JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Buku NU Abad Kedua: Merawat Akar, Menjemput Masa Depan karya KH. Imam Jazuli, Lc., MA, adalah sebuah kegelisahan yang dituangkan menjadi otokritik. Buku ini tidak hendak membanggakan kebesaran NU, tetapi justru mengajak NU bercermin: apakah kebesaran sejarah telah berbanding lurus dengan kualitas organisasi dan kemaslahatan yang dirasakan warga? Penulis sendiri menempatkan kritik sebagai bentuk kecintaan yang bertanggung jawab, bukan sebagai ketidaksetiaan.
Gagasan itu kemudian dibentangkan dalam berbagai persoalan: tata kelola organisasi, pesantren, nalar warga, ekologi, kampus, moderasi beragama, kedaulatan data, dakwah digital, relasi NU-PKB, kesehatan, diplomasi global, ekonomi Nahdliyin, hingga persoalan nasab.
Salah satu kekuatan buku ini adalah keberaniannya menyentuh persoalan yang sering dianggap sensitif. Tata kelola NU, misalnya, dikritik karena masih terdapat kecenderungan patronase, kedekatan dengan figur, bahkan nasab, yang kadang lebih menentukan daripada kompetensi dan rekam jejak pengabdian. Kritik semacam ini penting karena organisasi sebesar NU tidak cukup hanya memiliki massa yang besar. Ia membutuhkan sistem yang mampu mengubah jumlah menjadi kekuatan sosial yang produktif.
Kritik terhadap nasab bahkan menjadi salah satu bagian paling tajam. Penulis mengajak Nahdliyin meninggalkan mentalitas “berebut nasab” menuju perjuangan “memperbaiki nasib”. Kebanggaan terhadap garis keturunan tidak boleh menggantikan karya, pendidikan, kompetensi dan pengabdian.
Namun, di sinilah buku juga perlu dikritik. Persoalan NU sesungguhnya tidak berhenti pada nasab atau profesionalisme. Nasab hanyalah salah satu bentuk legitimasi dalam kultur patronase. Masih ada senioritas, kedekatan dengan tokoh, jaringan pesantren, jabatan dan akses terhadap sumber daya. Karena itu, perubahan NU tidak cukup dengan digitalisasi dan profesionalisasi. Yang lebih sulit adalah mengubah cara kekuasaan bekerja di dalam organisasi.
Hal yang sama terlihat dalam pembahasan NU dan PKB. Buku menginginkan hubungan yang harmonis dan melihat PKB sebagai wadah aspirasi politik warga Nahdliyin. Gagasan ini menarik, tetapi menyisakan pertanyaan: bagaimana menjaga NU agar tidak terseret menjadi alat kepentingan partai? NU harus mampu berdialog dengan politik tanpa kehilangan independensinya. Warga NU juga harus tetap memiliki kebebasan politik. Yang semestinya dipersatukan bukan pilihan partainya, melainkan nilai, etika dan kepentingan kemanusiaannya.
Kelemahan lain buku ini adalah sebagian besar kritiknya masih berada pada tingkat esai dan gagasan. Padahal buku juga mengajak NU meninggalkan budaya klaim dan memasuki era kedaulatan data. Karena itu, kritik terhadap NU akan semakin kuat jika dilengkapi data empiris yang menunjukkan seberapa besar problem kemiskinan, pendidikan, ekonomi, tata kelola dan kesenjangan digital yang sedang dihadapi warga Nahdliyin.
Meski demikian, buku ini mempunyai satu pesan yang sangat penting: NU tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu. Tradisi harus dirawat, tetapi masa depan harus dijemput dengan keberanian melakukan perubahan. Penulis bahkan mengingatkan bahwa prinsip menjaga tradisi lama yang baik harus berjalan bersama pengambilan hal baru yang lebih baik.
Pada akhirnya, persoalan NU abad kedua bukan sekadar bagaimana menjadi lebih modern. Persoalannya adalah bagaimana menjadi lebih bermutu tanpa kehilangan akar.
NU tidak membutuhkan sekadar lebih banyak struktur, lebih banyak acara, lebih banyak jabatan, atau lebih banyak klaim tentang kebesaran.
NU membutuhkan lebih banyak keberanian untuk bercermin. Sebab organisasi yang besar tetapi takut mengoreksi dirinya akan perlahan-lahan hidup hanya dari masa lalu. Dan organisasi yang terlalu sibuk menjaga kebesaran sejarahnya bisa lupa bertanya apakah hari ini ia masih benar-benar hadir bagi umat.
Maka pertanyaan paling penting dari buku ini bukan sekadar “ke mana NU akan pergi?”, melainkan:
“NU seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi setelah kita?”
Sebab abad kedua tidak akan ditentukan oleh siapa yang paling pandai berbicara tentang kejayaan NU, tetapi oleh siapa yang berani mengurangi ego, membenahi kekuasaan, menguatkan ilmu, memperbaiki tata kelola, dan mengembalikan NU kepada tugas paling mendasarnya: berkhidmah kepada umat.
Merawat akar memang penting. Tetapi akar yang hanya dirawat tanpa menumbuhkan pohon yang lebih rindang, pada akhirnya hanya menjadi kenangan.
KH. Taufik Damas, Lc. MA., Aktiivis Muda NU & Katib Syuriah PWNU DKI Jakarta.

























