JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Jam’iyyah Dizikir dan Ta’lim Ismul Haq Nahdlatul Ulama (JIHNU) menyampaikan ucapan selamat sekaligus doa untuk kesuksesan pelaksanaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). JIHNU berharap forum permusyawaratan tertinggi NU tersebut dapat berjalan tertib, khidmat, sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), serta menghasilkan keputusan yang membawa kemaslahatan bagi umat.
Selain memberikan dukungan terhadap Muktamar Ke-35 NU, JIHNU juga menegaskan komitmennya dalam melestarikan tradisi keilmuan dan amaliyah para kiai sepuh NU, khususnya dzikir dan wirid yang memiliki sanad keilmuan yang jelas.
Komitmen tersebut, menurut KH M Bahrul Ulum Mujiz JIHNU, merupakan bagian dari amanah yang diterima sejak proses baiat dan memperoleh Surat Keputusan (SK) dari Lembaga Dakwah PBNU pimpinan KH Agus Salim HS pada 2002. Amanah itu adalah mengenalkan, menghidupkan, dan meneruskan berbagai amalan dzikir serta wirid peninggalan para kiai NU yang bersanad kepada generasi berikutnya.
“Sejak baiat dan mendapatkan SK dari PBNU pada 2002, kami mendapat amanah untuk mengenalkan dan menghidupkan dzikir serta wirid tinggalan kiai-kiai NU yang bersanad kepada generasi selanjutnya. Harapannya, amaliyah tersebut terus diamalkan dan tidak sampai punah,” ujar Kiai Bahrul kepada Liputan9news, Selasa (25/08/2026).
Kiai Bahrul mengatakan, perhatian terhadap generasi muda menjadi sangat penting. Perubahan zaman membuat sebagian generasi muda, khususnya mereka yang tidak tumbuh di lingkungan pesantren, hanya mengenal tradisi dzikir dan wirid melalui cerita. Bahkan, tidak sedikit yang belum memahami tujuan dan landasan amaliyah tersebut sehingga mudah terpengaruh oleh pandangan yang menyebut sebagian tradisi dzikir dan wirid sebagai bid’ah tanpa memahami sanad, sejarah, dan konteks keilmuannya.
Karena itu, JIHNU menargetkan agar generasi muda tidak sekadar mengetahui praktik dzikir dan wirid, tetapi juga memahami tujuan, mengetahui sanad keilmuannya, serta mampu mengamalkannya dengan benar.
JIHNU menurut Kiai Bahrul berpandangan bahwa perjalanan para kiai NU sejak masa awal berdirinya Nahdlatul Ulama tidak dapat dilepaskan dari tradisi riyadhah, doa, dzikir, dan wirid. Berbagai amaliyah tersebut menjadi bagian dari ikhtiar batin para ulama dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon ridha-Nya, serta menjaga keberkahan perjuangan dalam membangun umat.
“Para kiai sepuh NU sejak berdirinya NU tidak lepas dari riyadhah dan amalan dzikir dan wirid. Semua itu dilakukan dengan mengharap ridha Allah SWT. Karena itu, amaliyah peninggalan para kiai sepuh perlu dijaga agar tidak hilang di tengah perubahan zaman,” lanjutnya.
Terkait pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU, JIHNU berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung dalam suasana penuh keteduhan, persaudaraan, dan keberkahan.
Kiai Bahrul mengungkapkan, JIHNU juga mengajak seluruh elemen NU untuk mengedepankan hati yang jernih, menghindari kepentingan yang dapat memecah persatuan, serta mengutamakan kemaslahatan jam’iyyah dan umat.
Melalui amaliyah dzikir dan wirid, JIHNU berharap Muktamar Ke-35 NU senantiasa mendapatkan petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT.
“Semoga dengan amaliah dzikir dan wirid, Muktamar Ke-35 NU dapat berjalan sesuai AD/ART dan sesuai dengan kehendak umat. Apabila dalam prosesnya terdapat sesuatu yang tidak sesuai dengan hati para muktamirin, semoga melalui dzikir dan doa Allah SWT memberikan petunjuk, kejernihan hati, serta jalan terbaik,” ungkapnya.
Ia meyakini bahwa keberhasilan Muktamar bukan semata-mata ditentukan oleh proses lahiriah, tetapi juga membutuhkan ikhtiar batin, doa, tawakal, dan ketulusan para peserta dalam mengambil keputusan.
Karena itu, JIHNU mengajak seluruh warga NU, khususnya para muktamirin, untuk menjadikan Muktamar Ke-35 sebagai momentum memperkuat ukhuwah, menjaga tradisi ulama, merawat sanad keilmuan, serta menghadirkan kepemimpinan NU yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar tradisi dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
“Selamat dan sukses Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama. Semoga Allah SWT memberikan kelancaran, keselamatan, kejernihan hati, serta petunjuk kepada seluruh muktamirin. Semoga hasil Muktamar membawa keberkahan, kemajuan, dan kemaslahatan bagi NU, bangsa, negara, dan seluruh umat,” pungkasnya.

























