SERANG BANTEN | LIPUTAN9NEWS
Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Imam Jazuli menggelar Ijazah Kubro Dalailul Khairat angkatan ke-25 di Aston Hotel Serang, Banten, Ahad (18/10/2026) lalu. Kegiatan ini diikuti lebih dari 680 peserta, terdiri atas pengasuh pesantren rintisan dan pimpinan lembaga pendidikan.
Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya yang rutin digelar di Cirebon, kali ini ijazah kubro tersebut dilaksanakan di Banten. Pengijazahan wirid dan tirakat Dalailul Khairat telah berlangsung lebih dari 10 tahun, dengan jumlah peserta mencapai lebih dari 62.000 orang dari seluruh Nusantara melalui kegiatan tatap muka.
Semula, kegiatan ini diperuntukkan bagi civitas akademika dan wali santri Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon. Namun, tingginya permintaan masyarakat membuat pengijazahan tersebut dibuka untuk umum.
Sebelum prosesi dimulai, KH Imam Jazuli yang juga pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) menjelaskan bahwa wirid dan tirakat Dalailul Khairat merupakan jalur langit bagi seorang hamba untuk mengetuk pintu pertolongan Allah SWT.
Menurutnya, perjuangan membutuhkan ikhtiar nyata sekaligus doa. Seorang mukmin harus menempuh jalur bumi dan jalur langit dalam menghadapi berbagai persoalan.
“Manusia diperintahkan untuk berjihad dengan segala kreatifitasnya tetapi juga harus punya ruang untuk meminta pertolongan kepada Allah atas apa yang di luar kemampuan dan kontrolnya,” pesan Kiai Imam Jazuli dalam keterangan yang diterima Liputan9.id, Selasa (27/10/2026).
Ia menambahkan, amalan Dalailul Khairat penting dijadikan sarana spiritual untuk memohon pertolongan Allah bagi bangsa Indonesia yang tengah menghadapi berbagai musibah.
“Hari ini Indonesia sedang dilanda banyak musibah, terutama kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan banyak penderitaan. Karena itu Dalailul Khairat perlu dijadikan senjata untuk mendapatkan solusi dari jalur langit bagi bangsa Indonesia,” terangnya.
KH Imam Jazuli juga menekankan pentingnya wirid dan tirakat bagi mereka yang memiliki cita-cita besar, terutama para kiai yang sedang merintis pesantren.
Dalailul Khairat merupakan kitab berisi shalawat dan doa-doa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Ketika kita mendekati Allah, maka Allah juga semakin dekat. Ketika kita mencintai Allah, maka Dia pun lebih mencintai kita. Ketika Allah SWT sudah mencintai kita, maka pertolongan-Nya pun sangat mudah kita dapatkan,” jelas Kiai Imam Jazuli sebelum prosesi pelaksanaan.
Dalam kesempatan itu, KH Imam Jazuli juga menceritakan pengalaman spiritualnya saat merintis Pesantren Bina Insan Mulia, terutama dalam proses pembebasan tanah yang menurutnya sulit dilakukan secara logika.
Ia menggambarkan lokasi pesantren yang tidak strategis karena berada di perkampungan, dengan akses jalan kecil dan sebagian rusak.
“Saya mulai dari nol dengan belasan santri. Tidak terbayang kalau hari ini Bina Insan Mulia bisa memiliki tanah seluas 100 hektar, santrinya 5000 lebih dan telah didatangi ribuan tamu dari dalam dan luar negeri. Itulah sekilas mengenai karomah Dalailul Kharirat,” ungkapnya.
Bagi Pesantren Bina Insan Mulia, Dalailul Khairat menjadi kurikulum spiritual yang dijalankan para santri dan guru. Wirid dilaksanakan secara rutin setiap pekan, sementara sejumlah santri menjalani puasa Dalailul Khairat selama satu, dua, hingga tiga tahun.
Di sisi lain, pesantren tersebut berkomitmen menjaga karakteristik pesantren salaf sekaligus berinovasi dengan menekankan pentingnya sains dan teknologi dalam pembelajaran.
Sebelum mengikuti prosesi ijazah, seluruh peserta diwajibkan mempelajari materi melalui video yang disediakan panitia.
Materi tersebut menjelaskan kisah Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Sulaiman bin Abu Bakar al-Jazuli, penulis kitab Dalailul Khairat, termasuk kisah karomah seorang anak kecil yang mampu menghadirkan air dari sumur yang telah kering untuk berwudhu.
Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai dasar-dasar hadis Rasulullah SAW serta tradisi orang-orang saleh dalam mengamalkan wirid dan tirakat Dalailul Khairat.
KH Imam Jazuli menginginkan agar setiap peserta memahami amalan yang akan dijalankan, bukan sekadar mengikuti prosesi pengijazahan.
“Dalam Islam, ilmu adalah imamul amal,” jelasnya.
Materi video juga mengulas penyebaran Dalailul Khairat di Nusantara sejak zaman penjajahan, yang kemudian dilestarikan para kiai. Amalan tersebut turut dikaitkan dengan penguatan keberanian hati para pejuang dalam melawan penjajahan Belanda.
Seluruh kebutuhan kegiatan Ijazah Kubro Dalailul Khairat, baik yang digelar di Cirebon maupun di kota-kota lain, ditanggung melalui kontribusi Imam Jazuli Foundation (IJF) untuk masyarakat Indonesia.
Panitia menyediakan akomodasi, konsumsi, dan transportasi bagi peserta. Selain itu, tersedia pula hadiah berupa paket umrah dan kesempatan menginap di hotel Aston di seluruh Indonesia.


























