JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Gelombang kritik dan cacian di media sosial terhadap Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar, mendapat respons dari pengasuh pesantren, Mamang M. Haerudin atau yang akrab disapa Aa. Ia menilai reaksi sebagian warganet atas kesalahan pelafalan ayat Al-Qur’an dalam sebuah sambutan telah melampaui batas kewajaran.
Pengasuh Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Al-Insaaniyyah itu menegaskan bahwa kekeliruan seseorang tidak seharusnya menjadi alasan untuk melontarkan hinaan, apalagi mendesak seorang ulama mundur dari jabatannya hanya berdasarkan potongan peristiwa yang beredar.
Menurut Aa, Kiai Miftachul tetaplah manusia yang bisa mengalami kekeliruan dan lupa. Ia mengingatkan bahwa kritik terhadap seorang tokoh agama semestinya disampaikan dengan adab, bukan melalui sumpah serapah dan serangan personal.
“Sesalah-salahnya Rais Aam, apalagi sekadar kesalahan melafalkan beberapa kata dalam Al-Qur’an, dan itu pun tidak dalam posisi sedang khusyuk membaca Al-Qur’an, ia sedang kondisi menyampaikan sambutan, sangat tidak elok kalau sampai yang keluar dari warganet adalah sumpah-serapah, bukan kritik apalagi niat baik untuk mengingatkan,” ujar Aa dalam keterangan bertanggal Selasa (20/10/2026) pukul 01.21 WIB.
Selanjutnya, Aa mengaku pernah mengalami kesalahan melafalkan harakat ketika menyampaikan khotbah Jumat. Saat seorang jamaah mengetahui kekeliruan tersebut, ia mengaku langsung meminta maaf dan berterima kasih atas koreksi yang diberikan.
Pengalaman itu menjadi alasan baginya untuk mengajak masyarakat lebih bijak dalam menyikapi kesalahan orang lain, termasuk ulama yang telah berusia lanjut dan mengemban tanggung jawab besar.
Ia tidak bermaksud meniadakan pentingnya ketepatan membaca ayat Al-Qur’an. Namun, menurutnya, cara menyampaikan koreksi harus tetap mempertimbangkan konteks kejadian dan menjaga kehormatan orang yang dikritik.
Bagi Aa, mengingatkan seseorang atas kekeliruan merupakan hal yang wajar. Akan tetapi, mengubah kekeliruan menjadi bahan penghinaan terbuka merupakan persoalan berbeda.
Dalam keterangan itu juga, Aa menjelaskan bahwa dirinya pernah mengkritik sejumlah tokoh NU, termasuk KH Mustofa Bisri atau Gus Mus, KH Ma’ruf Amin, KH Miftachul Akhyar, hingga Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya ketika menjabat Ketua Umum PBNU.
Ia menyebut kritik yang disampaikannya berfokus pada pemikiran, kebijakan, dan sikap yang dinilai perlu dievaluasi, bukan pada kebencian terhadap pribadi tokoh yang bersangkutan.
“Saya pernah mengkritik Gus Mus dan Kiai Ma’ruf. Itu pun murni mengkritik pemikiran dan sikapnya, bukan atas dasar kebencian pada pribadinya. Demikian juga saya mengkritik Kiai Miftah, misalnya manakala PBNU ikut-ikutan dalam dukung-mendukung salah seorang Paslon Capres-cawapres tertentu. Tapi sekali lagi, kritik sangat berbeda dengan ujaran kebencian,” terangnya.
Ia juga menegaskan bahwa kritik terhadap Gus Yahya selama ini diarahkan pada kebijakan, pemikiran, dan sikap yang dinilainya bermasalah, bukan untuk menyerang kehidupan personal.
“Karena kritik harus berdasarkan fakta dan dengan adab. Kritik membangun, sedangkan cacian menjatuhkan,” tegas Aa.
Selain itu, Aa berpandangan bahwa gelombang serangan terhadap Kiai Miftachul tidak dapat dilepaskan dari dinamika yang berkembang di lingkungan NU, termasuk polemik nasab dan konflik internal PBNU antara Gus Yahya dengan jajaran Syuriyah.
Namun, pandangan tersebut merupakan penilaian Aa terhadap situasi yang berkembang. Ia tidak menyajikan bukti yang memastikan bahwa seluruh serangan warganet berhubungan langsung dengan konflik internal tersebut.
Ia membandingkan situasi saat ini dengan periode kepemimpinan KH Said Aqil Siroj, ketika menurut pengamatannya posisi Kiai Miftachul sebagai Rais Aam relatif kondusif. Aa menilai kondisi organisasi, gaya kepemimpinan, serta hubungan antarelemen NU turut memengaruhi suasana yang berkembang di ruang publik.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa perbedaan pandangan dan konflik organisasi tidak semestinya menjadi pembenaran untuk merendahkan martabat seorang ulama.
Kemdudian, Aa menyatakan akan terus membela Kiai Miftachul selama menjabat Rais Aam PBNU, terutama dari serangan personal yang dinilainya berlebihan.
Ia juga mengajak warga NU mengalihkan perhatian pada agenda dakwah dan pemberdayaan umat di tingkat akar rumput setelah Muktamar NU ke-35 selesai. Sementara itu, desas-desus mengenai dugaan risywah atau politik uang, menurutnya, perlu disikapi secara proporsional dan tidak dijadikan alasan untuk memperuncing konflik.
Untuk mengurangi potensi polemik serupa, Aa menyarankan agar Kiai Miftachul memperoleh dukungan lebih dalam mempersiapkan sambutan atau pernyataan di hadapan publik, termasuk menggunakan naskah yang telah disiapkan sebelumnya.
Ia bahkan mengusulkan agar untuk sementara waktu Kiai Miftachul tidak terlalu sering tampil dalam situasi publik yang rawan menimbulkan kontroversi, sementara Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin dapat lebih aktif menyampaikan pernyataan terkait kebijakan organisasi dan persoalan sosial keumatan.
Saran tersebut, menurut Aa, bukan dimaksudkan untuk merendahkan kemampuan Kiai Miftachul, melainkan sebagai upaya menjaga kehormatan Rais Aam sekaligus menghindari polemik yang tidak perlu.
Pada akhirnya, Aa mengajak masyarakat untuk tetap menjaga etika dalam menyampaikan pendapat, terlebih ketika menyangkut ulama dan kehidupan organisasi keagamaan.
Baginya, perbedaan pandangan merupakan bagian dari dinamika organisasi. Namun, kritik harus tetap berpijak pada fakta, disampaikan dengan tanggung jawab, dan tidak berubah menjadi penghinaan terhadap pribadi seseorang.
“Wallahu a’lam,” tutup Aa dalam keterangnnya.

























