JOMBANG | LIPUTAN9NEWS
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, tak melulu tentang persidangan dan pertarungan gagasan. Di tengah padatnya agenda Muktamar, perhatian terhadap kondisi psikologis peserta juga ikut menjadi bagian dari denyut perhelatan lima tahunan NU.
Relawan Psikologi Santri hadir memberikan layanan konsultasi psikologi secara gratis bagi peserta Muktamar maupun masyarakat yang membutuhkan.
Layanan tersebut dipusatkan di Pondok Pesantren An-Najiyah 1 Bahrul Ulum dan berlangsung pada 28-30 Agustus 2026.
Ketua rombongan Relawan Psikologi Santri, Muhammad Lutfi Ashari, mengatakan timnya menyediakan sejumlah layanan konsultasi untuk membantu peserta mengenali kondisi psikologis sekaligus memahami potensi dirinya.
“Kami menyediakan konsultasi psikologi seperti melihat kadar bahagia dan stresnya seseorang, konsultasi untuk investasi kenali diri,” ujar Lutfi.
Dari Tes Kesiapan Sekolah hingga Pra-Nikah
Program yang ditawarkan terbilang cukup lengkap. Tidak hanya konsultasi terkait stres dan kebahagiaan, relawan juga menyediakan layanan “Investasi Kenali Diri” yang disesuaikan dengan jenjang usia.
Untuk anak TK tersedia tes kesiapan sekolah. Sementara anak SD dapat mengikuti tes IQ dan kesiapan.
Bagi pelajar SMP, tersedia tes IQ serta bakat dan minat. Sedangkan siswa SMA dapat mengikuti tes bakat-minat yang diarahkan untuk membantu mengenali pilihan jurusan.
Sementara bagi masyarakat umum, layanan mencakup tes IQ, kepribadian, hingga tes pranikah.
Yang membuat layanan ini semakin menarik, seluruh konsultasi tersebut diberikan tanpa pungutan biaya alias gratis.
“Semua konsultasi yang telah disebutkan tidak ada pungutan bayar, alias gratis,” tegas Lutfi, mahasiswa Psikologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Pesan untuk Pesantren: Jangan Abaikan Psikologi Santri
Kehadiran Relawan Psikologi Santri di arena Muktamar juga membawa pesan yang lebih besar.
Lutfi menilai sudah saatnya pondok pesantren mulai melibatkan tenaga atau tim psikologi secara lebih serius dalam mendukung proses pendidikan dan pembelajaran.
Menurutnya, lingkungan pesantren juga menghadapi persoalan psikologis yang membutuhkan pendampingan profesional. Santri tidak hanya membutuhkan pendidikan agama dan akademik, tetapi juga ruang untuk mendapatkan bantuan ketika menghadapi persoalan psikologis.
Pelibatan tim psikologi di lingkungan pesantren diharapkan dapat membantu santri yang membutuhkan pendampingan sehingga persoalan yang mereka hadapi tidak dibiarkan berlarut-larut.
Psikologi Diharap Masuk Bahstul Masail NU
Lutfi bahkan berharap isu psikologi dapat menjadi salah satu perhatian dalam forum Bahtsul Masail NU pada kesempatan mendatang.
Menurutnya, kebutuhan terhadap pendampingan psikologi semakin besar di tengah kompleksitas persoalan masyarakat.
“Hari ini banyak orang-orang yang memerlukan pendamping psikologi, sehingga kami perlu legalitas di taraf bidang agama untuk mengokohkan keberadaan tim psikologi,” ungkapnya.
Harapan tersebut membuka ruang diskusi baru: bagaimana ilmu psikologi dapat ditempatkan secara proporsional dalam ekosistem pendidikan pesantren dan kehidupan keagamaan masyarakat.
Muktamar ke-35 NU akhirnya tidak hanya menghadirkan perdebatan tentang arah organisasi dan persoalan fikih kontemporer. Di sela-sela hiruk-pikuk Tambakberas, muncul pula pesan bahwa persoalan manusia tidak cukup hanya diselesaikan dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga membutuhkan perhatian terhadap kondisi psikologisnya.
Di arena Muktamar, para ulama membahas masa depan umat. Di sudut lain, para relawan psikologi membantu peserta mengenali dirinya sendiri.
(YZP)

























