JOMBANG | LIPUTAN9NEWS
Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) telah melahirkan kepemimpinan baru. KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) dipercaya sebagai Ketua Umum PBNU, berdampingan dengan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam untuk masa khidmah 2026–2031.
Suksesi tersebut mendapat respons positif dari Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB), organisasi kebhinekaan lintas agama, budaya, dan tradisi yang bermarkas di Jombang.
Ketua Umum PNIB, AR Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal, menyampaikan rasa syukur atas berakhirnya proses pergantian kepemimpinan di tubuh organisasi yang memiliki basis massa besar tersebut.
“Alhamdulillah, wa syukurillah. PBNU memiliki nahkoda baru yang Insya Allah Istiqomah mengarahkan kapal besar Nahdatul Ulama melintasi samudra zaman,” ujar Gus Wal melalui sambungan telepon.
Gus Wal berharap kepemimpinan baru PBNU dapat menjadi momentum memperkuat kembali tradisi kultural pesantren yang menurutnya sempat mengalami gesekan akibat dinamika politik.
PNIB juga mengingatkan pentingnya menjaga sejarah dan jasa para ulama melalui semangat JAS-MERAH dan JAS-HIJAU.
“Mengembalikan tradisi Islam Nusantara yang toleran pada akar budaya bangsa kami harap menjadi agenda utama pimpinan PBNU bersama Nakhoda Baru Gus Kikin. Kembali ke khitah dengan semangat memegang teguh JAS-MERAH dan JAS-HIJAU,” imbuhnya.
Menurut Gus Wal, tantangan NU ke depan tidak semakin ringan. Karena itu, ia mengingatkan kembali pesan KH Abdul Wahab Chasbullah agar kader NU mengedepankan keikhlasan dalam berorganisasi.
“Hidupilah NU, jangan mencari hidup di NU adalah nasihat dari salah satu pendiri NU, KH. Abdul Wahab Chasbullah yang menekankan pentingnya keikhlasan dalam berorganisasi,” jelasnya.
PNIB menyatakan menghormati hasil Muktamar ke-35 NU dan mendukung kepengurusan baru sebagai hasil keputusan organisasi melalui mekanisme AHWA.
Gus Wal berharap seluruh Nahdliyin dapat menerima, menghormati, menaati, dan menjalankan keputusan Muktamar.
“Bukan selamat bekerja, tapi selamat berjuang dan berkhidmat kami ucapkan untuk kepengurusan PBNU 2026-2031,” tegasnya.
Ia menutup pernyataannya dengan pesan agar kepemimpinan baru tetap mengutamakan kepentingan umat sekaligus menjaga NU dari berbagai ancaman yang dapat mengganggu persatuan bangsa.
“Kejayaan Islam tradisional ada di tangan orang-orang yang Istiqomah yang 90 persen memikirkan umat dan 10 persen untuk keluarga. Tetap waspada akan bahaya laten intoleransi, radikalisme, terorisme dan infiltrasi asing,” pungkasnya.

























