BANTEN | LIPUTAN9NEWS
Religiusitas dalam sastra Indonesia modern seringkali terjebak dalam dikotomi yang kaku: antara devosi yang tunduk atau pemberontakan yang profan. Namun, ketika memasuki semesta puitis Sulaiman Djaya, pembaca tidak dihadapkan pada mimbar khotbah yang mapan, melainkan pada sebuah ruang interogasi filosofis. Penyair asal Banten ini dikenal memiliki kedalaman referensi sejarah, filsafat barat, dan mistisisme Timur. Puisi-puisinya tidak merekam agama sebagai dogma yang selesai, melainkan sebagai teks yang terus-menerus bergolak, menunda makna, dan merayakan keretakan di dalam keyakinan itu sendiri.
Melalui pisau analisis dekonstruksi yang diinisiasi oleh Jacques Derrida, esai ini bertujuan untuk membongkar bagaimana teks-teks puisi Sulaiman Djaya beroperasi. Dekonstruksi bukan sekadar metode penghancuran, melainkan sebuah cara membaca untuk menemukan kontradiksi internal, oposisi biner yang goyah, dan jejak (trace) makna yang selalu tertunda (différance) di balik klaim-klaim kebenaran absolut yang biasanya melekat pada institusi religius. Puisi Sulaiman Djaya menjadi medan pertempuran hantu-hantu teologis di mana yang sakral dan yang profan saling bertukar peran secara konstan.
Untuk memahami bagaimana religiusitas didekonstruksi dalam puisi, kita harus memahami terlebih dahulu prinsip logosentrisme yang digugat oleh Derrida. Dalam tradisi teologi konvensional, Tuhan atau Firman diletakkan sebagai Pusat yang absolut, penanda transendental yang menjamin stabilitas semua makna di dunia. Agama beroperasi dalam oposisi biner yang ketat: Sakral/Profan, Surga/Neraka, Iman/Kafir, Jiwa/Tubuh. Kebudayaan modern cenderung mengunggulkan hierarki pertama dan menindas yang kedua.
Dekonstruksi bekerja dengan cara membalikkan hierarki ini, bukan untuk menciptakan dominasi baru, melainkan untuk menunjukkan bahwa penundukan tersebut rapuh. Teks selalu mengandung aporias—titik-titik kebuntuan di mana retorika teks bertentangan dengan logika formalnya sendiri. Dalam konteks puisi religius, dekonstruksi melacak bagaimana “kehadiran” Tuhan diartikulasikan melalui “ketidakhadiran,” dan bagaimana iman justru tumbuh subur di dalam rahim keraguan. Teks puitis Sulaiman Djaya menjadi contoh radikal bagaimana bahasa religius selalu menunda pemenuhan maknanya sendiri.
Sulaiman Djaya tumbuh dan berkarya dalam atmosfer kebudayaan Banten yang kental dengan mistisisme, tradisi pesantren, sekaligus sejarah kolonial yang kelam. Pengaruh ini berpadu erat dengan bacaannya yang luas atas pemikir seperti Friedrich Nietzsche, Martin Heidegger, Jacques Lacan, hingga para sufi asketis seperti Mansur Al-Hallaj dan Ibn Arabi. Kombinasi ini melahirkan estetika puitis yang unik: ia menggunakan diksi-diksi teologis yang berat—seperti wahyu, kiblat, nabi, maut, syahadat—namun menempatkannya dalam sintaksis yang meresahkan.
Puisi-puisinya seringkali bercerita tentang lanskap yang sunyi, kota-kota yang kehilangan Tuhan, atau para pencari yang tersesat di dalam labirin kitab suci. Sulaiman tidak sedang ateis; ia justru sedang mempraktikkan apa yang dalam teologi disebut sebagai teologi apofatik atau via negativa—mendekati Tuhan dengan cara menyatakan apa yang bukan Tuhan. Namun, lewat medium puisi, pencarian ini berubah menjadi dekonstruksi bahasa itu sendiri, karena ia menyadari bahwa bahasa manusia selalu gagal merengkuh yang Ilahi tanpa menyisakan distorsi.
Salah satu strategi dekonstruktif yang paling nyata dalam puisi-puisi Sulaiman Djaya adalah penggoyahan batas antara yang sakral dan yang profan. Dalam teologi ortodoks, ruang sakral (seperti masjid, kabah, surga) harus dibersihkan dari hal-hal yang bersifat duniawi atau jasmaniah. Namun, dalam puisi Sulaiman, yang profan seringkali menjadi satu-satunya jalan untuk mencicipi yang sakral.
