CIREBON | LIPUTAN9NEWS
Zaman berubah, cara masyarakat menerima pesan agama ikut berubah. Di tengah derasnya teknologi dan kecerdasan buatan (AI), dakwah tidak lagi cukup dengan ceramah dan penyampaian teks agama.
Masyarakat kini mulai bertanya lebih jauh: apa manfaat dakwah dan solusi konkret apa yang bisa diberikan untuk menjawab persoalan kehidupan mereka?
Pesan itu disampaikan Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli, dalam Workshop Nasional Dai Transformatif di Tengah Perubahan Disruptif di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Ahad (21/09/2026).
Di hadapan 700 dai yang telah lolos seleksi, Imam Jazuli menegaskan bahwa dai masa kini dituntut mampu membaca perubahan, memahami problem umat, mengubah pengetahuan menjadi tindakan, serta menggerakkan masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.
“Artinya, para dai harus aktual dan kontekstual,” tegasnya.
Menurut Imam Jazuli, transformasi dakwah tidak bisa ditunda. Setidaknya ada tiga wilayah yang harus mendapat perhatian: metode, materi, dan media.
“Jangan sampai metodenya monolog, materinya tidak mempedulikan kebutuhan masyarakat, dan media yang digunakan sama seperti dulu. Lambat laun perubahan akan meninggalkan,” ujarnya.
Imam Jazuli juga menyoroti munculnya fenomena ustaz instan dan ustaz buatan AI yang menjadi tantangan baru dunia dakwah.
Menurutnya, perkembangan tersebut tidak cukup hanya dikritisi. Para dai harus masuk dan menawarkan solusi.
“Para dai harus proaktif ikut memberi solusi terhadap fenomena ini,” paparnya.
Ia mengingatkan bahwa dakwah harus bergerak mengikuti perkembangan masyarakat. Karena itu, dai tidak boleh terjebak pada pola lama ketika perilaku, kebutuhan, dan cara masyarakat mendapatkan informasi sudah berubah drastis.
Dakwah yang tidak membaca perubahan berisiko kehilangan umat yang hendak dijangkaunya.
Workshop tersebut merupakan bagian dari program Imam Jazuli Foundation untuk meningkatkan kapasitas dai dan pesantren.
Panitia menargetkan menyeleksi 5.000 dai dari seluruh Indonesia untuk mengikuti workshop berseri. Jawa Barat menjadi tahap awal.
“Dari 1.500 pendaftar, kami seleksi menjadi 700 orang,” jelas Ubaydillah Anwar.
Ia juga menegaskan pembiayaan kegiatan tersebut sepenuhnya ditanggung Imam Jazuli Foundation.
“Bukan sumbangan dari Saudi, IMF, konsesi tambang, partai atau pemerintah,” tegasnya, disambut tepuk tangan peserta.
Ketua Umum MUI Pusat KH Anwar Iskandar mengingatkan para dai agar tidak takut melakukan perubahan dalam metode dakwah.
“Karena manusia berubah, maka pendekatan dakwah pun harus berubah,” pesannya.
Menurutnya, perubahan pendekatan tidak berarti mengubah prinsip dasar agama. Urusan yang bersifat pokok atau ushuliyah tetap harus dipertahankan.
Kiai Anwar juga menekankan pentingnya kolaborasi. Tantangan dakwah saat ini, menurutnya, tidak bisa selalu diselesaikan secara sendiri-sendiri.
“Ulama dan umara harus bersatu, tidak saling menafikan peran. Ada urusan yang hanya bisa ditangani oleh ulama dan ada urusan yang hanya bisa ditangani oleh umara dan ada urusan yang harus ditangani bersama,” tegasnya.
Pakar branding dan bisnis digital Gus Irfan Wahid atau Gus Ipang membedah perubahan perilaku masyarakat di era media sosial.
Ia menggunakan analogi sederhana: dakwah di era digital seperti orang berbelanja di Shopee.
“Pesan dakwah adalah produk, dai adalah afiliator, rating adalah kepercayaan, ulasan adalah respons publik, dan beranda adalah algoritma,” jelasnya.
Karena itu, dai tidak cukup hanya menguasai kemampuan berbicara di depan publik. Mereka juga harus memahami bagaimana pesan dibingkai dan diterima masyarakat.
“Dulu, orang cukup dengan public speaking, sekarang ini tidak cukup, harus memahami public framing juga. Komunikasi melahirkan persepsi dan persepsi membentuk reputasi,” katanya.
Gus Ipang kemudian memberikan sejumlah contoh dan teknik pemanfaatan branding serta media sosial yang dapat diterapkan dalam kegiatan dakwah.
“Kita tidak akan kalah oleh AI, tetapi kita kalah oleh orang yang mengerti AI,” tegasnya.
Dai nasional Ustadz Yusuf Mansur membawa peserta pada sisi lain dakwah: pembenahan diri.
Ia mengajak para dai memperkuat tirakat dan melakukan evaluasi terhadap diri masing-masing.
“Saya tidak perlu menyebutkan apa yang harus kita benahi sebab kita tahu diri kita masing-masing,” pesannya.
Sementara itu, Ari Untung mendorong para dai menjadikan teknologi sebagai bagian dari strategi dakwah.
“Manusia sekarang pegang satu kitab yang namanya hape. Ini perlu kita jadikan senjata dalam dakwah,” ujarnya.
Menurutnya, media sosial membuat dakwah dapat menjangkau masyarakat kapan saja, dengan jangkauan yang luas dan biaya yang relatif rendah.
Workshop tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan dakwah hari ini bukan sekadar bagaimana menyampaikan pesan agama, tetapi bagaimana pesan itu menyentuh persoalan nyata masyarakat.
Di tengah perubahan teknologi, algoritma, dan kemunculan AI, para dai dituntut tidak hanya menjadi penyampai pesan, tetapi juga pembaca zaman, pemecah masalah, dan penggerak perubahan.
(Abd/MSn)












Ustaz Instan hingga Ustaz AI
Ari Untung: Hape Adalah Senjata Dakwah













