• Latest
  • Trending
  • All
  • Politik
KH Miftachul Akhyar, Rais Aam PBNU

Mamang M Haerudin Pasang Badan Bela Rais Aam PBNU: Kritik Boleh, Hinaan Jangan!

October 20, 2026
Wakil Rais Aam PBNU KH Musthofa Aqil Siroj (tengah) dalam Rapat Koordinasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Hotel Trans Cibubur, Kota Depok, Jawa Barat, Jumat (23/10/2026). (Foto: NU Online/Suwitno)

Wakil Rais Aam PBNU Kiai Musthofa Aqil Siroj: NU Pikul Tanggung Jawab Bangsa

October 24, 2026
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar

Rais Aam PBNU Kiai Miftachul Akhyar: NU Harus Jadi Miniatur Islam yang Memuliakan Manusia

October 24, 2026
GUs Ipul

Gus Ipul Dukung KPK Usut Dugaan Politik Uang Muktamar NU

October 23, 2026
BEM PTNU DIY Salurkan 75.000 Liter Air Bersih di Gunungkidul

BEM PTNU DIY Salurkan 75.000 Liter Air Bersih di Gunungkidul

October 23, 2026
Kiai PCNU Kembalikan Rp40 Juta ke KPK, Diduga Terkait Pemilihan AHWA Muktamar NU

Kiai PCNU Kembalikan Rp40 Juta ke KPK, Diduga Terkait Pemilihan AHWA Muktamar NU

October 23, 2026
Hari Santri 2026: Kiai Imam Jazuli dan Wajah Baru Pesantren Transformatif

Hari Santri 2026: Kiai Imam Jazuli dan Wajah Baru Pesantren Transformatif

October 23, 2026
Implementasi Qanun Asasi dalam Gerakan Dakwah NU: Gus Kikin dan Wajah Nahdlatul Ulama Abad Kedua

Implementasi Qanun Asasi dalam Gerakan Dakwah NU: Gus Kikin dan Wajah Nahdlatul Ulama Abad Kedua

October 23, 2026
Peringati Hari Santri, BEM PTNU Salurkan 1 Juta Liter Air Bersih untuk Korban Karhutla dan kekeringan Ekstrem

Peringati Hari Santri, BEM PTNU Salurkan 1 Juta Liter Air Bersih untuk Korban Karhutla dan kekeringan Ekstrem

October 23, 2026
TGH Turmudzi Badaruddin (Tuan Guru Bagu) dan KH Syukron Makmun pada acara haul Syekh Abdul Qadir dan TGH Jailani dan TGH Moh Sholeh Hambali di Loteng, NTB, pada 14 Nopember 1992 (Foto: Ist./MSN)

Mengenang KH Syukron Makmun, Singa Podium dari Madura ke Tanah Betawi

October 22, 2026
Dari Resolusi Jihad Menuju Indonesia Emas, Semangat Santri Bergema di Pulau Tidung

Dari Resolusi Jihad Menuju Indonesia Emas, Semangat Santri Bergema di Pulau Tidung

October 22, 2026
  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang
Saturday, October 24, 2026
  • Login
Liputan9 Sembilan
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Wisata-Travel
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Olahraga
  • Dunia Islam
    • Al-Qur’an
    • Ngaji Kitab
    • Muallaf
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Filantropi
    • Seputar Haji
    • Amaliah NU
    • Tasawuf
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Sejarah
    • Buku
    • Pendidikan
    • Seni Budaya
No Result
View All Result
Liputan9 Sembilan
No Result
View All Result
Home Berita Nasional

Mamang M Haerudin Pasang Badan Bela Rais Aam PBNU: Kritik Boleh, Hinaan Jangan!

Pengasuh Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Al-Insaaniyyah mengecam cacian warganet terhadap KH Miftachul Akhyar menyusul polemik pelafalan ayat Al-Qur’an. Ia mengajak warga NU mengedepankan kritik beradab dan menjaga marwah ulama.

