JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) mengusulkan 16 November ditetapkan sebagai Hari Toleransi Nasional. Usulan tersebut disampaikan Ketua Umum PNIB Abdur Rozaq Waluyo Wasis Nugroho (Gus Wal) pada Rabu (23/9/2026).
PNIB juga mendesak Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul), dan Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai untuk menginisiasi serta memperjuangkan usulan tersebut.
Dalam pernyataan PNIB, organisasi tersebut menyebut usulan Hari Toleransi Nasional berkaitan dengan keprihatinan mereka terhadap persoalan intoleransi, pelarangan ibadah, penolakan pendirian rumah ibadah, diskriminasi atas dasar agama dan keyakinan, serta penyebaran paham radikalisme dan terorisme.
Gus Wal menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya kebijakan yang menurutnya dapat memperkuat toleransi dan persatuan nasional.
“Indonesia sedang menghadapi darurat intoleransi yang berkelindan dengan berbagai persoalan multidimensi. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat menggerus persatuan bangsa,” tegas Gus Wal.
PNIB menyatakan secara khusus mendorong tiga kementerian untuk terlibat dalam memperjuangkan penetapan 16 November sebagai Hari Toleransi Nasional.
Ketiga pejabat yang disebut PNIB adalah Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, dan Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai.
Menurut Gus Wal, pertahanan negara tidak hanya berkaitan dengan kekuatan militer. Ia berpendapat persatuan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan bangsa.
“Pertahanan bangsa dimulai dari kokohnya persatuan rakyat. Tidak mungkin Indonesia kuat apabila masyarakat terus dipecah oleh intoleransi,” ujar Gus Wal.
Gus Wal juga mengaitkan usulan tersebut dengan kebebasan menjalankan ibadah yang menurutnya merupakan hak konstitusional warga negara.
Menurut Gus Wal, negara perlu memberikan perlindungan yang sama kepada seluruh warga negara tanpa membedakan agama, suku, ras maupun golongan.
Lebih lanjut, PNIB berharap penetapan 16 November dapat menjadi momentum nasional untuk memperkuat toleransi dan mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya menjaga keberagaman.
Gus Wal mengatakan, toleransi tidak seharusnya berhenti sebagai slogan, tetapi perlu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
“Toleransi bukan sekadar slogan, melainkan jatidiri dan karakter bangsa Indonesia serta pondasi utama kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” kata Gus Wal.
PNIB juga mengajak pemerintah dan masyarakat memperkuat toleransi serta mencegah berkembangnya intoleransi, radikalisme, anarkisme, dan terorisme.
Gus Wal menegaskan, semangat Bhinneka Tunggal Ika harus terus dijaga agar keberagaman tidak menjadi sumber perpecahan.
“Indonesia didirikan di atas semangat Bhinneka Tunggal Ika. Jangan sampai intoleransi terus berkembang hingga mengancam masa depan bangsa,” pungkas Gus Wal.
Dengan demikian, fakta utama dalam berita ini adalah adanya usulan PNIB dan dorongan kepada tiga kementerian. Sementara istilah “darurat intoleransi”, penilaian mengenai ancaman terhadap persatuan, serta argumentasi mengenai pentingnya Hari Toleransi Nasional merupakan pandangan yang disampaikan Gus Wal dan PNIB.

























