CIREBON | LIPUTAN9NEWS
Sekitar 700 peserta dari Jawa Barat mengikuti Workshop Nasional Bu Nyai Nusantara bertema “Edukasi Seks, Kesehatan Mental, dan Keharmonisan Rumah Tangga” di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Cirebon, Minggu (13/09/2026).
Workshop yang berlangsung pukul 07.30–12.00 WIB itu membahas persoalan yang selama ini kerap dianggap tabu: relasi suami istri, kesehatan mental, komunikasi pasangan, dan edukasi seksual dalam rumah tangga pengasuh pesantren.
Ketua Panitia Ubaydillah Anwar mengatakan kegiatan tersebut ditargetkan dapat menjangkau sekitar 5.000 peserta dari berbagai daerah melalui penyelenggaraan di sejumlah kota.
Menurut Ubaydillah, seluruh pembiayaan kegiatan, termasuk rencana workshop lanjutan di kota-kota yang memiliki jaringan Hotel Aston, berasal dari kegiatan amal Imam Jazuli Foundation.
Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli, mengatakan gagasan workshop muncul dari berbagai persoalan rumah tangga yang ia dengar dalam kegiatan open house setiap Jumat.
Imam mengaku kerap menerima keluhan pasangan suami istri dari kalangan pengasuh pesantren mengenai persoalan keharmonisan keluarga yang kemudian berdampak terhadap aktivitas mereka di pesantren.
“Dalam beberapa kesempatan, saya menerima keluhan dan pengaduan terkait keharmonisan hubungan mereka yang kemudian berdampak pada kelangsungan pesantren,” ujar Imam dalam rilis yang diterima Kompas.com, Selasa (15/9/2026).
Ia menyebut persoalan tersebut dalam sejumlah kasus berkembang menjadi konflik pasangan, pisah ranjang, hingga perceraian.
Imam juga menyinggung kasus pelecehan seksual yang pernah melibatkan oknum pengasuh pesantren, panti asuhan, maupun majelis taklim. Menurut dia, persoalan tersebut perlu dilihat secara lebih luas, termasuk kondisi rumah tangga dan relasi pasangan.
“Setelah saya telaah, sumber masalahnya adalah hubungan rumah tangga yang tidak harmonis. Ketidakharmonisan memicu berbagai persoalan,” ujaranya.
Namun, Imam menegaskan workshop tersebut bukan forum untuk membahas teknik hubungan seksual secara sempit.
“Workshop ini bukan soal teknis hubungan seksual. Itu terlalu sempit. Hal yang lebih penting adalah memberikan pemahaman yang lebih utuh mengenai berbagai faktor yang menentukan kualitas hubungan suami istri, terutama komunikasi, kesehatan mental, dan edukasi seks,” terangnya.
Workshop menghadirkan dr Boyke Dian Nugraha sebagai pakar seksologi dan Hena Rustiana sebagai pakar kesehatan mental.
Boyke menekankan pentingnya edukasi seksual bagi pasangan suami istri agar pemahaman tentang tubuh dan relasi tidak dibangun berdasarkan mitos atau miskonsepsi.
Menurut Boyke, edukasi tersebut mencakup fungsi seksual, perubahan hormonal, kesuburan, hingga variasi respons seksual.
Namun, ia menegaskan edukasi seksual dalam perkawinan tidak berhenti pada aspek biologis. Pasangan juga perlu mampu membicarakan kebutuhan, kenyamanan, preferensi, kekhawatiran, serta batasan secara terbuka.
“Bagi para suami dan istri, hal itu menjadi semakin penting karena kehidupan keluarga berjalan beriringan dengan tanggung jawab mereka mendidik santri, membangun lembaga, berdakwah, dan melayani masyarakat,” ujar Boyke.
Sementara itu, Hena Rustiana menyoroti hubungan antara kondisi psikologis dan kualitas relasi pasangan.
Menurut Hena, kehidupan seksual yang sehat tidak hanya dipengaruhi kondisi fisik, tetapi juga ketenangan pikiran, kemampuan mengelola emosi, serta rasa aman secara psikologis.
Stres, konflik, kecemasan, kelelahan emosional, rendahnya rasa aman, dan buruknya komunikasi dapat memengaruhi kualitas hubungan suami istri.
“Komunikasi yang baik dapat memperkuat keintiman emosional sekaligus membuat pasangan merasa dihargai, diterima, dan terhubung,” urai Hena Rustiana, Psikolog UIN Syarif Hidatullah Jakarta itu.
Ia mengatakan kemampuan pasangan untuk menyampaikan kebutuhan, kekhawatiran, kenyamanan, dan batasan tanpa takut dihakimi dapat membantu mengurangi kecemasan dalam hubungan.
Melalui workshop ini, penyelenggara ingin membahas rumah tangga secara lebih utuh dengan melihat keterkaitan kesehatan fisik, mental, emosi, komunikasi, dan relasi pasangan.
Bagi keluarga pengasuh pesantren, keharmonisan rumah tangga dinilai penting karena kehidupan keluarga berjalan bersamaan dengan tanggung jawab mendidik santri, mengembangkan pesantren, berdakwah, dan melayani masyarakat.












Kesehatan Mental Tak Bisa Dipisahkan