Mari kita perhatikan bagaimana tubuh yang berdosa, berdarah, dan berhasrat tidak disingkirkan sebagai sumber maksiat, melainkan diangkat sebagai teofani (penampakan Tuhan). Ketika ia menulis tentang kegelapan malam atau kedai minum, ruang-ruang marginal tersebut justru beralih fungsi menjadi ruang kontemplasi yang lebih intim ketimbang rumah ibadah yang riuh oleh formalitasitas kesalehan sosial. Dengan membalikkan hierarki ini, Sulaiman menunjukkan bahwa ketakutan terhadap yang profan sebenarnya berakar dari kegagalan institusi agama dalam memahami keluasan dari yang Ilahi itu sendiri. Yang profan tidak lagi menegasikan yang sakral, melainkan menjadi syarat keberadaannya.
Konsep différance Derrida merujuk pada fakta bahwa makna tidak pernah hadir secara penuh saat ini; ia selalu berbeda (to differ) dan selalu ditunda (to defer). Dalam puisi-puisi Sulaiman Djaya, pencarian akan Tuhan atau kebenaran sejati digambarkan sebagai sebuah perjalanan tanpa akhir (infinite regress). Tuhan tidak pernah ditemukan sebagai entitas yang konkret dan selesai di ujung bait puisi.
Tuhan dalam puisi Sulaiman adalah sebuah “Ketiadaan yang Bergema.” Setiap kali sang tokoh lirik dalam puisi merasa telah menemukan “jejak” Tuhan pada selembar daun, pada tatapan mata kekasih, atau pada sunyinya malam, makna tersebut segera menguap terbentur oleh keterbatasan bahasa. Kehadiran Ilahi selalu ditunda oleh metafora-metafora yang berlapis. Penundaan ini bukan sebuah keputusasaan, melainkan bentuk penghormatan tertinggi terhadap transendensi. Jika Tuhan bisa didefinisikan secara tuntas dalam bahasa puisi, maka Ia berhenti menjadi Tuhan dan berubah menjadi berhala berwujud kata. Sulaiman secara sadar menjaga agar “berhala makna” itu selalu hancur sebelum sempat disembah oleh pembaca.
Agama sangat bergantung pada otoritas teks tertulis (Kitab Suci). Logosentrisme mengasumsikan bahwa ada hubungan langsung dan murni antara maksud Tuhan (Suara) dengan teks yang tertulis. Sulaiman Djaya, melalui puisi-puisinya, seringkali menyoroti bahaya dari pembacaan literal yang kaku terhadap teks suci tersebut. Ia memperlakukan sejarah pembacaan agama sebagai lapisan-lapisan tafsir yang rentan terhadap kepentingan kekuasaan.
Dalam beberapa puisinya yang mengambil latar kisah-kisah para nabi atau tokoh mitologis, Sulaiman melakukan pembacaan ulang yang subversif. Ia memberikan suara kepada tokoh-tokoh yang biasanya dipinggirkan atau disalahkan dalam narasi arus utama. Dengan melakukan hal ini, teks puisinya membongkar bahwa interpretasi keagamaan yang mapan sebenarnya bersifat kontingen dan historis, bukan universal dan abadi. Puisi-puisinya merayakan keragaman makna (polisemi) dan menolak klaim tunggal atas kebenaran tekstual.
Tradisi religius konvensional kerap kali menuntut penjinakan total terhadap tubuh demi keselamatan jiwa. Asketisme atau zuhud dipandang sebagai jalan utama menuju Tuhan. Namun, dalam puisi-puisi Sulaiman Djaya, dekonstruksi terjadi ketika asketisme itu sendiri ditampilkan sebagai bentuk hasrat yang paling puncak, atau sebaliknya, ketika hasrat badani dihayati sebagai laku asketis.
Tubuh dalam puisi-puisinya bukanlah musuh dari spiritualitas, melainkan medan di mana spiritualitas itu mengalami inkarnasi. Rasa sakit, luka, syahwat, dan keletihan fisik digambarkan dengan presisi yang sensual namun sekaligus metafisik. Ada ketegangan yang konstan di mana sang pencari ingin melepaskan diri dari belenggu daging, namun ia menyadari bahwa tanpa daging tersebut, ia tidak memiliki instrumen untuk merasakan kerinduan kepada yang Ilahi. Dualisme Cartesian antara jiwa dan badan runtuh dalam bait-bait puisi Sulaiman, menyisakan sebuah totalitas eksistensial yang bergetar di antara ketakutan dan kenikmatan.
Dekonstruksi memiliki kemiripan epistemologis yang mengejutkan dengan mistisisme radikal atau sufisme falsafi, seperti yang diajarkan oleh Al-Hallaj dengan seruan Ana al-Haqq (Akulah Kebenaran) atau Ibn Arabi dengan Wahdat al-Wujud (Kesatuan Wujud). Sulaiman Djaya secara sadar menghidupkan kembali jejak-jejak mistisisme radikal ini dalam puisi-puisinya untuk mendekonstruksi nalar fiqih yang legalistik.