Moh. Faisal Asadi by Moh. Faisal Asadi
October 20, 2026
in Nasional
A A
0
KH Miftachul Akhyar, Rais Aam PBNU

KH Miftachul Akhyar, Rais Aam PBNU (Foto: Antara/MSN)

515
SHARES
1.5k
VIEWS

JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Gelombang kritik dan cacian di media sosial terhadap Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar, mendapat respons dari pengasuh pesantren, Mamang M. Haerudin atau yang akrab disapa Aa. Ia menilai reaksi sebagian warganet atas kesalahan pelafalan ayat Al-Qur’an dalam sebuah sambutan telah melampaui batas kewajaran.

Pengasuh Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Al-Insaaniyyah itu menegaskan bahwa kekeliruan seseorang tidak seharusnya menjadi alasan untuk melontarkan hinaan, apalagi mendesak seorang ulama mundur dari jabatannya hanya berdasarkan potongan peristiwa yang beredar.

Menurut Aa, Kiai Miftachul tetaplah manusia yang bisa mengalami kekeliruan dan lupa. Ia mengingatkan bahwa kritik terhadap seorang tokoh agama semestinya disampaikan dengan adab, bukan melalui sumpah serapah dan serangan personal.

“Sesalah-salahnya Rais Aam, apalagi sekadar kesalahan melafalkan beberapa kata dalam Al-Qur’an, dan itu pun tidak dalam posisi sedang khusyuk membaca Al-Qur’an, ia sedang kondisi menyampaikan sambutan, sangat tidak elok kalau sampai yang keluar dari warganet adalah sumpah-serapah, bukan kritik apalagi niat baik untuk mengingatkan,” ujar Aa dalam keterangan bertanggal Selasa (20/10/2026) pukul 01.21 WIB.

BeritaTerkait:

Rais Aam PBNU Kiai Miftachul Akhyar: NU Harus Jadi Miniatur Islam yang Memuliakan Manusia

5.000 Santri Shalat Istisqa, Kiai Imjaz Kobarkan Tajdid Ekologis

Gus Lilur Kritik Bacaan Al-Qur’an, Minta Rais Aam PBNU Mundur

Habib Umar bin Hafidz Kunjungi Kantor PBNU

Pernah Salah Melafalkan Ayat Saat Khotbah

Selanjutnya, Aa mengaku pernah mengalami kesalahan melafalkan harakat ketika menyampaikan khotbah Jumat. Saat seorang jamaah mengetahui kekeliruan tersebut, ia mengaku langsung meminta maaf dan berterima kasih atas koreksi yang diberikan.

Pengalaman itu menjadi alasan baginya untuk mengajak masyarakat lebih bijak dalam menyikapi kesalahan orang lain, termasuk ulama yang telah berusia lanjut dan mengemban tanggung jawab besar.

Ia tidak bermaksud meniadakan pentingnya ketepatan membaca ayat Al-Qur’an. Namun, menurutnya, cara menyampaikan koreksi harus tetap mempertimbangkan konteks kejadian dan menjaga kehormatan orang yang dikritik.

Bagi Aa, mengingatkan seseorang atas kekeliruan merupakan hal yang wajar. Akan tetapi, mengubah kekeliruan menjadi bahan penghinaan terbuka merupakan persoalan berbeda.

Tegaskan Batas Kritik dan Ujaran Kebencian

Dalam keterangan itu juga, Aa menjelaskan bahwa dirinya pernah mengkritik sejumlah tokoh NU, termasuk KH Mustofa Bisri atau Gus Mus, KH Ma’ruf Amin, KH Miftachul Akhyar, hingga Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya ketika menjabat Ketua Umum PBNU.

Ia menyebut kritik yang disampaikannya berfokus pada pemikiran, kebijakan, dan sikap yang dinilai perlu dievaluasi, bukan pada kebencian terhadap pribadi tokoh yang bersangkutan.

