JAKARTA | LIPUTAN9NEWS
Innalillahi wa innailaihi Raji’un. Jagat raya, dunia Islam, dan warga Nahdliyin diselimuti kabut duka yang amat tebal. Mimbar-mimbar dakwah seketika hening, kehilangan getaran suara yang selama puluhan tahun menjadi pelita sekaligus penggerak jiwa. Telah berpulang ke rahmatullah, singa podium Nusantara, pejuang izzul Islam wal Muslimin, KH Syukron Makmun pada hari Ahad, 18 Oktober 2026 di usia 84 tahun.
Beliau mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Jakarta setelah berjuang melawan gangguan jantung. Wafatnya beliau bukan sekadar hilangnya raga seorang manusia, melainkan diangkatnya sebagian ilmu dari muka bumi. Kita semua merasakan ruang hampa yang ditinggalkan oleh sang ulama kharismatik.
Lahir di Sampang, Madura, pada 21 Desember 1941, Kiai Syukron Makmun tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kokoh dan berpengetahuan luas. Julukan “Sang Singa Podium” atau “Macan Podium” bukanlah gelar kosong tanpa makna. Siapa pun yang pernah duduk merapat di majelisnya pasti tahu betul bagaimana untaian untaian kalimat beliau mampu membakar semangat, menegakkan barisan, namun tetap sarat akan kedalaman ilmu, retorika berkelas, dan diksi yang elegan.
Kenangan manis itu begitu membekas bagi umat. Terutama di era 1980-an, ketika beliau kerap melangkahkan kaki memenuhi undangan para kiai di berbagai pelosok daerah. Bagi masyarakat dan para kiai di sana, kehadiran beliau selalu dinanti. Khotbah dan pidatonya laksana air jernih yang bergolak penuh energi di tengah padang gersang—nada bicaranya berapi-api, suaranya lantang melawan kejahatan dan kedzaliman, tetapi fondasi argumentasinya selalu tegak di atas ilmu.
Ketegasan Kiai Syukron dalam prinsip amar makruf nahi mungkar bernilai sangat mahal. Beliau tidak pernah gentar. Di tengah kepungan arus politik masa itu, ketika banyak orang memilih diam atau berkompromi demi kenyamanan, Kiai Syukron memilih bersuara dengan lantang dan lurus. Beliau berbicara demi kebenaran, tanpa peduli seberapa deras badai tekanan yang menerjang.
Perjalanan hidup Kiai Syukron Makmun adalah narasi panjang tentang khidmah yang tanpa batas bagi umat. Sebagai ulama senior, kontribusi beliau di jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU) telah menorehkan tinta emas sejarah. Kiprah dan prinsip keteguhannya senantiasa menjadi role model serta kompas keteladanan bagi generasi penerus di bawahnya.
Visi besar beliau untuk mencetak generasi tafaqquh fiddin yang tangguh diwujudkan secara nyata melalui jalur pendidikan dengan mendirikan Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta. Lembaga pendidikan Islam yang beliau asuh dengan penuh kasih sayang dan disiplin ini kini telah bertransformasi menjadi oase ilmu di tengah riuhnya metropolitan Jakarta.
Melalui rahim Daarul Rahman, ribuan alumni dan generasi santri telah lahir, tersebar ke seluruh pelosok Nusantara, membawa serta nilai-nilai Islam yang ramah sekaligus tegas dalam memegang prinsip dasar syariat.
Jangkauan dakwah beliau tidak pernah terkurung oleh batas wilayah Jakarta. Kiai Syukron mengarungi samudra dakwah ke Sumatera, Kalimantan, Maluku, hingga melintasi batas negara menuju kawasan ASEAN seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Beliau adalah aset dunia Islam yang tak tergantikan.
Di balik kegetiran duka atas wafatnya sang kiai sepuh, Allah SWT Yang Maha Pengasih tidak pernah membiarkan umat-Nya berjalan dalam gelap gulita tanpa penuntun. Allah telah mempersiapkan penerus yang lahir dari darah daging beliau sendiri, yaitu putra almarhum, KH Faiz Syukron Makmun (Gus Faiz).
Gus Faiz kini memikul amanah besar untuk melanjutkan estafet perjuangan sang ayah, baik dalam menakhodai Pondok Pesantren Daarul Rahman maupun berkhidmah di struktural jam’iyah Nahdlatul Ulama.
Di kancah organisasi, Gus Faiz yang juga menjabat sebagai Ketua Umum MUI DKI Jakarta dipercaya mengemban amanah besar sebagai Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bidang Agama.
Kehadiran Gus Faiz seolah menjadi penyejuk di tengah duka-nya hati umat yang kehilangan bapak spiritualnya. Kita teringat sebuah pesan mendalam yang dinukil oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin (1/7). Sayidina Ali berkata: “Jika seorang ulama meninggal, maka ada sesuatu yang bocor dalam Islam. Tidak ada yang sanggup menambalnya kecuali oleh penerusnya.”
“Kebocoran” itu memang ada hari ini, menyisakan kepedihan mendalam atas kepergian Sang Singa Podium. Namun, doa-doa kita mengiringi Gus Faiz dan segenap keluarga besar agar diberikan kekuatan, kesehatan, serta kelapangan hati untuk terus melanjutkan bangunan perjuangan yang telah dipancangkan oleh Kiai Syukron Makmun.
Semoga dari keturunan beliau kelak akan terus lahir ‘Kiai Syukron – Kiai Syukron’ baru yang tak kalah lantang membela agama dan bangsa.
Selamat jalan, Kiai tercinta. Singa Podium kami kini telah tenang beristirahat di haribaan-Nya. Engkau telah menyelesaikan tugas besarmu di dunia dengan begitu indah dan terhormat.
Semoga Allah SWT memberikan rahmat-Nya yang tak bertepi di alam Barzakh, mengampuni segala khilaf, menerima seluruh amal jariyah ilmu, serta menempatkanmu di tempat termulia bersama para nabi dan para syuhada. Lahu Al-Fatihah…!
KH. Imam Jazuli Lc, MA., Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA)- Rais Syuriyah PBNU

























