatkan sehingga harapan untuk anaknya mendapatkan pendidikan berkualitas akhirnya kandas. Akhirnya terucap: “ah biarlah anak saya sekolah yang penting dapat ijazah” Kehadiran lembaga pendidikan Pesantren Al-Qur’an Taswirul Afkar 26 walaupun tempat yang tidak cukup untuk menampung banyak santri mukim karena keterbatasan sarana dan prasarana.
Pengasuh pesantren Kiai Suhadi berkeinginan, bahwa menurutnya anak-anak dari orangtua yang berlatarbelakang tidak mampu memiliki hak yang sama yaitu mendapatkan pendidikan berkualitas sesuai kondisi saat ini. Pengasuh Pesantren Al-Qur’an Taswirul Afkar 26 melihat, ternyata masyarakat Indonesia masih banyak menyimpan generasi smart yg cerdas, semangat dan kreatif cuma karena keterbatasan biaya akhirnya para orangtua tidak lagi serius untuk memberikan pendidikan layak untuk putra-putri nya, menurutnya yang penting dapat ijazah untuk mencari kerja, padahal berapa banyak lulusan S1 menganggur karena tidak punya keahlian khusus yang mampu meraih dunia, kerja ironis bukan?.
Ada, yaitu mulai jenjang pendidikan SD s.d SMK Al-Hasanah, Cigombong yang memuat kurikulum diknas yang dipadukan dengan program pondok.
Santri yang belajar di Pesantren Al-Qur’an Taswirul Afkar 26 wajib mengikuti tahapan marhalah, yaitu tahap awal selama 2 tahun wajib mengikuti target tahsinuttilawah dengan baik sesuai qoidah tajwid melalui talaqi secara binadzor, disamping itu selama 2 tahun harus menyelesaikan hafalan juz 30(juz amma), hafal Yasin, Assajadah, Addukhon dan al-Muluk ditambah dengan 3 juz dari s.al-baqoroh.
Disamping santri harus menyelesaikan tahap tilawah Al-Quran dan Tahfidzul Qur’an santripun tidak bisa meninggalkan tradisi pondok yaitu mengkaji kitab Kuning jika sudah menyelesaikan marhalah 1. Selesai 2 tahun dengan kompetensi yang dimiliki maka santri selanjutnya diberikan kegiatan ekstrakulikuler secara kontinyu yaitu masuk dalam dunia digital berupa keahlian komputer untuk membuat aplikasi, animasi, film dll, semua program yang akan ditargetkan semuanya dengan pendekatan kursus.
Ada dua program life Skill yang akan digarap oleh Pesantren Al-Qur’an Taswirul Afkar 26, yaitu : Komputer dan otomotif. Kedua program ektra tersebut pengasuh sudah melakukan kerjasama dengan pihak otomotif dan untuk komputer sudah punya tim yang akan mendidik santri Taswirul Afkar 26 ini.
Selanjutnya, untuk mendapatkan sertifikasi ijazah wajib belajar, santri didaftarkan ke diknas/kemenag melalui sekolah formal yang terintegrasi bersama pondok dalam mengkampanyekan program SANTRI DIGITAL dan SANTRI SADAR BUDAYA.
Kiai Ahmad Suhadi, S.Pd.I, Pimpinan Pondok Pesantren Taswirul Afkar 26 Bogor, Ketua Ikatan Mubaligh-mubalighoh Nusantara (IMMAN) DPD Kabupaten Bogor dan Katib JATMAN Kabupaten Bogor.

