“Saya pernah mengkritik Gus Mus dan Kiai Ma’ruf. Itu pun murni mengkritik pemikiran dan sikapnya, bukan atas dasar kebencian pada pribadinya. Demikian juga saya mengkritik Kiai Miftah, misalnya manakala PBNU ikut-ikutan dalam dukung-mendukung salah seorang Paslon Capres-cawapres tertentu. Tapi sekali lagi, kritik sangat berbeda dengan ujaran kebencian,” terangnya.

Ia juga menegaskan bahwa kritik terhadap Gus Yahya selama ini diarahkan pada kebijakan, pemikiran, dan sikap yang dinilainya bermasalah, bukan untuk menyerang kehidupan personal.

“Karena kritik harus berdasarkan fakta dan dengan adab. Kritik membangun, sedangkan cacian menjatuhkan,” tegas Aa.

Soroti Polemik Internal NU

Selain itu, Aa berpandangan bahwa gelombang serangan terhadap Kiai Miftachul tidak dapat dilepaskan dari dinamika yang berkembang di lingkungan NU, termasuk polemik nasab dan konflik internal PBNU antara Gus Yahya dengan jajaran Syuriyah.

Namun, pandangan tersebut merupakan penilaian Aa terhadap situasi yang berkembang. Ia tidak menyajikan bukti yang memastikan bahwa seluruh serangan warganet berhubungan langsung dengan konflik internal tersebut.

Ia membandingkan situasi saat ini dengan periode kepemimpinan KH Said Aqil Siroj, ketika menurut pengamatannya posisi Kiai Miftachul sebagai Rais Aam relatif kondusif. Aa menilai kondisi organisasi, gaya kepemimpinan, serta hubungan antarelemen NU turut memengaruhi suasana yang berkembang di ruang publik.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa perbedaan pandangan dan konflik organisasi tidak semestinya menjadi pembenaran untuk merendahkan martabat seorang ulama.

Minta Marwah Rais Aam Dijaga

Kemdudian, Aa menyatakan akan terus membela Kiai Miftachul selama menjabat Rais Aam PBNU, terutama dari serangan personal yang dinilainya berlebihan.

Ia juga mengajak warga NU mengalihkan perhatian pada agenda dakwah dan pemberdayaan umat di tingkat akar rumput setelah Muktamar NU ke-35 selesai. Sementara itu, desas-desus mengenai dugaan risywah atau politik uang, menurutnya, perlu disikapi secara proporsional dan tidak dijadikan alasan untuk memperuncing konflik.

Untuk mengurangi potensi polemik serupa, Aa menyarankan agar Kiai Miftachul memperoleh dukungan lebih dalam mempersiapkan sambutan atau pernyataan di hadapan publik, termasuk menggunakan naskah yang telah disiapkan sebelumnya.

Ia bahkan mengusulkan agar untuk sementara waktu Kiai Miftachul tidak terlalu sering tampil dalam situasi publik yang rawan menimbulkan kontroversi, sementara Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin dapat lebih aktif menyampaikan pernyataan terkait kebijakan organisasi dan persoalan sosial keumatan.

Saran tersebut, menurut Aa, bukan dimaksudkan untuk merendahkan kemampuan Kiai Miftachul, melainkan sebagai upaya menjaga kehormatan Rais Aam sekaligus menghindari polemik yang tidak perlu.

Pada akhirnya, Aa mengajak masyarakat untuk tetap menjaga etika dalam menyampaikan pendapat, terlebih ketika menyangkut ulama dan kehidupan organisasi keagamaan.

Baginya, perbedaan pandangan merupakan bagian dari dinamika organisasi. Namun, kritik harus tetap berpijak pada fakta, disampaikan dengan tanggung jawab, dan tidak berubah menjadi penghinaan terhadap pribadi seseorang.

“Wallahu a’lam,” tutup Aa dalam keterangnnya.