Dalam perspektif sufi radikal, batas antara hamba (abd) dan Tuhan (Rabb) menjadi cair. Ketika puisi Sulaiman berbicara tentang peleburan diri (fana), ia tidak sekadar menulis tentang pengalaman mistis yang romantis, melainkan sebuah pembongkaran ego manusia yang radikal. Eksistensi manusia didekonstruksi hingga titik nol, sehingga yang tersisa hanyalah jejak Ilahi. Sufisme dalam tangan Sulaiman menjadi alat dekonstruksi yang ampuh karena tradisi ini inheren dengan penolakan terhadap formalisme institusi agama yang seringkali kehilangan ruh spiritualnya.
Banyak kritikus melihat adanya nada melankolis dan eksistensial yang kuat dalam karya-karya Sulaiman Djaya. Pengaruh pemikir seperti Kierkegaard atau Heidegger terasa dalam bagaimana puisi-puisinya mengartikulasikan kecemasan (angst) manusia di hadapan maut dan kesunyian kosmis. Iman dalam puisi Sulaiman tidak datang dalam bentuk kepastian yang menenangkan, melainkan sebagai sebuah lompatan berbahaya ke dalam kegelapan (leap of faith).
Iman didekonstruksi dari statusnya sebagai “jawaban atas segala masalah” menjadi “pertanyaan yang paling merisaukan.” Tokoh-tokoh dalam puisinya seringkali merasa ditinggalkan oleh Tuhan di sebuah dunia yang retak. Namun, justru dalam momen pengabaian itulah, dalam kegelapan iman yang pekat tersebut, relasi yang autentik dengan yang Transenden baru dimulai. Sulaiman menunjukkan bahwa iman yang sejati hanya bisa lahir setelah seseorang melewati proses dekonstruksi terhadap ilusi-ilusi kenyamanan religius yang ditawarkan oleh masyarakat modern.
Aporia adalah situasi ketidakmungkinan logis, sebuah jalan buntu yang tidak dapat dilewati namun tidak dapat dihindari. Bahasa puisi Sulaiman Djaya adalah ruang aporia yang par excellence. Di satu sisi, ia dipaksa menggunakan bahasa manusia yang profan, terbatas, dan penuh cacat untuk membicarakan Tuhan yang mutlak dan tak terbatas. Di sisi lain, diam bukanlah pilihan bagi seorang penyair.
Akibatnya, puisi-puisinya dipenuhi oleh teknik oksimoron, paradoks, dan negasi diri. Ia menulis tentang “cahaya yang menggelapkan,” “suara dalam keheningan,” atau “kekayaan dalam kefakiran murni.” Bahasa puisi Sulaiman secara konstan merusak dirinya sendiri; ia menyatakan sesuatu sekaligus membatalkan pernyataan tersebut dalam baris berikutnya. Melalui estetika kegagalan bahasa ini, Sulaiman berhasil mengekspresikan bahwa esensi religiusitas yang paling dalam justru terletak pada ketidakmampuan manusia untuk menguasai dan memenjarakan kebenaran dalam struktur tata bahasa.
Melalui pembacaan dekonstruktif terhadap puisi-puisi Sulaiman Djaya, kita dapat melihat bahwa religiusitas dalam karyanya bukanlah sebuah doktrin statis yang siap dikonsumsi, melainkan sebuah proses pencarian eksistensial yang radikal dan tak pernah usai. Sulaiman berhasil mendekonstruksi oposisi biner tradisional yang memisahkan sakral-profan, iman-ragu, dan jiwa-tubuh, serta menunjukkan bahwa elemen-elemen yang bertentangan tersebut sebenarnya saling mengandaikan dan saling melengkapi.
Dengan memanfaatkan konsep-konsep dekonstruksi seperti différance, trace, dan aporia, puisi-puisi Sulaiman Djaya tidak menghancurkan agama, melainkan membebaskannya dari belenggu dogmatisme yang kaku, logosentrisme yang opresif, dan formalisme yang dangkal. Ia mengembalikan religiusitas ke khitah dasarnya yang paling murni: sebuah petualangan spiritual yang intim, penuh rahasia, guncangan, dan kerendahan hati di hadapan misteri semesta yang tak terhingga. Karya-karya Sulaiman Djaya membuktikan bahwa puisi adalah salah satu ruang terbaik di mana iman dapat diinterogasi sekaligus dirayakan dengan tingkat kejujuran yang paling tinggi. Wasalam!
Ahmad Supena, Kajur PBI FKIP Untirta

