(MFA/MSN)

Tags: KH Miftachul AkhyarMamang M Haerudin atau AaRais Aam PBNU
Share206Tweet129SendShare
Moh. Faisal Asadi

Moh. Faisal Asadi

Aktual, Faktual, Kompeten, Konsisten dan Terpercaya

BeritaTerkait

Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar
Nasional

Rais Aam PBNU Kiai Miftachul Akhyar: NU Harus Jadi Miniatur Islam yang Memuliakan Manusia

by liputan9news
October 24, 2026
0

Rais Aam PBNU Kiai Miftachul Akhyar: NU Harus Jadi Miniatur Islam yang Memuliakan Manusia

Read more
Kiai Imjaz Minta Para Kiai, Gus, Alumni Pesantren Hormati Lembaga Syuriyah dan Rais Aam

5.000 Santri Shalat Istisqa, Kiai Imjaz Kobarkan Tajdid Ekologis

October 20, 2026
KH Miftachul Akhyar

Gus Lilur Kritik Bacaan Al-Qur’an, Minta Rais Aam PBNU Mundur

October 19, 2026
Kunjungan Sayyidil Habib Umar bin Hafidz ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)

Habib Umar bin Hafidz Kunjungi Kantor PBNU

October 13, 2026
Load More

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Gus Yahya

PBNU Respon Rais Am JATMAN yang telah Demisioner dan Teken Sendirian Surat Perpanjangan Kepengurusan

November 26, 2024
Akhmad Said Asrori

Bentuk Badan Hukum Sendiri, PBNU: JATMAN Ingin Keluar Sebagai Banom NU

December 26, 2024
Jatman

Jatman Dibekukan Forum Mursyidin Indonesia (FMI) Dorong PBNU Segera Gelar Muktamar

November 22, 2024
Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

Al-Qur’an Surat Yasih Arab-Latin dan Terjemahnya

2632
KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

KBRI Tunis Gelar Forum Peningkatan Ekspor dan Investasi di Sousse, Tunisia

760
KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

KA Turangga vs KA Commuter Line Bandung Raya Tabrakan, Apa Penyebabnya?

143
Wakil Rais Aam PBNU KH Musthofa Aqil Siroj (tengah) dalam Rapat Koordinasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Hotel Trans Cibubur, Kota Depok, Jawa Barat, Jumat (23/10/2026). (Foto: NU Online/Suwitno)

Wakil Rais Aam PBNU Kiai Musthofa Aqil Siroj: NU Pikul Tanggung Jawab Bangsa

October 24, 2026
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar

Rais Aam PBNU Kiai Miftachul Akhyar: NU Harus Jadi Miniatur Islam yang Memuliakan Manusia

October 24, 2026
GUs Ipul

Gus Ipul Dukung KPK Usut Dugaan Politik Uang Muktamar NU

October 23, 2026
Logo Liputan9
Logo Liputan9.id

Tentang Kami

  • Iklan
  • Kontak
  • Legalitas
  • Media Sembilan Nusantara
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang

Alamat dan Kontak

Alamat: Jl. Antara No.12, RT 07/RW 01, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710
Telepon: (021) 3506766
WA : 081212711146

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
  • Media Sembilan Nusantara

Copyright © 2024 Liputan9news.

No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Artikel
    • Opini
    • Resensi
    • Download
  • Ekonomi
    • Wisata-Travel
    • Bisnis
    • Karir
    • UMKM
    • Lowongan Kerja
  • Politik
    • Pilkada
    • Pilpres
  • Kesehatan
  • Dunia Islam
    • Filantropi
    • Amaliah NU
    • Al-Qur’an
    • Tasawuf
    • Muallaf
    • Sejarah
    • Ngaji Kitab
    • Khutbah
    • Tanya-Jawab
    • Ramadan
    • Seputar Haji
    • Syiar Islam
  • Lainnya
    • Agenda
    • Pendidikan
    • Sejarah
    • Buku
    • Tokoh
    • Seni Budaya

Copyright © 2024 Liputan9news.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In